PENGERTIAN RELIABILITAS DAN VALIDITAS DALAM PENGUKURAN

87 views

PENGERTIAN RELIABILITAS DAN VALIDITAS DALAM PENGUKURAN – Konsep reliabilitas dan validitas sangat kompleks. Terdapat beberapa jenis relia bilitas dan validitas, dan keseluruhan satu subbidang psikologi—psikometrik terutama eksis untuk studi reliabilitas dan validitas.

Reliabilitas
Dalam arti yang paling umum reliabilitas merujuk pada konsistensi pengukuran. Terdapat beberapa tipe reliabilitas, beberapa di antaranya kita bahas di sini.
• Reliabilitas interrater, Mengambil contoh dari bisbol, wasit base III dapat sepakat atau tidak sepakat dengan wasit home plate mengenai apakah suatu lemparan garis yang jatuh di garis kiri lapangan dianggap sah atau tidak.
• Reliabilitas test-retest mengukur sejauh mana orang-orang yang diobservasi atau mengikuti -tes yang sama dua kali, mungkin dalam jarak beberapa minggu atau bulan, mendapatkan skor yang secara umum sama. Jenis reliabilitas ini masuk akal hanya jika teori ber asumsi bahwa orang-orang tidak akan mengalami perubahan yang berarti pada variabel yang diukur di antara kedua waktu tersebut; contoh penting ber kaitan dengan situasi di mana jenis reliabilitas ini masuk akal adalah dalam mengevaluasi tes-tes intelegensi.
• Kadangkala para psikolog menggunakan dua bentuk tes daripada menggunakan tes yang sama dua kali, mungkin bila ada kekhawatiran bahwa orang akan mengingat jawaban yang mereka berikan dalam tes pertama dan berniat untuk konsisten. Pendekatan ini memungkinkan tester untuk menentukan relia bilitas bentuk alternatif (alternate-form reliability), yaitu sejauh mana skor pada dua bentuk tes tersebut konsisten.
• Reliabilitas konsistensi internal mengukur apakah item-item dalam suatu tes saling berkaitan. Sebagai contoh, untuk suatu kuesioner kecemasan yang terdiri dari dua puluh item kita menginginkan item-item tersebut saling berkaitan, atau saling berkorelasi jika item-item tersebut benar-benar mengukur kecemasan. Seseorang yang merasakan mulutnya kering dalam suatu situasi yang mengancam juga diharapkan mengalami peningkatan ketegangan otot.
Dalam setiap tipe reliabilitas tersebut, suatu korelasi, yaitu pengukuran seberapa dekat saling keterkaitan dua variabel, dihitung antara para rater atau serangkaian item. Semakin tinggi korelasi, semakin baik reliabilitasnya.
Validitas

Validitas isi (content validity) merujuk pada apakah suatu pengukuran mengambil sampel yang cukup dari suatu bidang yang diteliti. Sebagai contoh, dalam pem bahasan selanjutnya kami akan menggambarkan suatu wawancara yang sering kali digunakan untuk menegakkan diagnosis Aksis I. Wawancara tersebut memiliki validitas isi yang sangat baik karena berisi pertanyaan-pertanyaan tentang seluruh simtom yang tercakup dalam berbagai diagnosis Aksis I. Sebagai contoh lain, pertimbangkan pengukuran stres dalam kehidupan. Pengukuran tersebut terdiri dari 43 pengalaman hidup. Responden mengindikasi pengalaman—sebagai contoh, kehilangan pekerjaan yang pernah mereka alami pada suatu waktu, contohnya, tahun lalu.

Validitas criterion dievaluasi dengan menentukan apakah suatu pengukuran memiliki keterkaitan sesuai yang diinginkan dengan pengukuran lainnya (criterion). Kadangkala hubungan tersebut bersifat simultan (kedua variabel diukur pada poin yang sama dalam satu waktu) dan validitas yang dihasilkan kadangkala disebut validitas concurrent. Sebagai contoh, nanti kami akan membahas suatu pengukuran terhadap distorsi pikiran yang diyakini berperan penting menyebabkan depresi. Validitas criterion untuk tes ini dapat ditemukan dengan menunjuk kan bahwa alat ukur tersebut benar-benar berkaitan dengan depresi yaitu, orang-orang yang menderita depresi memperoleh skor yang lebih tinggi dalam tes tersebut dibanding orang-orang yang tidak menderita depresi. Secara alternatif, validitas criterion dapat diukur dengan mengevaluasi kemampuan alat ukur tersebut untuk memprediksi beberapa variabel lain yang diukur pada poin tertentu di masa men datang, sering kali disebut sebagai validitas prediktif. Sebagai contoh, tes IQ pada awalnya dikembangkan untuk memprediksi prestasi sekolah di masa mendatang. Sama dengan itu, suatu pengukuran distorsi pikiran dapat digunakan untuk mem prediksi munculnya episode-episode depresi pada masa mendatang.

