rehabilitation (rehabilitasi)

Rehabilitasi atau reformasi (dua istilah ini dapat saling dipertukarkan) seringkah dikaitkan dengan rehabilitasi para pelaku kejahatan. Walau begitu, istilah ini juga dapat diterapkan pada siapa saja yang membutuhkan bantuan untuk problem pribadi atau sosial. Jika digunakan untuk para pelaku kejahatan, maka rehabilitasi berfungsi sebagai sebuah filsafat penghukuman. Tapi ini sangat berbeda dengan filsafat penghukuman lainnya seperti penangkalan (deterrence) atau retribusi, yang dalam pandangan kelompok rehabilitasionis sebagai bentuk murni penghukuman. Para pendukung rehabilitasionis sering kali mengklaim bahwa rehabilitasi bukan sebuah filsafat penghukuman tetapi sebuah teori penyembuhan (theory of treatment). Namun klaim ini tidak dapat diterima begitu saja: rehabilitasi dapat melibatkan penghukuman, dan sering kali memang demikian, dan dapat juga menyertai penghukuman, dan kenyataannya memang seringkah demikian .

Filsafat rehabilitasi berakar dari Plato yang memandang keburukan (wickedness) atau kejahatan “sebagai sebuah penyakit mental yang mengakibatkan disintegrasi dan pada akhirnya fatal”. Plato berpendapat “tidak seharusnya ada sanksi hukum yang ditimpahkan untuk tujuan menyakiti tapi seharusnya justru untuk membuat si penderita menjadi lebih baik, atau untuk mengurangi sifat jahatnya ketimbang jika tidak dihukum”. Versi modem dari rehabilitasi pada dasarnya sama; tujuannya untuk membuat si penderita menjadi lebih baik. yaitu, memperbaiki posisi sosial atau pribadi si pelaku kejahatan (the offender). Para pendukung rehabilitasi berpendapat bahwa pelanggaran (the offence) hanya gejala dari suatu permasalahan yang terjadi dengan sendirinya sebagai akibat cacat kepribadian atau sosial. Jika permasalahannya dihilangkan (atau disembuhkan) maka gejala atau dorongan untuk melakukan kejahatan pun akan hilang. Mengikuti Plato, penekanannya tetap pada si pelaku: Plato tidak menyatakan bahwa kejahatan itu suatu penyakit tetapi si pelaku itulah yang terkena penyakit.

Metode yang digunakan dalam rehabilitasi modem mengikuti model penyakit mental Plato. Dengan demikian bahasa rehabilitasi mengikuti bahasa kedokteran dan metode-metodenya juga mengikuti pendekatan kedokteran. Situasi social dan kepribadian si pelaku didiagnosis terlebih dahulu dan alasan atau penyebab dari kejahatan diidentifikasi. Kemudian dirancang sebuah rencana penyembuhan yang bertujuan memberikan interpretasi baru terhadap situasi-situasi atau hubungan masa lalu dan/atau melakukan pengelolaan efektif terhadap situasi atau hubungan masa depan. Diagnosis dan penyembuhan biasanya dilakukan ahli-ahli terlatih dalam suatu lingkungan terapis tertentu; pada tahun 1960-an yang digunakan adalah terapi Freudian. Demi keberhasilan usaha penyembuhan entah itu cepat atau memakan waktu bertahun-tahu si pelaku harus menjalani pengobatan agar bisa diharap-kan bebas dari kejahatan.

Aspek yang paling menarik dari rehabilitasi adalah bahwa pendekatan ini menawarkan optimisme dan harapan yang terkait dengan semangat kemanusiaan yang kuat untuk membantu si pelaku memperoleh kesembuhan dan hidup yang lebih baik. Aspek menarik yang kedua adalah bahwa rehabilitasi mempergunakan keahlian tenaga profesional yang pelatihannya didasarkan pada teori-teori sosial kontemporer. Hal ini sekali lagi bertentangan dengan penangkalan (deterrence) ataupun retribusi, di mana pendekatannya hanya terfokus pada kejahatan dan tujuannya adalah mengendalikan tindakan atau menghukum sesuai dengan perbuatannya keduanya sama sekali tidak mempertimbangkan situasi sosial dan personal pelaku. Penangkalan dan retribusi dipandang sebagai pendekatan yang mandul dan tidak imajinatif dibandingkan dengan rehabilitasi.

Meski ada klaim-klaim seperti itu, hanya sedikit program rehabilitasi yang bisa memberikan hasil yang membuktikannya lebih efektif dalam hal menangani si pelaku dan mengurangi kejahatan dibandingkan program-program lain. Selain itu, keahlian dalam melakukan rehabilitasi ini mulai dipertanyakan: saat ini tampaknya keahlian mereka tidak sebesar apa yang selama ini mereka nyatakan. Landasan kemanusiaan dari filsafatnya juga mendapatkan tantangan. Penyembuhan bisa jadi melibatkan komitmen yang tidak pernah berakhir karena dapat terus berlangsung selama si pelaku memerlukan penyembuhan. Dengan demikian penyembuhan bisa saja lebih lama dan lebih intens daripada bentuk-bentuk penghukuman lain, yang pada gilirannya ada kemungkinan problem kepribadian serius menjalani penyembuhan yang lebih lama dibandingkan masa hu-kuman yang seharusnya mereka terima jika tidak melalui rehabilitasi. Atau pelaku kejahatan serius yang memiliki sedikit masalah dapat menjalani penyembuhan dalam waktu yang lebih cepat. Hal ini membangkitkan tuduhan bahwa rehabilitasi tidak adil dan tidak dapat diterima. Selain itu juga menimbulkan pertanyaan tentang peran hukum dalam masyarakat demokratis. Keberadaan hukum itu untuk menegakkan seperangkat aturan yang telah disepakati ataukah untuk membentuk temperamen manusia ? Para pengkritik rehabilitasi berpendapat bahwa peradilan seharusnya mengambil asumsi bahwa kita memiliki kebebasan bertindak dan membatasi wewenang peradilan hanya untuk memberikan penilaian pada tindakan-tindakan kita. Asumsi ini mungkin bisa dipertanyakan juga tetapi tetap dianggap lebih aman daripada menyangka bahwa peradilan bertugas menata kembali pikiran kita.

Incoming search terms:

  • pengertian rehabilitasi

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian rehabilitasi