Advertisement

Istilah sejarah budaya mulai digunakan di akhir abad 18, khususnya di Jerman, yang diinspirasikan oleh pemikiran Herder, Hegel dan para ilmuwan lainnya dalam memandang berbagai bagian kebudayaan sebagai satu kesatuan yang utuh (mereka merangkum sejarah literatur, kesusasteraan, seni dan musik dan mencoba memadukannya sebagai satu kesatuan). Contoh karya sejarah budaya terkenal di abad ke 19 diciptakan oleh ilmuwan Swis Jacob Burckhardt yang berjudul Civilization of Renaissance in Italy (1860) yang tidak hanya membahas sejarah lukisan atau kesusasteraan, namun juga sikap-sikap manusia yang mendukungnya, individualisme, pemujaan terhadap benda-benda antik, moralitas dan organisasi kesenian. Di awal abad 20, sejarawan Belanda Johan Huizinga menyajikan karya yang sangat cemerlang mengenai kebudayaan Franco- Flemish. berjudul The Waning of the Middle Ages (1919) yang mengambil model Burckhardt, dan dalam waktu bersamaan ilmuwan Hamburg Aby Warburg menulis serangkaian artikel mengenai sejarah puisi klasik dan ilmu kebudayaan (kulturwissenschaft) yang kemudian ditransfer ke London di tahun 1933. Namun tulisan-tulisan awal tersebut belum dapat dikatakan sebagai sejarah budaya dalam pengertian sesungguhnya. Wujud sejarah budaya yang kita kenal sekarang mulai muncul pada periode antara dua perang dunia ketika sejumlah ilmuwan Perancis yang dimotori oleh pendukung aliran Annales menyusun tulisan-tulisan sejarah secara komprehensif, termasuk sejarah mengenai men-talitas kolektif yang kemudian didukung oleh tulisan para ilmuwan Amerika yang berfokus pada sejarah gagasan. Sejarah budaya tidak lepas dari kritik. Para ilmuwan Marxis mengatakan bahwa studi klasik sejarah budaya sangat tergantung pada konsep-konsep yang tidak terbukti dan terlalu memaksakan kesatuan atau konsensus. Menurut mereka Burckhardt semata-mata menulis sejarah tentang Renaissance sedangkan Huizinga hanya memperlakukan sejarah sebagai suatu budaya yang berdiri sendiri. Ilmuwan non-Marxis seperti Ernst Gombrich juga mengecam karya Burckhardt dan Huizinga itu karena ia merasa tulisan-tulisan tersebut terlalu diwarnai oleh pemikiran Hegel yang sudah tidak dapat diterima. Bangkitnya kembali minat terhadap sejarah budaya holistik di tahun 1970-an berbarengan dengan munculnya reaksi terhadap determinisme sosio ekonomi dan positivisme. Mereka yang berminat menekuni sejarah budaya kemudian mencoba mengembangkannya dengan alur yang telah ditempuh oleh Herder dan Hegel di abad 18, dan juga para ilmuwan Perancis dan Amerika seabad sebelumnya, yang kemudian mereka jadikan pijakan untuk mengembangkan antropologi budaya (tokohnya adalah Clifford Geertz) dan teori-teori kebudayaan yang bersifat lebih umum. Gagasan-gagasan yang dilontarkan oleh Levi- Strauss membangkitkan respon dari sejumlah sejarawan di tahun 1970-an namun pengaruh yang lebih menonjol adalah yang dikemukakan oleh Elias, Bakhtin, Foucault, dan Boordieu yang sejak awal berusaha menyegarkan sejarah budaya, termasuk, dengan meminjam konsep-konsep Derrida. Dewasa ini istilah kebudayaan telah mengalami perluasan makna sehingga mencakup berbagai macam kegiatan. Para sejarahwan mempelajari kebudayaan populer dan juga kebudayaan elit. Mereka tidak hanya memperhatikan seni namun juga aspek-aspek materi dari suatu kebudayaan, dan seni yang mereka pelajari pun lebih luas, tidak sekedar seni lisan atau drama namun juga yang bersifat ritual. Munculnya gagasan mengenai kebudayaan politik kian memperkaya bahan kajian, disusul oleh masuknya praktek-praktek budaya sehari-hari dalam kajian sejarah budaya. Asumsi-asumsi tradisional tentang hubungan antara kebudayaan dan masyarakat telah dirombak. Para sejarawan budaya, seperti halnya para teorisi budaya, kini menyatakan bahwa kebudayaan mampu menahan tekanan-tekanan sosial atau bahkan ikut mewarnai realita sosial yang ada. Karena itu bangkitnya minat untuk mempelajari sejarah representasi (verbal maupun visual), sejarah imajinasi dan sejarah konstruksi, invensi atau konstitusi atas apa yang dianggap sebagai fakta-fakta sosial seperti kelas sosial, negara atau gender merupakan perkembangan lebih lanjut darinya yang sepenuhnya wajar. Sementara itu muncul pula pendekatan lain yang antara lain diinspirasikan oleh pemikiran-pemikiran dalam antropologi, yang berfokus pada pertemuan, perbenturan atau invasi budaya. Para tokoh sejarah budaya yang menggunakan pendekatan ini mencoba merekonstruksikan situasi atau cara-cara penduduk asli Karibia ketika bertemu dengan Colombus, bangsa Astek ketika melihat Cortes atau ketika bangsa Hawaii menyambut Kapten Cook dan para pelautnya. Hal yang hendak ditekankan di sini adalah perimbangan perhatian bagi kedua belah pihak dan upaya mereka untuk saling memahami serta kesalah-pahaman yang sering terjadi di antara keduanya. Pendekatan ini diwarnai oleh perubahan-perubahan persepsi mengenai akulturasi, penerimaan dan penolakan budaya lain, yang dalam kasus-kasus pertemuan budaya (cultural encounters) senantiasa terjadi.

Incoming search terms:

  • menurut sejarawan belanda j huizinga bahwa sejarah bermakna
  • pengertian sejarah kebudayaan
  • pengertian sejarah budaya
  • huizinga sejarawan dari
  • huzinga tentang sejarah kebudayaan
  • enuut sejarawan belanda j huizinga sejah bwrmaka
  • kebudayaan menurut Johan Huizinga
  • pengwrtian sejarah kebudayaan
  • pemgertian sejarah kebudayaan
  • pemikiran johan herder

Advertisement
Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • menurut sejarawan belanda j huizinga bahwa sejarah bermakna
  • pengertian sejarah kebudayaan
  • pengertian sejarah budaya
  • huizinga sejarawan dari
  • huzinga tentang sejarah kebudayaan
  • enuut sejarawan belanda j huizinga sejah bwrmaka
  • kebudayaan menurut Johan Huizinga
  • pengwrtian sejarah kebudayaan
  • pemgertian sejarah kebudayaan
  • pemikiran johan herder