PENGERTIAN RELEVANSI PEMIKIRAN CHARLES DARWIN ADALAH – Evolusionisme tidak pernah bisa dipisahkan dari seorang tokoh bernama Charles Darwin. Pada tahun 1859, tatkala ia menerbitkan The Origin of Species, ia menulis: “Saya sepenuhnya yakin bahwa spesies tidak dapat bermutasi; tapi bahwasanya spesies -spesies itu termasuk ke dalam gene-rasi yang sama adalah keturunan linear dari spesies tertentu lain yang pada umumnya sudah punah, dan dengan cara yang sama diakui sebagai variasi dari spesies masa lalu tersebut.” (1964 [1859]: 27). Kesimpulannya mendorong orang-orang yang yakin kepada kitab suci bereaksi keras. Bukti-bukti evolusi cukup mendorong sebagian orang untuk menafsirkan kembali kitab suci secara metaforis atau figuratif, tetapi para fundamentalis yang sangat meyakini kitab suci secara harfiah tidak bersedia berkompromi dengan pernyataan Darwin itu. Pada tahun-tahun selanjutnya, kontroversi mengenai pandangan evolusi Darwin itu tetap berlangsung, bahkan hingga kini.

Hingga 1871 (tatkala The Descent of Man terbit), Darwin sebenarnya menghindari untuk mcnyatakan secam kategoris bahwa manusia berasal dari bentuk-bentuk yang bukan manusia, tetapi unpukasi teormya itu jelas. Barulah setelah itu semakin jelas .bahwa yang dimaksud Darwin sebagai nenek moyang manusia itu adalah makhluk sejenis kera (Ember dan Ember, 1996: 17).

Sesungguhnya Darwin bukanlah orang pertama yang memandang penciptaan spesies-spesies baru secara evolusioner, tetapi dialah yang pertama yang memberikan eksplanasi yang mendalam, didokumentasikan dengan baik, mengenai bagaimana evolusi itu ,terjadi. Darwin-lah, lebih dari yang lain, yang menyadari adanya potensi eksplanatoris yang luar biasa pada seleksi alam, dan melakukan analisis yang paling lengkap dan meyakinkan secara revolusioner tentang kehidupan. Ia mengemukakan bahwa setiap spesies terdiri dari suaiu variasi besar individu, yang sebagian daripadanya beradaptasi lebih baik dengan lingkungannya ketimbang yang lain. Individu-individu yang berhasil beradaptasi lebih baik secara umum menghasilkan lebih banyak keturunan dalam generasi-generasi selanjutnya daripada yang kurang mampu beradaptasi. Maka, dalam jangka panjang seleksi alam menghasilkan proporsi yang semakin meningkat individu-individu yang memiliki unsur-unsur yang menguntungkan.

Meski banyak kritik tajam dialamatkan kepada Charles Darwin ber-kenaan dengan teori evolusi yang digagasnya, pengaruhnya terhadap biologi modern tetap sangat besar. Betapa tidak, pengaruh terbesar bersumber dari teorinya yang terkenal mengenai evolusi sebagai akibat seleksi alam. Demikian pula dari berbagai argumen yang dilontarkan untuk mendukung teori tersebut (Gaulin, 1991: vii-viii).

Teori Darwin dikatakan berciri revolusioner karena mampu men-jelaskan begitu banyak fakta yang jelas tidak berkaitan satu sama lain dalam satu gagasan yang tunggal (Gaulin, 1991: vii; Ridley, 1991),–Einpat golongan fakta bisa kita simak berikut ini: Pertama, organisime tersebar tidak acak di seluruh dunia. Spesies di pulau-pulau menunjukkan ciriciri yang mirip dengan spesies di daratan yang berdekatan, misalnya fauna dan flora Sumatera dan yang ada di Asia, atau biota di Amerika Selatan yang mirip dengan yang ditemukan di pulau-pulau Galapagos. Seluruh benua sering kali tidak memiliki suatu tipe umum organisme yang tersebar luas di tempat lain; misalnya, mamalia berplasenta tidak ditemukan di Australia sebelum orang Eropa datang membawanya ke sana. Kedua, peninggalan berupa fosil-fosil menggambarkan suatu rangkaian yang mulai dengan organisme yang sederhana strukturnya dan kemudian dalam perkembangan selanjutnya menjadi kompleks; makhluk bersel tunggal berkembang ratusan juta tahun sebelum adanya hewan burung. Ketiga, rincian susunan anatomi suatu kelompok utama menunjukkan adanya rangkaian ciri struktur yang sama. Misalnya, landasan organisasi kuadropedal vertebrata yang berjalan di atas tanah adalah jumlah, jenis, dan susunan unsur tulang rangka yang sama. Keempat, organisme menggambarkan kompleksitas yang rinci dan terintegrasi; organisme tersebut seolah-olah dirancang untuk tujuan tertentu. Semua ini merupakan pengamatan biologi yang sahih; akan tetapi apakah secara logis berhubungan? (Ridley, 1991; lihat juga Dale dan Wilson, 1989).

