Advertisement

Atau Tepi Air atau Batas Air, adalah karya sastra klasik Cina yang termasyhur di dunia. Buku ini juga disebut Shuihi Zhuan atau Romance of the Water Margin di Barat. Para ahli belum dapat menentukan siapa sesungguhnya penulis roman ini. Ada yang menyatakan roman besar ini ditulis oleh Lo Kuan-chung (Chao Ching-shen) tetapi menurut ahli yang lain, Feng Yuan-chun, roman ini dibuat oleh Shih Nai-an. Lu Hsun berpendapat bahwa mungkin karya ini telah dimulai oleh Shih Nai-an dan kemudian disempurnakan serta diselesaikan oleh Lo Kuan- chung. Sebelum dituliskan, cerita-cerita Batas Air ini sudah beredar sebagai sastra lisan di kalangan rakyat. Naskah tertua roman ini sudah tidak ada lagi. Dikatakan, semula Lo Kuan-chung menyusun novel ini dalam 100 bab tetapi Kuo Hsun dalam abad ke-16 mencetaknya dengan menghapus prakata dan beberapa kisah. Versi lain mencantumkan nama penulisnya, Shih Nai-an, dan menulisnya dalam 100 bab yang kemudian diperbaiki oleh Lo Kuan-chung. Ada lagi versi yang berisi 1 10 bab, sedangkan versi yang pada Jaman Kekaisaran Ching (sekitar abad ke-17) dikatakan dikerjakan oleh Chin Sheng-tan hanya berisi 70 bab.

Di Indonesia roman ini telah beredar dalam bahasa Melayu-Rendah di lingkungan pembaca Cina pada tahun 1885 dengan judul Song Kang yang diterjemahkan oleh Tjiong Tjaij Tat. Pada tahun 1910 roman tersebut diterbitkan dengan judul dan terjemahan yang lain, yakni Tjerita doeloe kala di benoea Tiongkok tersalin dari boekoe Te Gouw Tjaij Tjoe. Pada tahun 1980-an roman ini diterjemahkan kembali dalam bahasa Indonesia dalam dua versi, dan terkenal dengan nama /08 Pendekar dari Gunung Liangshan.

Advertisement

Shui Hu Chuan berkisah tentang orang-orang yang dikecewakan dalam masyarakat oleh kerakusan, kelicikan, dan korupsi yang dilakukan para pejabat negara. Di antara orang-orang yang kecewa itu adalah Sung Chiang yang kemudian berlindung di Gunung Liangshan. Perbuatannya segera diikuti oleh pahlawan-pahlawan lain, termasuk para bekas pembesar negara, pejabat militer, dan petani yang difitnah atau diperlakukan tidak adil dalam masyarakat yang korup. Mereka sering merampok orang-orang kaya yang korup dan memberikan hasilnya kepada rakyat yang menjadi korban ketidakadilan. Mengenai 108 tokoh pahlawan itu diceritakan asal usul pembangkangannya dan digambarkan perbedaan karakternya antara yang satu dan yang lain. Akhirnya mereka dapat dibujuk dan dimanfaatkan negara untuk memadamkan pemberontakan Fang La. Sung Chiang dan semua saudara angkatnya gugur.

Begitu memikat dan populernya karya ini sehingga pada jaman-jaman sesudahnya masih ditulis kisah-kisah “sambungan” dari Shui Hu Chuan.

Advertisement