Advertisement

Kita menyadari bahwa Kepulauan Nusantara terdiri atas aneka warna kebudayaan dan bahasa sehingga, demi integrasi nasional, kita mempunyai rumusan Bhinneka Tunggal Ika yang artinya bhinna = pecah, ika = itu, dan tunggal = satu, sehingga bhinna ika tunggal ika artinya “terpecah itu satu”.

Kita bangga dengan rumusan tersebut, tetapi kita prihatin dengan aneka warna masalah yang timbul akibat aneka warna bangsa kita. Dan yang paling pokok dalam pembicaraan ini adalah masalah kebudayaan nasional Indonesia. Selain perbedaan di dalam pengertian kebudayaan nasionalnya sendiri, juga hal ini menyangkut masalah cita-cita suatu bangsa yang akan menentukan masa depannya.

Advertisement

Tidak jarang sifat kebhinnekaan bangsa kita sampai pada konflik tingkat nasional yang menyebabkan terganggunya integrasi nasional sebagai cita-cita bangsa. Kebudayaan demikian kompleksnya menyangkut berbagai segi kehidupan manusia dan masyarakat, serta merupakan unsur utama dalam proses pembangunan diri manusia dan masyarakat. Demikian pula masalah kebudayaan menyangkut kepribadian nasional dan langsung mengenai identitas suatu bangsa. Dan logikanya proses pembangunan manusia dan masyarakat tidak dapat melepaskan diri dari unsur kebudayaan. Manusia dan masyarakat akan berhasil dalam pembangunan dirinya kalau selalu sadar terhadap pengaruh kebudayaan yang tak mungkin dapat ditolaknya.

Berdasarkan berbagai pertimbangan di atas, kita perlu menelusuri kebudayaan nasional Indonesia. Pembicaraan kebudayaan nasional dimulai sejak tahun 1936 ketika diselenggarakan polemik kebudayaan antara Sutan Takdir Alisjahbana c.s. di satu pihak (sebagai wakil Golongan Indonesia Moeda) dan Sanusi Pane, Ki Hajar Dewantara, serta Dr. Sutomo di pihak lain. Polemik ini lengkapnya ada dalam buku Polemik Kebudayaan yang diterbitkan oleh Balai Poestaka pada tahun 1948.

Rurnusan tentang kebudayaan nasional itu dapat dikelompokkan ke dalam dua aliran, yaitu:

  1. Keindonesiaan sebenarnya sudah ada sejak dahulu kala, mulai dari adat, seni, dil. Yang belum ada iaiah nasion Indonesia. Jadi, yang periu diusahakan oleh bangsa Indonesia dalam membangun kebudayaan nasionalnya ialah bagaimana memperbaharui kebudayaan sehingga sesuai dengan kebangsaan Indonesia. Jalan yang harus ditempuh iaiah perluasan dasar kebudayaan Indonesia dengan cara memesrakan (menyerapkan, memadukan) materialisme, intelektualisme, dan individualisme (Barat) dengan spiritualisme, perasaan, dan kolektivisme (Timur). Aliran pertama ini dipelopori oleh Ki Hajar Dewantara c.s.
  2. Aliran yang dipelopori oleh Sutan Takdir Alisjahbana menghendaki penciptaan kebudayaan nasional Indonesia banyak dipengaruhi oleh unsur-Barat yang dinamis. Kebudayaan nasional yang baru itu dengan sendirinya rneneerminkan pula watak dan kepribadian bangsa Indonesia yang berbeda dengan watak dan kepribadian sebelumnya (masyarakat dan kebudayaan pra-Indonesia).

Kalau diperhatikan dengan saksama, sebenarnya kedua aliran tersebut menghendaki adanya peranan kebudayaan Barat dalam kebudayaan nasional, hanya dalam hal peranannya yang berbeda. Aliran pertama Ki Hajar Dewantara c.s. — menghendaki perluasan dasar asas Barat. Bukan perubanan, melainkan perluasan dengan asas Barat. Kebudayaan nasional Indonesia sebagai kebudayaan Timur harus mementingkan kerohanian, perasaan, gotong-royong, bertentangan dengan kebudayaan Barat yang mementingkan materi, intelektualisme, dan individualisme. Orang Indonesia tidak boleh melupakan sejarah dan kebudayaannya, sebab dengan mempelajari sejarah dan kebudayaan di masa lalu, ia dapat membangun kebudayaan yang baru. Kebudayaan Indonesia harus berakar pada kebudayaan pra-Indonesia.

