Advertisement

Terdapat empat jenis, yaitu sastra Eropa, Timur Tengah, India, dan Cina.

Sastra Eropa. Penyumbang pertama sastra Eropa kuno adalah bangsa Yunani Purba. Penyair Homeros yang buta (abad ke-9 SM) telah menulis dua epos besar, Iliad dan Odyssey, sebagai standar puisi epik sastra Barat dengan gaya tutur yang tangkas, cemerlang, dengan imajinasi primitif dan pemujaan kepada bangsa melalui kepahlawanan tokohnya. Sekitar tahun 600 dan 500 SM muncul tokoh sastra, seperti Aeskilos (525-456 SM) yang menulis drama tragedi (masih ada tujuh buah dari 90 ciptaannya), Prometheus Dibelenggu, trilogi Oresteia dan Tujuh Melawan Thebes. Kemudian Euripides (485-406 SM), yang terkenal karena ungkapan perasaan lebih mendalam daripada Aeskilos yang Filosofis dan moralis, telah menulis 80 karya drama tetapi hanya 19 yang selamat, antara lain Alkestis, Medea, Eiektra, Orestes. Penulis drama lain, Sophokles (496-406 SM), terkenal karena konstruksi dramanya kuat dan pandai melukiskan watak manusia. Karyanya yang abadi Oidipus Sang Raja, Antigone, Oidipus di Kolonus, Eiektra, Ayax. Dari 123 ciptaannya hanya tinggal tujuh buah yang dapat dinikmati sampai sekarang. Dari Yunani muncul juga penulis dongeng, Aesop (abad ke-6 SM), yang mewariskan puluhan cerita pendek dengan tokoh binatang yang berisi ajaran moral sederhana. Aristophanes (450-385 SM) menyumbangkan drama komedi sebanyak 11 buah dari 44 ciptaannya seperti Burung-burung, Katak-katak, Awan-awan, Lysistrata. Komedinya lebih bersifat teatrikal daripada sastrawi. Humornya berupa kritik tajam dengan sasaran moral serius. Ada juga penyair lirik wanita, Sappho (sekitar 650 SM), yang menulis sajak lirik pemujaan dewa, khususnya Dewi Aphrodite. Gaya emosionalnya berpengaruh terhadap penyair lirik sesudahnya. Penyair lirik lain, Pindarus (518-438 SM), banyak menulis ode bagi pemenang lomba Olimpiade dengan imajinasi cemerlang dan penuh moral.

Advertisement

Penyumbang lain, penulis Romawi, melalui penyair Virgilius (70-19 SM) yang menulis epos Aeneas dengan mencontoh gaya Homeros, berisi pujaan terhadap berdirinya kota Roma. Patriotismenya terhadap kota Roma dituangkan dalam Georgika dan Eklogu, yang berisi nyanyian daerah pedesaan. Sastrawan besar lainnya, Ovidius (43-19 SM), yang dipandang “maestro” dalam kerapihan bentuk, penggambaran yang tajam, tepat dan selalu segar serta ceria. Mula-mula karyanya bertema percintaan seperti Ameros (Lagu-lagu Asmara), Surat-surat Cinta Para Wanita di Jaman Pahlawan, Ars Amatoria (Seni Bercinta) dalam Remedia Amoris (Obat Cinta). Karya-karya yang lebih serius adalah Fasti (tak selesai), Metamorfosis yang berisi 240 cerita mitos dalam 15 buku. Ketika dibuang karena membuat murka Kaisar Agustus, Ovidius menulis Tristia (Nyanyian Duka) dan Epistolae exPonto (Surat-surat dari Jembatan). Penyair terkenal lain ialah Junius Juvenalis (47-130 SM) yang mewariskan 16 karya sastra.

Sastra Timur Tengah. Bangsa-bangsa Timur Tengah (Mesir, Palestina, Fenisia, Mesopotamia, dll) di jaman kuno telah mencapai peradaban tinggi. Dari Timur Tengah diwariskan karya sastra lestari dalam berbagai kitab keagamaan. Karya-karya sastra pendek berupa prosa dan puisi dari Mesir Purba ditemukan sekitar tahun 5000 SM dalam bentuk tulisan papirus. Penulis karya Mesir Purba antara lain Ptahhotep yang banyak memberikan ajaran moral dan pujangga Ennana (abad ke-14 SM) yang menceritakan Kisah Anepoe dan Satoe, mirip kisah Yusuf dalam Perjanjian Lama. Dikenal pula Thaimhotep (42 SM) dan firaun Akhnaton yang banyak menulis puisi pujaan kepada Matahari. Masih banyak kekayaan rohani terpendam dari sastra Mesir Purba yang kini dipinjam oleh kebudayaan lain. Dari bangsa Israel muncul raja dan penyair Daud (1000 SM) yang terkenal dengan puisi Mazmur dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, juga raja Sulaiman dengan Madah Agung. Dari Mesopotamia diwariskan epik Gilgamesh dan kitab Zen Awesta tulisan Zarathustra yang terdiri atas 21 kitab dan pada abad ke-3 M dihidupkan kembali oleh Dinasti Sasanid.

Sastra India Kuno. India Kuno mewarisi dua epos termasyhur, Mahabarata dan Ramayana (sekitar 500 SM), yang menurut tradisi epik pertama ditulis oleh Wiyasa dan kedua oleh Walmiki. Mahabarata terdiri atas 18 jilid sehingga dinamakan Astadasaparwa berisi sekitar 100.000 seloka. Ramayana terdifi atas tujuh jilid dan memuat sekitar 24.000 seloka. Satu seloka berupa puisi dua baris dengan 16 suku kata. Epos Mahabarata dan Ramayana mempunyai kedudukan sejajar dengan Ilias dan Odysseus dalam hal pengaruh budaya terhadap bangsa-bangsa Timur dan Barat. Pujangga India yang sangat berpengaruh di dunia Barat adalah Kalidasa (50 SM) yang menulis drama, puisi, dan epos. Dramanya yang terkenal, Shakuntala, berpengaruh terhadap Goethe, Schiller dan Herder. Karya lainnya banyak diterjemahkan di Barat seperti Raghuwangsa, Kumarashambawa (Lahirnya Kumara), Nalodaya. Darmawan Bhasa (350) menulis Impian Wasawadatta dan Sudraka menulis drama Kereta Tanah Liat.

Sastra Cina Kuno. Warisan sastra tertua dari Cina berupa buku Sih-King disusun oleh Kong Hucu 479 SM). Karya ini berisi berbagai sajak moral yang terdiri atas 311 sajak. Kong Hucu juga menyusun kitab-kitab lain yang lebih bersifat uraian moral daripada bernilai sastra. Penyair Cina, Ch’u Yuan (343- 277 SM), terkenal dengan bukunya berjudul Li Sao, sebuah puisi panjang. Meskipun bergaya personal, puisinya masih tetap membawa gaya puisi ritual-tradisional. Lao Tze (600 SM) dikenal sebagai penulis buku Tao Te King yang berisi uraian prosa dan puisi da?f ajaran Taoisme.

Advertisement