Advertisement

Manakah di antara ketiga saluran komunikasi ini — yakni verbal, kelihatan, dan parabahasa — memberikan paling banyak informasi mengenai emosi seseorang? Berbagai penulis di tahun-tahun terakhir ini berspekulasi bahwa para pengamat memberikan pertimbangan lebih berat kepada petunjuk nonverbal dan cenderung mengesampingkan komunikasi verbal. Contohnya, Birdwhistell (1970) berkata bahwa tidak lebih dari 30 sampai 3 5 persen arti pembicaraan sosial diungkapkan dalam kata- kata. Mehrabian (1972) memperkirakan bahwa hanya 7 persen dari komunikasi emosi tercapai melalui saluran verbal, 5 5 persen dicapai melalui saluran yang kelihatan, dan 38 persen dengan saluran parabahasa. Penulis lain lebih memperdalam lagi dengan berargumentasi bahwa saluran yang kelihatan mendominasi komunikasi emosi; artinya, informasi “video” lebih penting daripada “audio” (De Paulo et al., 1978). Masalah saluran mana yang paling serius dipergunakan sangat penting jika pengamat mendapat petunjuk yang saling bertentangan dari berbagai saluran. Bagaimana Anda menginterpretasikan perasaan pacar Anda ketika dia mengatakan bahwa dia mencintai Anda sementara ia sendiri menjauh dan tidak mau bertatapan dengan Anda? Saluran verbal dan kelihatan komunikasinya nampak bertentangan. Bagaimana jika teman sekamar Anda membentak Anda bahwa dia sama sekali tidak marah kepada Anda karena Anda memecahkan cangkir kopi kesayangannya? Shakespeare berkata, “Saya kijra dia terlalu banyak protes.” Pertentangan dalam saluran menjadi sangat penting dalam menginterpretasikan komunikasi yang jelas menipu. Pada kasus semacam itu, apakah komunikasi nonverbal dan komunikasi yang terlihat dapat menjadi patokan utama seperti yang disarankan beberapa ahli riset?

Belum lama berselang, pernyataan di atas diuji coba dengan keras. Dalam salah satu telaah semacam yang paling jelas, Krauss et al. (1981) menampilkan di hadapan para subjek, pita video tentang perdebatan antara dua calon wakil presiden Amerika Serikat yang direkam tahun 1976, yakni antara Walter Mondale dan Robert Dole. Perdebatan itu dimulai dengan menyenangkan, tetapi berlanjut dengan panas dan penuh rasa dendam. Para ahli riset memilih 12 kutipan dari masing-masing pembicara, di mana setengahnya berisi emosi positif dan setengah negatif. Lalu masing-masing subjek diberi kutipan-kutipan tadi dengan satu dari empat syarat, yaitu:

Advertisement

(1) audio visual — yang merupakan versi standar yang dijadikan pita video;

(2) verbal saja — yaitu salinan tertulis seperti yang disiarkan dalam surat kabar New York Times;

(3) hanya video yang suaranya dimatikan; dan

(4) parabahasa, yaitu hanya mendengar suara saja, tetapi isinya sudah disaring sehingga sua-ranya tidak jelas, sementara bagian nonverbal yang menarik seperti nada suara, keras lembut suara, kecepatan, dan lainnya ditutupi.

 

