PENGERTIAN SIAPAKAH KLIEN ATAU PASIEN? – Apakah selalu jelas siapa klien bagi ahli klinis? Dalam terapi privat, bila seorang dewasa membayar seorang ahli klinis untuk membantunya mengatasi masalah pribadi yang sama sekali tidak berkaitan dengan sistem hukum, individu yang berkonsultasi tersebut jelas adalah klien. Namun, seorang individu bisa saja ditangani oleh seorang ahli klinis untuk dievaluasi kemampuannya menjalani persidangan, atau ahli klinis dibayar oleh keluarga seseorang untuk membantunya dalam persidangan komitmen sipil. Mungkin ahli klinis dipekerjakan oleh sebuah rumah sakit jiwa sebagai staf tetap dan menangani pasien tertentu terkait masalah dalam pengendalian impuls-impuls agresif.

Semestinya jelas, meskipun kadang tidak, bahwa dalam kasus-kasus di atas ahli klinis menangani lebih dari satu klien. Selain pasien, ia juga melayani keluarga atau negara dan diwajibkan bagi profesional kesehatan mental untuk menginformasikan kepada pasien mengenai hal tersebut. Komitmen ganda ini tidak selalu mengindikasikan bahwa kepentingan pasien sendiri akan dikorbankan, namun memang tanpa dapat dihindari diskusi tidak akan tetap dirahasiakan dan bahwa suatu saat ahli klinis dapat bertindak dengan cara yang tidak menyenangkan atau bahkan sangat mengompromikan kepentingan individual. Idealnya klienlah yang menentukan tujuan terapi, namun dalam praktiknya adalah naif untuk mengasumsikan bahwa beberapa tujuan tidak ditetapkan oleh terapis dan bahkan dapat bertentangan dengan keinginan klien. Contohnya, sebuah sekolah mungkin ingin menciptakan program yang akan mengajari anak-anak untuk “duduk diam, tenang, dan pasif”. Banyak terapis perilaku berasumsi bahwa anak-anak harus patuh, tidak hanya agar guru dapat menjalankan kelas yang lebih teratur, tetapi juga diasumsikan bahwa anak-anak dapat belajar lebih baik bila mereka bertingkah laku demikian. Namun, apakah kita benar-benar mengetahui bahwa pembelajaran yang paling efisien dan paling menyenangkan terjadi ketika anak-anak dipaksa untuk tetap tenang di kursinya? Beberapa pendukung ruang kelas terbuka yakin bahwa rasa ingin tahu dan inisiatif, bahkan pada murid kelas dasar yang termuda, setidak-tidaknya sama pentingya dengan penguasaan keterampilan akademik.

Seperti yang umum terjadi dalam psikologi, lebih sedikit bukti dibanding berbagai pendapat yang diyakini dengan kuat dan didukung dengan teguh. Namun, jelas bahwa para profesional yang diminta menjadi konsultan oleh sebuah sekolah harus waspada dengan bias-bias pribadi mereka sendiri terkait masalah tujuan dan harus siap untuk bekerja mencapai tujuan yang berbeda jika orang tua dan staf sekolah menghendakinya. Setiap terapis memiliki pilihan untuk tidak bekerja dengan klien yang tujuan dan cara-cara yang diajukan untuk mencapainya tidak wajar dalam pandangannya.

Penelitian mendukung argumen bahwa klien memang terpengaruh oleh nilai-nilai terapisnya. Orang tidak hanya mencari terapis yang cocok dengan seleranya dan memenuhi kebutuhannya, namun juga mengadopsi beberapa idealismenya, kadang bahkan pola tingkah laku si terapis. Sebagian besar terapis sangat menyadari fenomena modeling ini, yang menambah tanggung jawab peran profesional mereka yang sudah berat. Perry London, seorang penulis terkemuka mengenai etika intervensi terapeutik, berpendapat bahwa terapis adalah pendeta sekular masyarakat kontemporer, penjual nilai-nilai dan etika untuk membantu klien menjalani “kehidupan yang baik”.

Kadang nilai-nilai yang dimiliki oleh terapis tidak terlihat dan sulit dibedakan. Ia mengkritik psikoanalisis dan pendekatan humanistik eksistensial karena memberikan penekanan berlebihan pada kebutuhan individu untuk berubah dengan kemampuannya sendiri dan bukan hanya dibantu, bahkan diarahkan, dalam upaya mereka untuk berubah dengan cara yang biasa dilakukan dalam terapi perilaku kognitif. Dengan berkonsentrasi pada pencerahan (insight) dan perubahan behavioral yang diupayakan oleh individu sendiri serta dengan mencegah terapis memengaruhi pasien melalui pengajaran berbagai keterampilan baru secara langsung, para terapis berorientasi pencerahan (insights)tanpa sengaja mengajarkan suatu etika kesendirian yang menghindari dukungan sosial.

Filed under : Bikers Pintar,