PENGERTIAN REVOLUSI INDUSTRI DAN MUNCULNYA KAPITALISME INDUSTRI – Revolusi Industri dimulai di Inggris dalam paruh kedua abad xviii, dengan fase pertama terjadi sekitar 1760 hingga 1830 (Landes, 1969). Fase industrialisasi ini dicirikan oleh perluasan industri tekstil secara besar-besaran dan oleh berbagai perkembangan penting dalam pengolahan logam dan tambang batu bara. Industri tekstil, terutama pembuatan bahan pakaian, berkembang setelah ada penemuan mesin tenun, dan pemintal kapas. Perkembangan tekstil memacu \,perkembangan sistem pabrik. Penemuan tenaga uap juga menjadi bagian penting dalam proses ini, yang dipakai untuk menjalankan mesin-mesin berat dalam pabrik-pabrik tekstil. Tekstil menegakkan bagian vital dari ekonomi Inggris dan merupakan ekspor terbesar dalam sistem kapitalisme internasional.

Industri logam juga mendorong perluasan yang berarti dalam fase pertama perkembangan industri. Logam (besi) mengalami peningkatan permintaan untuk pengolahan jenaga uap dan alat-alat mesin; produksi alat-alat mesin itu sendiri memberi ciri yang berarti bagi ekonomi Inggris. Sebaliknya, peningkatan pembuatan produk-produk ini menyebabkan peningkatan permintaan batu bara dan perluasan industri tambang batu bara. Teknologi industri segera menyebar di banyak tempat di Eropa selama abad xix, terutama di Perancis, Belgia, dan Jerman. Amerika Serikatiuga mulai muncul sebagai masyarakat industri penting dalam masa ini. Pada akhir abad xix, baik Rusia maupun Jepang telah memulai industrialisasi.

Revolusi Industri menciptakan cara produksi ekonomi baru, kapitalisme industri. Sebagaimana disinggung dalam bab sebelumnya, kapitalisme industriberbeda dari bentuk kapitalisme lain dalam hal pencarian keuntungan dengan memanfaatkan kaum buruh. Mantapnya kapitalisme industri dalam skala besar, karena itu, memerlukan reorganisasi kekuatan kerja menjadi sistem pabrik, dan pabrik menjadi basis unit sosial produksi kapitalis. Michel Beaud berkata sebagai berikut dalam meninjau lahirnya kapitalisme industri (1983:83): Dalam abad xix cara-cara produksi kapitalis makin meluas karena makin man-tapnya industri yang mekanis. “Penggilingan” yang ada di Inggris pada akhir abad xix meluas tidak hanya di Inggris saja, tapi juga di bangun di Belgia, Perancis, Swiss, Jerman, dan Amerika Serikat. Perkembangan penggilingan ini secara khusus menjadi “penggerak” berbagai sektor pada waktu itu: tekstil dan logam. Orang-orang yang sebelumnya menjadi pedagang atau juragan, para mandor dan pengrajin anak buah, menjadi pengelola dan dapat memenuhi kebutuhan tenaga kerja akibat terjadinya transformasi di wilayah pedalaman atau imigrasi. Para buruh ini dipekerjakan dengan sangat keras, dan ini berada dalam kondisi kekikiran dan pemanfaatan yang tak terkira dan merupakan penyebab terbentuknya kelompok buruh modern.

Jelasnya, industrialisasi tak berhenti pada perkembangan teknologis dan ekonomis. Lebih dari sekadar sebagai suatu kejadian atau serangkaian kejadian, industrialisasipaling baik dianggap sebagaiproses yang berkesinambungan dan berlangsung hingga sekarang. Dalam pertengahan abad xix, berbagai penemuan teknologi muncul dengan pesat dan pengadaan teknologi dikembangbiakkan dan dipakai untuk produksi kapitalis dalam skala besar. Misalnya, tenaga uap dipakai untuk transportasi. Tenaga uap digunakan untuk menciptakan kereta api uap yang pertama dan dipakai juga untuk pelayaran setelah ditemukannya kapal uap. Selama masa ini jalan kereta api mulai muncul sebagai aspek yang sangat berarti bagi penanaman modal kapitalis (Dobb, 1963:296-297): Dalam dasawarsa 40 dan 50-an abad ini muncul aktivitas baru yang, dari segi penyerapan modal dan modal barang, melebihi kepentingan segala tipe penanaman modal-anggaran pembelanjaan yang ada sebelumnya. Bahkan, ketika kita menyebut dasawarsa-dasawarsa di pertengahan abad xix tersebut sebagai “zaman kereta api”, kita sering gagal memahami sepenuhnya strategi penting yang khas dari periode ini. Kereta api mempunyai keuntungan yang kurang bernilai bagi kapitalisme karena penyerapan modal yang besar sekali, yang hampir hanya dilampaui oleh persenjataan peperangan modern dan pembangunan perkotaan modern… Rel kereta api sepanjang 2.000 mil yang dibuka di Inggris pada tahun 1847-8 telah menyerap hampir setengah juta ton besi untuk rel dan kursikursinya saja, atau seperempat dari seluruh hasil produksi besi pada saat itu; dan pengoperasian kereta api mempekerjakan 300.000 orang “di atau di luar rel” sepanjang tahun. Pada tahun 1860 sekitar 10.000 mil rel dibangun di Inggris Raya dan Irlandia Utara: suatu gambaran yang melonjak hampir dua kali lipat antara tahun 1860 dan 1870  Tidak lama setelah boom perkeretaapian, di Inggris pada dasawarsa 40-an dibangun jalan kereta api di daratan benua; dan diikuti oleh pembangunan terowongan kereta api yang besar di Amerika. Awal abad xx, mobil, listrik dan industri minyak menjadi ciri kehidupan penting dalam masyarakat industri (Lenski, 1970). Menjelang Perang Dunia Kedua, industri penerbangan, aluminium, dan elektronik sangat penting secara ekonomis (Lenski, 1970). Beberapa tahun belakangan ini telah disaksikan perkembangan teknologi pemanfaatan tenaga nuklir dan pembuatan komputer yang sangat canggih dalam skala besar. Dan tidaklah perlu diragukan bahwa perkembangan-perkembangan tadi adalah kemungkinan awal dari serangkaian kesempurnaan teknologi yang luar biasa.