Aliran kedua Sutan Takdir Alisjahbana c.s. — menghendaki semangat Barat yang kreatif dalam segala lapangan kehidupan masyarakat dan kebudayaan Indonesia, semangat menundukkan alam untuk kepentingan manusia. Semangat Barat yang dinamis pada hakikatnya bersaudara dengan semangat Indonesia. Jadi, diperlukan perubahan mental dari yang statis kepada yang dinamis dalam membangun kebudayaan nasional Indonesia. Kebudayaan nasional menurut Sutan Takdir Alisjahbana baru muncul pada permulaan abad ke-20 oleh generasi muda Indonesia yang berjiwa dan bersemangat keindonesiaan. Sebelum gagasan kebudayaan Indonesia Raya, yang ada hanya kebudayaan-kebudayaan suku bangsa di daerah. Kebudayaan nasional janganlah tersangkut dalam kebudayaan zaman pra-Indonesia, dan agar membebaskan diri dari kebudayaan kesukubangsaannya, tidak berjiwa provinsialistis, tetapi dengan semangat Indonesia baru. Kebudayaan nasional Indonesia merupakan suatu kebudayaan yang dikreasikan, yang baru sama sekali, dengan mengambil banyak unsur dari kebudayaan Barat yang universal. Unsur kebudayaan Barat tersebut adalah teknologi, orientasi ekonomi, keterampilan berorganisasi secara luas, dan ilmu pengetahuan. Orang Indonesia harus mempertajam akalnya dan mengambil alih dinamisme dari Barat.

Pendapat lain yang tidak mengikutsertakan unsur Barat adalah pendapat Harsya Bachtiar. Harsya mengatakan bahwa kebudayaan nasional Indonesia di dalam masyarakat Indonesia yang merdeka haruslah suatu kebudayaan ”yang baru sama sekali”, bersih dari kebudayaan feodalis dan atau sisa-sisanya, maupun dari ciri-ciri arkais sukuisme atau macammacam etnosentrisme lainnya.

Koentjaraningrat berpendapat bahwa pembangunan kebudayaan nasional Indonesia perlu berorientasi ke zaman kejayaan nenek moyang bangsa Indonesia yang telah lampau, tetapi juga ke zaman sekarang, ketika kebudayaan perlu memberi kemampuan kepada bangsa Indonesia untuk menghadapi peradaban dunia masa kini. Konsep Koentjaraningrat tentang kebudayaan nasional bersifat operasional, yaitu berorientasi pada warisan nenek moyang dari zaman kejayaan dan pada zaman sekarang, yaitu zaman modern (Barat). Dalam pemikiran ini tercermin adanya sintesis antara Barat dan Timur, warisan dari zaman keemasan nenek moyang, artinya sealiran dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara c.s.

Lebih lanjut Koentjaraningrat mengatakan bahwa kebudayaan nasional Indonesia berfungsi sebagai pemberi identitas kepada sebagian warga dari suatu nasion, merupakan kontinyuitas sejarah dari zaman kejayaan bangsa Indonesia di masa yang lampau sampai kebudayaan nasional masa kini. Jadi, keseluruhan gagasan kolektif dari semua warga negara Indonesia yang bhinneka yang beraneka warna itulah yang merupakan kebudayaan nasional Indonesia dalam fungsinya untuk saling berkomunikasi dan memperkuat solidaritas. Berdasarkan fungsinya, kebudayaan nasional menurut Koentjaraningrat adaiah:

  1. Suatu sistem gagasan dan perlambang yang memberi identitas kepada warga negara Indonesia.
  2. Suatu sistem gagasan dan perlambang yang dapat dipakai oleh warga negara Indonesia yang bhinneka itu, untuk saling berkomunikasi dan dengan demikian dapat memperkuat solidaritas.

 

Fungsi kebudayaan nasional Indonesia sebagai suatu sistem gagasan dan perlambang yang memberi identitas kepada warga negara Indonesia harus memenuhi tiga syarat, yaitu:

  1. merupakan hasil karya warga negara Indonesia,
  2. mengandung ciri-ciri khas Indonesia, dan
  3. hasil karya warga negara Indonesia yang dinilai tinggi oleh warganya dan menjadi kebanggaan semua.

 

Pemikiran tentang kebudayaan nasional ini memang menimbulkan polemik tetapi bermanfaat untuk pembinaan kebudayaan nasional dan menunjukkan adanya perhatian dan tanggung jawab warga negara terhadap citacita bangsanya.

Bagi negara Indonesia sebenarnya rumusan kebudayaan nasional sudah jelas tercantum dalam penjelasan UUD 45 pasal 32 yang berbunyi: “Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha buainya rakyat Indonesia seluruhnya.”

Kebudayaan lama dan asli terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus mampu menuju ke arah kemajuan abad, budaya, dan persatuan, tanpa menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.

Kalau dikatakan bahwa kebudayaan nasional itu merupakan puncakpuncak kebudayaan daerah, maka yang dimaksud dengan puncak-puncak kebudayaan daerah adaiah unsur-unsur kebudayaan daerah yang bersifat universal dan dapat diterima oleh suku bangsa lainnya, tanpa menimbulkan gangguan terhadap latar belakang budaya kelompok yang menerima sekaligus mewujudkan konfigurasi atau gugusan kesatuan budaya nasional. Kebudayaan nasional dalam hal ini diartikan sebagai kebudayaan integral, merupakan suatu totalitas dari proses dan hasil segala aktivitas bangsa Indonesia dalam bidang estetika, moral, dan ideasional. Wujud kebudayaan nasional tersebut meliputi barang-barang buatan (artifact), kelembagaan sosial (socifact), dan buah pikiran (mentifact).

Karena Indonesia mempunyai landasan ideologi Pancasila, maka ditinjau dari perspektif fungsional, Pancasila akan diuji karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya akan menentukan orientasi tujuan sosiopolitik serta kebudayaan pada tingkat makro, akan menentukan kaidahkaidah yang mendasari pola kehidupan nasional. Pancasila dalam hal ini tidak hanya menjadi determinasi bagi kehidupan moral bangsa, tetapi melalui fungsi teleologis (teori) akan memberikan payung ideologis bagi pelbagai unsur masyarakat.

Formasi’kebudayaan nasional dalam rangka pemolaan kehidupan bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila adaiah proses yang timbal balik antara yang ideal dengan yang aktual. Kebudayaan dalam hal ini dipandang sebagai polaritas antar ideal dengan aktual, antara nilai-nilai dan kelakuan individu, antara kebudayaan dan interaksi sosial, dsb. Melalui habituasi (pembiasaan) dan proses kultur akan dihasilkan etos kebudayaan. Etos kebudayaan ini merupakan sistem atau unit yang terdiri atas pelbagai komponen ekonomi, sosial politik, budaya dan yang lainnya sehingga perlu mensintesiskan komponen-komponen tersebut dalam “watak” atau “etos” kebudayaan dari kebudayaan nasional.

Etos kebudayaan ini ada, sebab kebudayaan itu sendiri sangat kompleks dan meliputi eksistensi manusia. Kompleksitas kebudayaan dikemukakan oleh Kluckhohn (1951) bahwa kebudayaan itu bersumber dari sifat biologis, lingkungan, psikologis, dan komponen sejarah eksistensi manusia. Etos kebudayaan ini merupakan kompleks nilai yang koheren serta memberi watak atau identitas khusus kepada kebudayaan yang diresapinya.

Pancasila dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, yang meliputi eksistensi manusia Indonesia, dapat berfungsi sebagai etos kebudayaan nasional. Pancasila sebagai etos kebudayaan Indonesia harus direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, Pancasila berfungsi sebagai kebudayaan normatif yang akan menjelma berupa personalisasi. Personalisasi tersebut merupakan kebudayaan nasional yang meliputi konsep kepribadian nasional dan identitas nasional.

Incoming search terms:

  • fungsi kebudayaan nasional menurut koentjaraningrat
  • pengertian kebudayaan nasional menurut dr sutomo
  • pengertian kebudayaan nasional menurut para ahli
  • rumusan budaya indonesia
  • Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha rakyat indonesia seluruhnya ini merupakan rumusan yang tercantum dalam
  • Kebudayaan bangsa ialah yamg timbul sebagai buah usaha rakyat indonesia tercantum
  • yang dimaksud dengan puncak kebudayaan dan teknologi
  • jelaskan rumusan kebudayaan nasional indonesia menurut beberapa ahli
  • jelaskan nila nila kepribadian kebudayaan nasional
  • fungsi kebudayaan menurut koentjaraningrat

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • fungsi kebudayaan nasional menurut koentjaraningrat
  • pengertian kebudayaan nasional menurut dr sutomo
  • pengertian kebudayaan nasional menurut para ahli
  • rumusan budaya indonesia
  • Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha rakyat indonesia seluruhnya ini merupakan rumusan yang tercantum dalam
  • Kebudayaan bangsa ialah yamg timbul sebagai buah usaha rakyat indonesia tercantum
  • yang dimaksud dengan puncak kebudayaan dan teknologi
  • jelaskan rumusan kebudayaan nasional indonesia menurut beberapa ahli
  • jelaskan nila nila kepribadian kebudayaan nasional
  • fungsi kebudayaan menurut koentjaraningrat