Salah satu pendapat Darwin yang sangat kuat adalah bahwa keempat golongan fakta di atas tidaklah independen. Melainkan, semuanya me-rupakan akibat suatu proses alam, bukan kejadian terpisah-pisah. Karena teori ini secara efektif mengintegrasikan begitu banyak fakta yang jelas terpisah-pisah mengenai makhluk hidup, seleksi alam secara luas dianggap sebagai prinsip yang mempersatukan dalam biologi modern. Kekuatan integratif ini merupakan ciri teori Darwin yang paling menarik dan berguna. Keyakinan kita terhadap teori tersebut terutama bersumber pada kekuatan ini, tetapi ironis dari sini pula perdebatan dan ketidaksepakatan di kalangan ahli evolusi timbul.

Mark Ridley (1991) membahas persoalan-persoalan seputar evolusi dengan hati-hati dan eksplisit. Ridley mengibaratkan para pengkaji evolusi itu seperti beberapa orang buta yang menyelidiki seekor gajah. Yang seorang meraba kuping, yang lain meraba kaki, atau yang lain meraba ekor. Masing-masing menceritakan bagaimana sosok gajah itu. Tak seorang pun yang salah, tetapi tampaknya tak seorang pun memberikan gambaran yang lengkap. Situasi ini merupakan hasil langsung dari kekuatan eksplanatoris dari Darwin. Tepatnya, karena evolusi oleh seleksi alam memberikan informasi begitu banyak mengenai isu biologi, banyak ahli biologi dengan aneka ragam kepentingan mendiskusikan evolusi vang tidak sependapat. Dalam banyak hal perdebatan lebih nyata dari realita yang diperdebatkan. Kerap kali para ahli mempertanyakan persoalan yang berbeda sehingga masuk akal bilamana jawabannya pun berbeda. Agar lebih jelas, baiklah saya membicarakan secara garis besar teori Darwin dan mendiskusikan tema-tema yang berhubungan dan vang berpola.

Di antara banyak jawaban yang kini tersedia dalam perbendaharaan teori evolusi, jawaban Darwin tetap yang terbaik, yakni seleksi alam. Di bawah ini saya kemukakan beberapa pokok argumentasi Darwin (1964 [1859]):

Pertama, ia menyaksikan bahwa organisme itu bervariasi, bahkan ciri yang sangat dekat sekali pun akan berbeda pada tingkat atau batas ter tentu.

Kedua, meski ia beranggapan bahwa variasi ini disebabkan oleh perubahan, ia berpendapat bahwa variasi benar-benar mengandung konsekucnsi penting karena memengaruhi kesesuaian (fitness) antara individu dan lingkungan lokalnya. Sebagian individu yang beruntung mungkin menyimpang dari norma sedemikian sehingga membantunya untuk tetap hidup dan bereproduksi.

Ketiga, ia mensinyalir bahwa apabila organisme benar-benar be-reproduksi, organisme cenderung mewariskan ciri apa pun yang mereka miliki kepada keturunannya.

Ia menyimpulkan bahwa jika ketiga pengamatan di atas sahih, maka ciri-ciri yang disukai alam akan lebih umum ditemukan pada generasi-generasi ketimbang ciri yang tidak disukai alam . Ciri-ciri yang tidak disukai alam akan hilang. Organisme akan beradaptasi dengan baik terhadap lingkungannya karena varian yang sukar beradaptasi akan me-ninggalkan sedikit keturunan, dan ciri-ciri mereka akan hilang.

Logika ini tampaknya tak terelakkan, dan memang itulahyang terjadi. Karena sekarang kita mengetahui hal-hal tertentu yang tidak diketahui Darwin dan pengikutnya. Khususnya, dari Gregory Mendel, ahli biologi molekuler termasyhur, kita mengetahui bagaimana orang tua mewariskan unsur tertentu kepada keturunannya. Pada masa Darwin, banyak orang meyakini model percampuran merata unsur keturunan yang diwariskan (blending inheritance). Menurut pandangan ini unsurunsur dasar hereditasi bagaikan cairan, dan sumbangan kedua orang tua bercampur bersama-sama seperti bercampurnya cairan. Sistem hereditasi seperti ini akan menghasilkan keturunan yang mempunyai ciri kurang lebih di antara kedua orang tuanya.

Filed under : Bikers Pintar,