PENGERTIAN REDISTRIBUSI PARSIAL – Sistem redistribusi parsial sangat umum terdapat dalam suatu masyarakat di mana hortikultura intensif merupakan pola teknologi dan pemilikan oleh pemimpin merupakan pola hak atas kekayaan. Pemilikan oleh pemimpin merupakan aspek vital dari. redistribusi parsial.

Marshall Sahlins (1963) menyorotiperbedaan penting antara redistribusi mumi dan redistribusi parsial dengan membandingkan sistem distribusional masyarakat Melanesia dan Polynesia. Sebagaimana yang ia katakan, kebanyakan masyarakat Melanesia mengembangkan hortikultura berskala kecil dan sis tem orang besar; sementara kebanyakan masyarakat Polynesia dikarakterisasikan dengan hortikultura intensif dan redistribusi parsial. Orang besar dalam masyarakat Melanesia adalah orang-orang yang mencari prestise dan kemasyhuran dengan mengadakan pesta yang rumit. Namun, mereka hanya mempunyai sedikit sekali kekuasaan real terhadap para pemilihnya, prestise dan kemasyhuran mereka pun runtuh dengan cepat apabila pesta rumit mereka menyusut. Sebaliknya, para pemimpin masyarakat Polynesia dilantik secara resmi melalui suatu sistem suksesi yang diwariskan. Para pemimpin ini memegang kekuasaan yang cukup kuat terhadap para pengikutnya, dan mereka mempunyai pengaruh ekonomi penting terhadap sejumlah besar orang awam. Salah satu tujuan mereka yang terpenting adalah memproduksi dan mempertahankan surplus ekonomi yang konstan. Mereka melaksanakan ini dengan memaksa orang untuk memberikan sebagian hasil panennya. Inimembawa kepada terbentuknya “perbendaharaan umum”, sebuah gudang besar yang dikuasai oleh pemimpin mereka. Pemanfaatan gudang ini meliputi banyak hal. Pemimpin menopang hidupnya beserta keluarga dari gudang tersebut. Mereka juga menggunakannya untuk tujuan lalll, seperti mensgadakan pertimjukan mewah bagi tamu yang dihormati, melaksanakan proyek kepentingan umum yang besar, seperti membuat irigasi, membangun ti candi, mensponsori kampanye militer, dan mendukung sejumlah besar para fungsionaris politik dan pejabat administratif. Disamping itu, beberapabagian gudang tersebut juga diredistribusikan kepada orang-orang lain ketika dibutuhkan, dan pemimpin diharapkan bersikap murah hati untuk itu. Mereka yang tidak cukup murah hati atau menuntut banyak atas hasil panen rakyat kadang-kadang dibunuh.

Sistem redistribusi parsial masyarakat Polynesia bersifat redistributif dalam arti bahwa mencakup arusbarang berkesinambungan antara pemimpin dan rakyatnya. Namun, kasus ini arus barang adalah arus yang tidak sama. Rakyat jelas memberi lebih banyak daripada yang mereka terima. Walaupun jelas sama pada prinsipnya dengan sistem redistribusi murni pada masyarakat hortikultura berskala kecil, sistem redistribusi yang diintensifkan pada masyarakat hortikultura yang maju ini berperan dalam melahirkan sistem ketidakrataan ekonomis. Dengan demikian, mereka membentuk perkembangan evolusioner yang nyata melebihi tingkat redistribusi murni. Michael Hamer (1975) mengemukakanbahwa faktor kunci dibalik hasil evolusioner yang signifikan ini adalah keterbatasan tanah. Ketika tekanan penduduk memaksa kelompok hortikultura berskala kecil untuk mengem-bangkan metode penanaman yang lebih intensif, jelas tanah sedang menjadi sumber daya yang terbatas. Memang, inilah sebabnya kenapa setiap unit tanah tertentu harus ditanami secara lebih intensif. Keterbatasan tanah, dalam pandangan Harner, adalah akibat kompetisi yang semakin meningkat untuk mendapatkan tanah yang berharga, dan sebagian orang akhirnya mendapatkan ekses yang lebih besar daripada orang lain. Orang besar, dengan dasar kekuasaan yang relatif lemah mengandalkan usaha sendiri dan bantuan sukarela dari para pengikutnya, berubah menjadi pemimpin, yang dasar kekuasaannya semakin diperkuat melalui penguasaan mereka atas tanah.

Filed under : Bikers Pintar,