Advertisement

Pengalaman kolektif suatu bangsa tercermin dalam sejarahnya. Pada hakikatnya sejarah sebagai tumpuan segala pengalaman suatu bangsa, seperti halnya riwayat hidup seorang individu adalah faktor dominan dalam proses pembentukkan kepribadian bangsa. Di sini kita menghadapi kenyataan bahwa identitas bangsa terdapat secara imanen dalam sejarahnya.

Sudah menjadi anggapan umum bahwa dalam perkembangan suatu peradaban, peranan bahasa pajda umumnya sangat dominan, dan khususnya fungsi bahasa tertulis. Bagi homo pictus (simbolicus), kode-kode (tanda-tanda) sebagai abstraksi dari realitas atau informasi tentang realitas itu merupakan alat utamanya.Fungsi bahasa sebagai media komunikasi sedemikian esensial bagi proses pembudidayaan segala sesuatu dalam eksistensinya sebagai ens reationale (makhluk berbudi), sehingga seiuruh perbendaharaan kebudayaan bangsa mengendap di dalam bahasa.

Advertisement

Oleh karena itu, bahasa secara “setia” mencerminkan gaya dan etos peradabannya. Penuangan nilai-nilai kultural di dalam bahasa menyebabkan bahasa menjadi wahana utama untuk mengekspresikan “jiwa” dari kebudayaan, dan dengan demikian mengungkapkan kepribadian bangsa serta identitasnya.

Bahasa sebagai gejala kulturai yang utama bukannya semata-mata berfungsi sebagai media komunikasi, tetapi juga menjadi wahana pembu-didayaan tiga dimensi kebudayaan di atas. Bahkan di bidang estetika, bahasa dibudidayakan untuk menjadi bentuk ekspresi dari perasaan estetis.

Di samping itu perlu diutarakan bahwa dalam bidang ideasional, seiuruh kesadaran manusia, alam pikirannya, memori, imajinasi fantasinya, kesemuanya distrukturkan dengan menggunakan bahasa. Seiuruh proses domestikasi (penjinakan) alam pikiran manusia tidak hanya dimungkinkan lewat bahasa, tetapi juga sekaligus dimantapkan dan disempurnakan. Tidak berlebihan kalau dinyatakan di sini bahwa “kata” atau “sabda’Mah yang mampu menciptakan realitas-realitas dalam kesadaran kita.

Di sini perlu disadari bcnar-benar, betapa penting pembudidayaan bahasa, sehingga alam pikiran manusia dapat dijinakkan. Sebab; keliaran dan kelcacauan pikiran serta bahasa akan mengacaukan dan mengaburkan alam pikiran serta gambaran tentang realitas yang dihadapinya.

 

Advertisement