semiotic (semiotika)

Semiotika adalah model penyelidikan kuno yang menggabungan seluruh bentuk dan sistem komunikasi sebagai sebuah bidang (domain). Perkembangan semiotika mengambil tempat dalam bidang yang spesifik, pertama di bidang medis, kemudian di bidang filsafat dan pada abad ke- 20 di bidang linguistik. Perkembangan pesat semiotika dimulai sejak tahun 1950 meliputi beberapa bidang, termasuk sosiologi, antropologi, kesusasteraan, kritisisme kebudayaan, linguistik dan psikoanalisis.

Ide sentral dalam semiotika adalah konsepsi khusus (particular)dan struktur sebuah tanda (sign) yang didefinisikan sebagai ikatan antara yang menandai (signifier) dan yang ditandai (signified). Sebagai contoh, ikatan yang ada antara rangkaian bunyi-bunyian (yang menandai) dan maknanya (yang ditandai) pada bahasa tertentu, atau kebiasaan masyarakat bahwa tanda merah berati bahaya. Pemilihan semiotika meliputi studi tentang adat-istiadat, tanda-tanda, lemen sintaksis (kalimat) dan semantik (bahasa), dan logika. Secara singkat, keseluruhan mekanismenya menjalankan dua fungsi, untuk memproduksi dan mengaburkan makna .serta untuk memindahkan makna ke sistem tanda. Sebagai contoh, semiotika, beradaptasi dengan unik pada penelitian tentang beberapa pertanyaan yang diajukan dalam ilmu sosial: perilaku komunikasi, mitos, ritual, ideologi, serta perubahan dan evolusi sosial budaya. Sumbangan terbesar pada penelitian sosio-semiotik termasuk studi Erving Goffman tentang interaksi tatap muka (face-to-face), kritik Roland Barthes terhadap kebudayaan material modern, penelitian Levi-Strauss tentang mitos India Amerika, dan penyelidikan psikoanaiitis Jacques Lacan.

Asal-usul sejarah

Sintesis pertama yang diketahui dari prinsip semiotika telah terjadi pada pengobatan Yunani (Greek)klasik, suatu cabang yang diuraikan dengan gejala dan tanda penyakit. Dalam konteks terapan bangsa Yunani menjadikan hal itu secara eksplisit sebagai “prinsip tentang hubungan yang selalu berubah dari yang menandai (signifier) kepada yang ditandai (signified)”. Prinsip itu menjadi basis bagi diagnosa awal yang akurat terhadap penyakit. Bangsa Yunani yang terkenal, sebagai contoh, sakit di bagian tangan mengindikasikan ada masalah pada organ vital, bukan pergelangan tangannya, dan awal untuk dasar diagnosa mereka pada pola dari hubungan antar tanda. Kombinasi dari derita (nyeri) tangan, kulitpucat, sakit bernafas telah memberikan makna medis yang jauh lebih tepat pada tempat di mana barisan makna yang tidak tepat yang diperuntukkan bagi seseorang yang mengorperasikannya dengan kerangka kerja primitif tentang sesuatu yang konkret, koreksi analogis antara yang menandai dan ditandai. Pengaruh ini adalah trasfer fenomena yang secara formal bisa dimengerti hanya melalui kerangka kerja relijius ke dalam wilayah ke dalam wilayah ilmu pengetahuan.

Semiotika berkembang sepanjang waktu, seperti pada saat ini, ketika ada kegelisahan umum tentang kemampuan sains Barat untuk menangani problem-problem penting, atau ketika ada pertanyaan yang melebar tentang validitas asal dari kebudayaan Barat dan nilai-nilai filsafatnya. Ketika ada krisis intelektual, hubungan yang problematis dari yang menandai dan ditandai bukanlah lubang rahasia dalam hati dari tanda dan konsesus sosial. Agaknya hubungan antara yang menandai/yang ditandai tampak pada hampir semua orang sebagai diskontinuitas antara kejadian (event) dan maknanya.

Tipologi Peirce tentang tanda-tanda

Dasar intelektual dari arus aktivitas semiotika adalah tulisan-tulisan dari ahli bahasa Swis, Ferdinand de Saussure, dan filosof pragmatis Amerika Charles S. Peirce. Mengikuti sintesis pnnsip semiotika Peirce, ada tiga tipe utama dari dasar tanda pada struktur hubungan yang menandai kepada yang ditandai; patung-patung (icons), daftar kata-kata (indices) dan simbol-simbol (symbols). Tanda iconic bergantung pada pertalian kemiripan antara yang menandai dan ditandai, kebutuhan sosial dan aturan resmi, serta persetujuan mengenai otentisitas dan orisinalitas. Indices dihasilkan oleh aksi langsung dari yang mewakilinya, seperti sisi kiri pada ombak yang tinggi, dan mereka memasukkan ilmu pengetahuan, sejarah dan bentuk-bentuk lain yang uni dan pekerjaan mata-mata. Symbols adalah sesuatu yang semena-mena dan, konvensional (seperti kata dalam bahasa) dan ia membutuhkan konsesus komunitas pada pemaknaan diri. Sejak banyak obyek dan ide bisa diwakili oleh satu dari tiga tipe tanda, model representasi mengakibatkan bentuk interpretasi dan aturan sosial yang spesifik menjadi baik. Secara singkat, setiap model ilmu pengetahuan dan diskursus yang lain menghasilkan (tanpa disadari) keputusan yang didasari refleks, selalu tidak tetap, dan nilai-nilai sosial. Semiotika dapat berfungsi sebagai meta-bahasa dengan menganalisa jalan-jalannya, macam wilayahnya, disiplin yang mewakili materi inti. Sebagai contoh, bingkai pemikiran dan bentuk hubungan sosial yang implisit dalam ilmu pengetahuan eksperimental atau dalam teori Marxis.