Validitas konstruk merupakan konsep yang lebih kompleks. Validitas ini relevan bila kita ingin menginterpretasi suatu tes sebagai suatu pengukuran terhadap beberapa karakteristik atau konstruk yang tidak dapat didefinisikan secara sederhana (Cron bach & Meehl, 1955). Konstruk adalah suatu karakteristik yang abstrak, seperti kecemasan atau distorsi kognisi, yang berupaya diukur dengan suatu alat ukur. Pertimbangkan kuesioner kecenderungan-kecemasan sebagai contoh. Pertanyaan validitas konstruk adalah apakah variasi yang kami amati di antara orang-orang yang mengikuti tes lapor-diri (self-report test) terhadap kecenderungan kecemasan (anxiety-proneness) benar-benar mengacu pada perbedaan individual dalam kecen derungan kecemasan. Hanya karena kami menyebut tes kami sebagai alat ukur kecen derungan kecemasan dan item-itemnya tampaknya berkaitan dengan kecenderungan untuk merasa cemas (“Saya merasa cemas dalam banyak situasi.”), tidaklah pasti bahwa tes tersebut merupakan alat ukur kecenderungan kecemasan yang valid. Respons orang-orang terhadap suatu kuesioner ditentukan oleh lebih banyak variabel daripada sekadar konstruk yang diukur. Sebagai contoh, masing-masing individu memiliki ke mauan yang berbeda untuk mengakui suatu karakteristik yang tidak dikehendaki seperti kecenderungan kecemasan; dengan demikian, skor kuesioner sebagian akan ditentukan oleh karakteristik tersebut dan juga oleh kecenderungan kecemasan itu sendiri.

Validitas konstruk dievaluasi dengan melihat berbagai macam data dari berbagai sumber. Sebagai con toh, orang yang didiagnosis mengalami gangguan anxietas dan orang-orang yang tidak mendapatkan diagnosis demikian dapat dibandingkan skornya dalam alat ukur self-report terhadap kecenderungan kecemasan. Alat ukur self-reort tersebut akan mencapai validitas konstruk bila orang-orang yang mengalami gangguan anxietas memperoleh skor yang lebih tinggi dibanding kelompok kontrol. Sama dengan itu, alat ukur self-report dapat dihubungkan dengan alat ukur lain yang dinilai mencerminkan kecemasan, seperti observasi terhadap kegaisahan, geme tar, atau berkeringat berlebihan. Ketika alat ukur self-report dihubungkan dengan alat ukur observasional, validitas konstruknya akan meningkat. Berbagai studi juga dapat meneliti perubahan pada alat ukur self-reort. Sebagai contoh, jika alat ukur tersebut konstruknya valid, kita dapat mengharapkan bahwa skor para pasien yang mengalami gangguan anxietas akan turun setelah menjalani terapi yang dapat menurunkan anxiety secara efektif.

Secara lebih luas, validitas konstruk berkaitan dengan teori. Sebagai contoh, kita mungkin memiliki hipo tesis bahwa kecenderungan untuk cemas disebabkan oleh pengalaman-pengalaman tertentu di masa kanak-kanak. Maka kita dapat mengum pulkan bukti-bukti lebih lanjut untuk validitas konstruk kuesioner kita dengan menunjukkan bahwa kuesioner tersebut berkaitan dengan pengalaman-pengalaman masa kecil tersebut. Pada saat yang sama, kita juga akan mengumpulkan dukungan bagi teori kecenderungan kecemasan yang kita ajukan. Dengari demikian, validasi konstruk merupakan bagian penting dalam proses pengujian teori.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *