PENGERTIAN SEPARUH TULI, MENJADI TUA, DAN PARANOIA – Suatu kemungkinan hubungan antara masalah pendengaran pada usia tua dan timbulnya pikiran paranoid diamati bertahun-tahun lalu oleh Emil Kraepelin dan telah didukung oleh beberapa studi labora torium. Hubungan tersebut tampaknya hanya spesifik dalam paranoia karena hubungan antara masalah pendengaran dan depresi pada orang lanjut usia tidak terlalu erat. Menurut beberapa penelitian, karena hilangnya pendengaran tampaknya mengawali terjadinya delusi paranoid, kemungkinan terdapat hubungan sebab-akibat yang cukup penting.

Psikolog Philip Zimbardo dan para rekannya melakukan sebuah eksperimen cerdas untuk meneliti hubungan antara lemahnya pendengaran dan paranoia. Mereka berasumsi bahwa hilangnya ketajaman pendengaran dapat mengawali terjadinya paranoia jika orang yang bersangkutan tidak mengetahui, atau tidak menyadari, masalah pendengaran tersebut. Skenarionya berjalan sebagai berikut: “Jika saya mengalami kesulitan mendengar [suara] orang-orang di sekitar saya, sehingga mereka seolah berbisik-bisik, saya mungkin menyimpulkan bahwa mereka berbisik-bisik karena membicarakan saya dan yang mereka katakan adalah sesuatu yang buruk. Namun, saya hanya akan berpikir demikian jika saya tidak menyadari bahwa pendengaran saya bermasalah. Jika saya menyadari bahwa saya setengah tuli, saya akan mengerti bahwa saya tidak mendengar kata-kata mereka dengan baik karena ketulian tersebut dan tidak akan berpikir bahwa mereka berbisik-bisik.” Contohnya, seorang kakek yang mengalami masalah pendengaran cepat atau lambat dapat menegur cucucucunya yang berbicara dengan suara rendah dan menggunakan gerakan tangan yang diyakininya berbisik-bisik membicarakannya; dan mereka akan menyangkalnya. Suatu siklus ketegangan antara tuduhan, penyangkalan, dan tuduhan lebih jauh akan menjauhkan kakek yang semakin kasar dan penuh curiga tersebut dari cucu-cucunya.

Eksperimeri yang dilakukan oleh Zimbardo dan kelompoknya meneliti tahap awal perkembangan paranoia berdasarkan hipotesis mereka tersebut. Para mahasiswa, yang sebelumnya telah diketahui mudah dihipnotis dan mampu merespons sugesti pascahipnotis untuk menjadi setengah tuli, berpartisipasi dalam studi yang mereka yakini sebagai studi mengenai efek berbagai prosedur hipno tis terhadap penyelesaian masalah secara kreatif. Setiap mahasiswa duduk di sebuah ruangan bersama dua orang yang merupakan rekan eksperimenter. Ketiganya diberi tugas untuk dikerjakan sendiri atau bersama-sama—mereka diminta mengarang cerita mengenai sebuah gambar Thematic Apperception Test (TAT). Pertama-tama kata fokus ditampilkan di layar, kemudian gambar tersebut dipro-yeksikan. Para rekan eksperimenter, sesuai rencana, mulai saling bersenda gurau seraya memutuskan tentang cerita yang akan dikarang, mengajak si mahasiswa untuk bergabung dan bekerja sama. Setelah cerita tersebut selesai disusun, mahasiswa tersebut ditinggal sendirian untuk mengisi sebuah kuesioner, di antaranya pengukuran paranoia dalam MMPI dan sebuah daftar uji kata-kata sifat untuk mengukur kondisi perasaan.

Seperti digambarkan sejauh ini, tidak ada yang secara khusus perlu dicatat tentang eksperimen ini. Manipulasi yang sesungguhnya telah dilakukan sebelumnya, sebelum gambar TAT tersebut ditampilkan. Seluruh mahasiswa peserta eksperimen telah dihipnotis dan disugesti dengan salah satu dari sugesti pascahipnotis berikut ini.

1. Mengalami hetulian separuh tanpa disadari. Para peserta dalam kelompok ini disugesti bahwa saat melihat kata fokus tertera di layar, mereka akan mengalami kesulitan mendengar suara-suara dan kata-kata orang lain, orang-orang akan tampak seperti berbisik-bisik, dan mereka akan merasa khawatir karena tidak dapat mendengarnya. Mereka juga diinstruksikan bahwa mereka tidak akan menyadari sugesti tersebut sampai eksperimenter menghilangkan amnesia tersebut dengan menyentuh bahu mereka.

2. Mengalami hetulian separuh dengan hesadaran ahan Izondisi tersebut. Para mahasiswa dalam kelompok kedua, yaitu kelompok kontrol, juga diberi sugesti separuh tuli, namun mereka diinstruksikan untuk mengingat bahwa kesulitan mereka untuk mendengar disebabkan oleh sugesti pascahipnotis.

3. Kontrol sugesti pascahipnotis. Para peserta dalam kelompok ketiga, menjadi kontrol bagi efek sugesti pascahipnotis, diinstruksikan untuk bereaksi terhadap kata fokus dengan mengalami rasa gatal di daun telinga kiri, dan mengalami amnesia terhadap sugesti tersebut sampai disentuh bahunya oleh eksperimenter.

Setelah diberi sugesti pascahipnotis tersebut, semua peserta disadarkan dari kondisi terhipnotis dan digiring ke ruangan di sebelah ruangan tersebut, di mana eksperimenter melanjutkan dengan prosedur gambar TAT, seperti dijelaskan sebelumnya. Sekarang dapat dimengerti bahwa para peserta yang mengalami ketulian tanpa menyadarinya dapat menganggap senda gurau para rekan eksperimenter sebagai lelucon tentang dirinya karena mereka mengalami kesulitan untuk mendengar apa yang dikatakan dan tidak mungkin akan mengatribusikan kesulitan mendengar tersebut pada masalah pendengaran mereka. Para peserta yang mengalami ketulian, namun menyadari kondisi tersebut juga akan kesulitan untuk mendengar gurauan tersebut, namun mereka mengetahui bahwa mereka mengalami masalah pendengaran untuk sementara karena sugesti hipnotis. Para mahasiswa dalam kelompok kontrol tidak akan mengalami masalah pendengaran, hanya merasa gatal pada daun telinga. Setelah eksperimen tersebut selesai kepada semua peserta diinformasikan mengenai tujuan eksperimen dan dilakukan langkah-langkah untuk memastikan bahwa sugesti pascahipnotis untuk separuh tuli dan telinga gatal telah hilang.

Eksperimen tersebut memberikan hasil yang menarik. Pengalaman menj adi separuh tuli tanpa menyad-arinya menunjukkan pengaruh besar dalam pengukuran kognitif, emosional, dan behavioral. Di-bandingkan dengan para peserta dalam dua kelompok kontrol, para mahasiswa tersebut mendapat skor paranoid yang lebih besar pada skala MMP1 dan meng-gambarkan diri mereka lebih mudah tersinggung, marah, dan agresif. Dua rekan eksperimenter yang berada di ruangan yang sama dengan para mahasiswa tersebut memberikan rating lebih agresif kepada mereka dibandingkan dengan rating yang diberikan kepada para mahasiswa dalam kelompok kontrol. (Kedua rekan eksperimenter tersebut tidak mengetahui masing-masing mahasiswa yang mereka beri rating tersebut tergabung dalam kelompok mana). Ketika para rekan eksperimenter tersebut mengajak setiap mahasiswa untuk bekerja sama dalam menyusun cerita untuk gambar TAT, hanya satu dari enam mahasiswa dalam kelompok separuh tuli tanpa menyadarinya yang menerima ajakan tersebut, sedangkan sebagian besar peserta kontrol menerima ajakan tersebut. Di akhir eksperimen, sesaat sebelum penjelasan singkat, seluruh peserta ditanya apakah mereka bersedia berpartisipasi dalam penelitian mendatang dengan rekan yang sama; tidak seorang pun peserta dalam kelompok separuh tuli tanpa menyadarinya yang bersedia, sedangkan sebagian besar peserta kontrol menjawab bersedia.

Keseluruhan reaksi orang-orang yang mengalami kesulitan untuk mendengar dan tidak memiliki penjelasan lain atas kondisi tersebut kecuali menganggap orang lain berbicara dengan berbisik adalah curiga, agresif, marah, dan tidak bersedia berhubungan dengan orang-orang tersebut. Pola ini sama dengan yang dihipotesiskan oleh Zimbardo sebagai tahap paling awal terjadinya beberapa delusi paranoid. Penciptaan “analogi embrio paranoia” di labora torium sejalan dengan pandangan bahwa bila pendengaran seseorang memburuk di usia tua, rnaka beberapa di antara mereka rentan terhadap paranoia jika karena alasan apa pun, mereka tidak menyadari ketulian yang mereka alami. Dalam penelitian selanjutnya, Zimbardo memperkuat temuan tersebut dengan menimbulkan ketegangan fisiologis melalui sugesti hipnotik kemudian mensugestikan amnesia atas sumber ketegangan tersebut. Ketegangan yang tidak dapat dijelaskan dirasakan jauh lebih menimbulkan penderitaan dibanding ketegangan yang dapat diatribusikan pada hipnotis. Berbagai studi lain mengindikasikan bahwa jika orang-orang mencoba memahami penyebab ketegangan yang tidak dapat dijelaskan tersebut dengan meliha t pada tindakan orang lain, mereka menjadi lebih paranoid dibanding orang-orang yang mencoba mencari penyebab ketegangan tersebut pada bidang lain, contohnya, pada lingkungan fisik.

Filed under : Bikers Pintar,