Kondisi audio-visual sempurna menyediakan ketiga saluran komunikasi; yang tiga lagi secara berurutan menyediakan informasi verbal saja, yang terlihat, dan parabahasa. Masalah pokoknya ialah mana di antara ketiga informasi itu yang mendapat tanggapan paling serupa dengan tanggapan yang diterima versi audio-visual sempurna? Dapat disimpulkan bahwa itulah yang akan menunjukkan komunikasi individual mana yang mengkomunikasikan informasi terbanyak tentang emosi para pembicara yang sesungguhnya. Salinan tertulis terbukti rawan untuk menentukan apakah emosi positif atau negatif yang diekspresikan; maksudnya, informasi verbal paling penting, berlawanan dengan spekulasi tentang pentingnya komunikasi nonverbal tadi. Untuk melihat apakah penemuan yang sama akan sesuai dengan komunikasi yang lebih khusus dalam kehidupan sehari- hari para mahasiswa, Krauss et al. membuat eksperimen kedua yang menampilkan tanggapan para mahasiswa tahun pertama terhadap pertanyaan afektif, kepada para subjek (‘Siapakah orang paling Anda sukai dalam hidup Anda? Gambarkan bagaimana orang tersebut dan reaksi Anda terhadapnya’) dengan menggunakan keempat syarat yang sama dengan yang dipergunakan dalam telaah perdebatan yang baru kita gambarkan. Hasilnya sangat serupa, yaitu: Salinan tertulis aktual tentang komentar orang tersebut paling menentukan persepsi perasaan orang itu.  Dalam kedua telaah itu, saluran yang terlihat menyumbang hanya sedikit sekali bagi penilaian pengamat. Informasi parabahasa memberikan sumbangan bagi penilaian potensi dan tingkat aktivitas penampilan para pendebat. Yaitu, para pengamat yang hanya diberi jalur suara tidak-jelas, memberikan penilaian yang sama tentang tingkat enersi seperti mereka yang diberi informasi audiovisual sempurna. Implikasinya ialah bahwa informasi parabahasa, seperti kontak mata, cukup dapat menangkap enersi dan keterlibatan, meskipun ia tidak cukup dapat menangkap jenis emosi tertentu yang diekspresikan.

Telaah selanjutnya oleh Apple dan Hecht (1982) menemukan bahwa informasi parabahasa terutama sangat berguna untuk mendeteksi kesedihan. Mereka menyuruh beberapa pembicara menyampaikan kalimat-kalimat beremosi tertentu yang menggambarkan: kebahagiaan, kesedihan, kemarahan, atau rasa heran. Tidak ada petunjuk visual yang diberikan, dan isi verbal kalimat tersebut disaring dari rekaman. Para pendengar dapat mengidentifikasi secara langsung kalimat sedih, tetapi mereka hanya dapat mengidentifikasi lainnya secara samar dan secara kebetulan. Pengarangnya berspekulasi bahwa kesedihan diekspresikan melalui petunjuk parabahasa yang jelas (ucapan yang lambat, lembut, bernada-rendah), sedangkan emosi lainnya diekspresikan dengan petunjuk lebih bersemangat yang seringkah membingungkan pendengarnya. Jadi secara umum, petunjuk nonverbal tidaklah merupakan pemandu yang tepat (parabahasa dan informasi yang terlibat), bagi perasaan emosional orang lain. Tidak ada sesuatu pun yang bersifat komunikatif secara ajaib atau tanpa meragukan bagi petunjuk nonverbal. Orang dapat mengkomunikasikan berbagai pesan menurut konteksnya. Sebuah sentuhan pada lengan oleh seorang kenalan yang menarik sangat berbeda maknanya ketimbang sentuhan yang sama oleh seorang gelandangan di setasiun kereta api.” Tepukan di pundak yang dilakukan atasan Anda mungkin mempunyai arti yang lain lagi. Sebuah senyuman di wajah seorang penjahat ketika dia beranjak menuju korbannya yang tidak berdaya mempunyai arti yang sama sekali lain dari senyuman di wajah seorang kawan ketika dia melihat Anda berjalan di kampus. Petunjuk nonverbal dapat bersifat informatif hanya jika didasari secara kuat oleh konteks yang sudah dikenal, jika kita tahu peranan orang lain itu, mempunyai beberapa gagasan mengenai tujuan umumnya, mengetahui norma-norma situasi, dan sebagainya. Jika kita tidak mempunyai konteks yang sudah dikenal secara umum, seperti kunjungan pertama ke luar negeri, seringkah kita merasa bingung dan tidak dapat memahami petunjuk nonverbalnya.

Incoming search terms:

  • syarat saluran dalam komunikasi
  • yang dimaksud saluran ganda

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • syarat saluran dalam komunikasi
  • yang dimaksud saluran ganda