PENGERTIAN REVOLUSI KELUARGA KONTEMPORER ADALAH – Tesis Lasch, yang telah dicatat di muka, ialah bahwa keluarga pribadi modern munculsebagai surga dari adanya tekananperadaban kapitalis modern. Namim, Lasch juga mengemukakan bahwa dalam beberapa dekade lalu keluarga itu sendiri berada di bawah tekanan sehingga tidak lagi mampu memenuhi peranarmya sebagai tempat pelaria.n. Apakah ini benar atau tidak, keluarga masyarakat Barat sejak awal tahun 1960-an telah mengalami ketegangan dan telah mengalami perubahan besar.- Perubahan itu meliputi hubungan antara suami dan istri dan antara orang tua dengan anak-anak mereka yang telah remaja. Salah satu dari perubahan-perubahan yang secara luas dibahas dalam kehi-dupan keluarga sejak awal tabun 1960-an ialah kenaikan mencolok gejala kohabitasi — pasangan-pasangan yang hidup bersama tanpa nikah. Meningkatnya kohabitasi merupakan gejala yang menarik pada masyarakat industri Barat, meskipun telah ditemukan pula pada beberapa masyarakat lain. Di Amerika Serikat, misalnya, terdapat dua kali lipat jumlah pasangan kohabitasi tahun 1970-an, dan sejak 1977 sampai 1979 saja terdapat kenaikan 40 persen dalam tingkat kohabitasi (Cherlin, 1981). Hidup bersama telab pula menjadi umum di Perancis. Survei tahun 1977 menemukan bahwa 31 persen pasangan yang nikah antara usia 18 dan 29 tahun telah hidup bersama sebelum mereka nikah (Cherlin, 1981). Di Swedia kohabitasi itu telah menjadi praktek yang universal, karena 99 persen dari pasangan Swedia telah hidup bersama sebelum menikah (Cherlin, 1981). Tingkat kohabitasi yang tinggi sekarang ini ternyata tidak memperlihat- , kan ancaman yang berarti terhadap perkawinan. Seperti dikemukakan oleh Andrew Cherlin (1981), kohabitasi agaknya lebih merupakan suatu tahap persiapan untuk nikah ketimbang pengganti perkawinan. Yang jelas kohabitasi yang telah menjadi demikian umum itu sesungguhnyamenunjukkan bahwa kehidupan perkawinan dan keluarga telah berubah dalam masa seperempat abad dan orang mempunyaihaapan-harapan yang sangat berbeda dari keadaan Perubahan besar lainnya dalam kehidupan keluarga dalam seperempat abad yang lalu ialah menurunnya secara mencolok fertilitas, atau wanita tidak sering lagi mengandung. Tingkat fertilitas sangat meningkat setelah Perang Dunia II, dan kaum wanita terutama, mengandung pada pertengahan sampai akhix tahun 1950-an. Rata-rata jumlah anak adalah 3,2 (tentu saja, masa ini dikenal sebagai talum-tahun baby boom). Tetapi sejak awal 1960-an tingkat fertilitas menurun secara rnencolok, menjadi 1,9 anak per wanita untuk kaum wanita yang mengandung pada tahun-tahun 1970-an. Sej ak pertengahan tahun 1970-an tingkat fertilitas agaknya tetap rendah (U.S. Bureau of the Census, 1985). Akhirnya, penting pula diamati, kecenderungan dalam perceraian. Seperti diperlihatkan Gambar 16.1, tingkat perceraian pada umun-inya telah meningkat sejak pertengahan abad xix. Tingkat perceraian i11i melonjak selama Perang Dunia II (karena dampak perang bersifat mengganggu kehidupan perkawinan), kemudian kembali ke tingkat sebelum perang dan tetap stabil sejak akhir tahun 1940-an sampai awal 1960-an. Sejak itu tingkat perceraian itu naik dengan tajam, dari kira-kira 9 perceraian per 1000 wanita yang kawin dalam tahun 1960 menjadi 22 perceraian per 1000 wanita yang kawin dalam tahun 1978. Bubarnya perkawinan menjadi sangat sering. Seperti dicatat oleh Cherlin (1981: 24-25), “jika tingkat perceraian tahunan tetap sarna pada tahun 1980-an dan 1990-an seperti halnya 1977, maka 48 persen dari mereka yang kawin pada tahun 1970 akhirnya bercerai”. Kecenderungan belakangan ini dalam hubungan perkawinan secara mencolok diperlihatkan oleh Swedia (Popenoe, 1988). Pada masa izli Swedia mempunyai tingkat perkawinan yang paling rendah dibandingkan dengan sesama masyarakat industri dan mempunyai uSia perkawinan pertama yang rata-rata paling tinggi. Sejak tahun 1960 perkawinan telah semakin digantikan oleh kohabitasi tidak nikah. Sebagai contoh, dalam tahun 1960 hanya kira-kira 1 persen dari semua pasangan yang tinggal bersama yang tidak nikah, tapi jumlah ilzi telah naik menjadi kira-kira 21 persen pada tahun 1983 (Popenoe, 1988). Swedia juga memimpin dunia induS.tri dalam hal persentase keluarga yang dikepalai oleh orang tua tunggal, dan juga dalam persentase semua rumah tangga beranggotakan satu orang. Sebagai tambahan, Swedia mempunyai ukuran rumah tangga rata-rata terkecil dibmadingkan dengan masyarakat industri lainnya. 

Filed under : Bikers Pintar,