Gambaran tentang Revolusi Industri ini sangat skematik, tapi seharusnya ia memperjelas bagaimana berartinya peran perubahan teknologi. Perubahan teknologi menghasilkan perubahan penting dalam struktur kehidupan sosial di seluruh dunia. Tapi mengapa Revolusi Industri terjadi, kapan dan di mana ia terjadi? Dan mengapa Revolusi Industri teijadi demikian? Beberapa saijana melihat bahwa akar dari revolusi Industri adalah tekanan penduduk (Wilkinson, 1973; Boserup, 1981). Jadi mereka melihat Revolusi Industri sesederhana perkembangan teknologi yang — seperti perkembangan awal teknologi Revolusi Neolitik atau munculnya bajak, — berakar pada keinginan untukmencegah menurunnya standar kehidupan dengan menciptakan banyak hal. Dengan demikian, tidak berarti bahwa industrialisasi dapat diterangkan dengan pertumbuhan demografis. Kita di sini sedang bicara tentang perubahan teknologi yang jauh berbeda dari perubahan teknologi pada masa-masa purba dulu.

Penjelasan yang lebih baik ialah bahwa Revolusi Industri merupakan hasil logis dan dapat diperkirakan dari perkembangan ekonomi-dunia Eropa (Wallerstein, 1989). Pada pertengahan abad xviii, secara mencolok Inggris muncul sebagai kekuatan dominan dalam ekonomi. Inggris meluaskan pasar impor dan ekspornya ke seluruh sistem kapitalis dan sangat memusatkan perhatian terhadap kekayaan sendiri. Kekayaan ini menjadi penting sebagai modal untuk membiayai pabrik-pabrik dan mesin, sehingga Inggris berada dalam posisi keuangan yang sangatbaik untuk memulai perkembangan industri. Tapi sebagaimana pendapat Eric Hobsbawn (1968), dalam kapitalisme tidak ada bias inheren ke arah penemuan teknologi untuk kepentingannya sendiri. Kapitalisme hanya mengandung bias untuk peningkatan keuntungan dan akan mencari temuan-temuan sejauh itu menguntungkan untuk dilakukan. Dengan pengertian ini, mudah diketahui mengapa Inggris cukup kuat berorientasi kepada perkembangan industri penting. Industrialisasi mengarahkan peningkatan produksi dan memperkecil biaya, dan hal ini menyebabkan perluasan keberadaan pasar domestik dan luar negeri Inggris serta penciptaan pasar-pasar baru. Akibatnya adalah peningkatan akumulasi modal dalarn skala besar. Sebagaimana Hobsbawm menuliskannya (1968:38): Revolusi Industri dilahirkan dalam beberapa dasawarsa ini —setelah 1740-an, ketika pertumbuhan yang massif tapi pelan ekonomi dalam negeri bergabung dengan eksp ansi ekonomi internasional yang cepat — setelah tahun 1750 malah sangat cepat; dan hal itu menyebabkan ekonomi dalam negeri menjadi bagian penting dari pasar-pasar luar negeri.

Karena itu, Revolusi Industri merupakan produk historis dari ekonomidunia kapitalis Eropa, dan hal itu dilakukan oleh bangsa yang secara ekonomi sangat kuat. Kenyataan ini juga membantu untuk menjelaskan mengapa Revolusi Industri terjadi pada saat itu dan bukan sebelum atau sesudahnya. Revolusi Industri tidak dapat terjadi sebelumnya karena kelahirannya sangat tergantung pada penciptaan dan perluasan penting dari ekonomi-dunia kapitalis. Ia juga tidak dapat terjadi sesudahnya karena teknologi industri adalah suatu unsur penting —bahkan sangat mendasar— dari suatu ekonomi yang meluas, yang secara fundamental menghendaki pertumbuhan yang tak terbatas.

Juga penting untuk melihat mengapa Revolusi Industri tidak terjadi di luar Eropa. Dari semua masyarakat non-Eropa, Cina adalah satu negeri yang sepantasnya mengalami suatu Revolusi Industri. Wallerstein (1974a) menunjukkan, dalam tahun 1500 Cina secara teknologis paling tidak semaju, jika tidak lebih maju, Eropa barat (dalam McNeill, 1982). Tapi pada tahun 1800 Eropa Barat telah jauh melampaui Cina. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan teknologi bukanlah suatu proses yang otonom, yang terjadi karena kemauannya sendiri, tapi lebih tergantung pada kondisi khusus. Eropa Barat, dan Inggris terutama, jelas mempunyai kondisi tersebut yang secara logis melahirkan penemuan teknologi yang penting. Tapi apa yang dipunyai (atau tidak dipunyai) Cina untuk mengantarkan kemajuan teknologi? Dalam satu hal, Cina tidak diatur dalam cara produksi kapitalis abad xviii. Selain itu, Cina merupakan negara kerajaan birokratis yang tidak tergantung pada kemajuan teknologi untuk memperkaya dirinya dan malah menekan banyak penemuan teknologis karenaberpotensi mengganggu ekonomi (Wallerstein, 1974a). Karena itu, Kerajaan Cina sangat kurang menunjang untuk menjadi ajang revolusi industri dunia yang pertama.

Filed under : Bikers Pintar,