PENGERTIAN RANAH KAJIAN ANTROPOLOGI ADALAH – Filsuf sosial Hannah Arendt (1958; lihat juga Anderson, 1987) menunjukkan bahwa spesies manusia bukanlah sui generis dan juga tidak sepenuhnya tidak murni di kalangan bentuk-bentuk kehidupan di muka bumi: “Manusia meniru cara dunia memisahkan keberadaan manusia dari lingkungan hewan semata-mata, tetapi kehidupan itu sendiri berada di luar dari dunia tiruan ini, dan melalui kehidupan manusia tetap berhubungan dengan semua organisme hidup yang lain.”

Pandangan Arendt di atas merupakan salah satu yang irwndn.Sar dalam perspektif antropologi semenjak dibangunnya disiplin ini. “Peniruan manusia” (human artifice) berupa kebudayaan adalah meka-nisme adaptif primer dari spesies manusia. Sepanjang kariernya, Leslie White (1949; 1959) bergulat dengan definisi kebudayaan sebagai mekanisme ekstra-somatik, mekanisme penggunaan energi yang tergantung pada eksistensinya pada penggunaan simbol-simbol. Clifford Geertz (1973: 140) sangat berpengaruh dalam pengembangan paradigma antro-pologi yang diusulkannya mengenai konsekuensi dan implikasi dari fakta bahwa “manusia adalah hewan yang melakukan simbolisasi, konseptualisasi, dan mencari makna”.

Mempertahankan identitas berarti aktivitas-aktivitas yang fungsi primernya adalah mendefinisikan dan membatasi status manusia, atau aktivitas-aktivitas yang ekspresi asal usulnya terletak pada kecenderungan manusia untuk mewujudkan makna-makna melalui simbol-simbol mengenai dunia. Dipertahankannya identitas manusia _Thbelibtkan aktivitas-aktivitas seperti seni, musik, dan ritual, dan meliputi isu-isu seperti pembentukan kepribadian dan formulasi pandangan dunia. The Rites of Passage dari Arnold van Gennep (1960) adalah contoh penelitian holokultural klasik, yang mengungkapkan proses-proses dipertahankannya identitas manusia. Ahli filsafat dan sejarawan sosial Johan Huizinga (1950) menaruh perhatian pada dipertahankannya identitas manusia tatkala ia berargumen bahwa permainan adalah landasan kebudayaan manusia: “Kehidupan sosial dibentuk oleh bentuk-bentuk suprabiologi dalam bentuk permainan, yang meningkatkan nilainya. Melalui permainan inilah masyarakat mengekspresikan interpretasinya mengenai kehidupan dan dunia.”

Dipertahankannya identitas manusia, dalam kenyataan, adalah masalah yang sering kali dipelajari oleh ahli filsafat, artis, novelis, dan kaum humanis lainnya, yang mendorong dibangunnya prasangka yang dimiliki oleh banyak antropolog bahwa hanya isu dipertahankannya kehidupan manusia yang dapat atau seharusnya dikaji dari perspektif ilmiah. Cara-cara bagaimana masalah-masalah yang diasosiasikan dengan dipertahankannya identitas manusia sajalah yang dapat dipelajari dari perspektif ilmiah (Huizinga, 1950: 63-4).

Apabila diperhatikan secara lebih cermat, pembedaan yang tegas antara upaya mempertahankan kehidupan dan upaya mempertahankan identitas tidak dapat lagi digunakan kalau dikaitkan dengan aktivitas manusia. Semua, atau paling tidak sebagian besar, aktivitas manusia melibatkan dipeliharanya kehidupan maupun identitas bersama-sama. Kegiatan keagamaan adalah salah satu cara yang signifikan di mana manusia mendefinisikan diri mereka sebagai manusia, namun isi dan organisasi keyakinan keagamaan dan perilaku erat terkait dengan strategi kebudayaan tertentu mengenai adaptasi—sedangkan strategi yang fungsinya paling nyata dan langsung adalah dipertahankannya kehidupan manusia. Fenomena kematian karena ilmu sihir (voodoo) jarang dapat digolongkan semata-mata sebagai konsekuensi dari dipertahankannya kehidupan manusia atau dipertahankannya identitas manusia; kajian antropologi mengenai kematian karena voodoo menjelaskan gejala ini dalam konteks interaksi antara faali dan psikologi (Lex, 1974). Jelaslah bahwa hewan manusia adalah satu-satunya hewan yang dapat dibunuh dengan cara sugesti. Esensi mendasar dari kondisi keberadaan manusia adalah saling terpadunya dua aspek, yakni dipertahankannya kehidupan manusia dan dipertahankan identitas manusia. Pembagian kedua dimensi ini penting dalam konteks pengalaman manusia. Alasannya adalah, pertama, pembedaan ini cukup tepat untuk melihat perbedaan antara ranah-ranah kajian antropologi dan etnologi. Kedua, pembedaan ini berguna karena sebagian besar antropolog kontemporer, dalam praktik, cenderung membedakan keduanya tatkala menawarkan eksplanasi atau analisis antropologi. Dapat dikatakan bahwa semua antropolog memiliki pendapat yang sama bahwa kehidupan dan identitas manusia saling memengaruhi satu sama lain, tapi tatkala mereka harus mendefinisikan masalah penelitian, sebagian besar antropolog memilih untuk memfokus atau menekankan salah satu aspek. Sebagai akibat dari penekanan tersebut sering kali suatu kajian mendefinisikan subjeknya begitu sempit sehingga tidak lagi bisa mempelajari setiap bagian dari pengalaman manusia yang diketahui. (Sosiobiologi adalah salah satu contoh reduksi tersebut.) Antropolog sebegitu jauh tidak berhasil mengembangkan satu paradigma yang mempelajari kedua masalah tersebut secara sepenuhnya terintegrasi.

Berikut ini akan ditunjukkan kegunaan pembedaan antara “dipertahankannya kehidupan manusia.” dan “dipertahankannya identitas manusia” dengan merujuk kepada dua contoh yang kontras satu sama lain. Pertama, marilah kita perhatikan contoh dari Roy Rappaport (1967-, – “Ritual Regulation of Environmental Relations Among a New Guinea People’”, yang merupakan pendekatan antropologi yang berfokus pada masalah-masalah, konsekuensi-konsekuensi, dan implikasi-implikasi yang dikaitkan dengan dipertahankannya kehidupan manusia. Artikel Rappaport dimaksudkan untuk menghadapi pandangan umum bahwa aktivitas ritual tidak memiliki efek praktis terhadap dunia luar selain fungsi sosiologis dan psikologis sebagai pemeliharaan kohesi sosial dan intensifikasi dari rasa takut. 

Filed under : Bikers Pintar,