PENGERTIAN SIFAT ALAMIAH KAPITALISNIE

59 views

PENGERTIAN SIFAT ALAMIAH KAPITALISNIE – Dengan runtuhnya feodalisme, produksi-untuk-dijual pelan-pelan mulai rnenggantikan peranan produksi-untuk-dipakai, sebagai tipe pokok aktivitas ekonomi di seluruh Eropa Barat. Sistem yang kita sebut kapitalisme ini, muncul pada beberapa hal pokok dalam masa transisi. Akan tetapi kapan tepatnya kapitalisme lahir, merupakan pertanyaan yang hanya dapat dijawab jika kita tahu apa sesungguhnya kapitalisme itu. Ahli-ahli zaman sekarang masih ramai memperdebatkan pertanyaan mendasar ini. Salah seorang pengkaji sejarah sistem kapitalis yang paling menonjol adalah Karl Marx. Marx mencoba menjelaskan apa kapitalisme itu dan kapan lahirnya dalam sejarah Eropa. MeskipunMarx menganggap kapitalisme seb agai tipe ekonomi yang dijalankan perusahaan-perusahaan dalam usaha untuk mencapai keuntungan, tetapi dia tahu bahwa sebenarnya hal tersebut telah dilakukan pula oleh orang-orang pada ribuan tahun lampau. Marx tidak menyebut pola perilaku ekonomi yang lebih awal ini sebagai kapitalis. Lebih dari itu, kapitalisme mencakup sesuatu yang lebih dari sekadar pencarian keuntungan.

Menurut Marx, kapitalisme adalah suatu sistem ekonomi yang me-mungkinkan beberapa individu menguasai sumber daya produktif vital, yang mereka gunakan untuk meraih keuntungan maksimal. Marx menyebut para individu ini sebagai kaum borjuis. Kaum borjuis mempekerjakan sekelompok orang yang disebut Marx sebagai golongan proletar. Golongan proletar ini memproduksi barang-barang yang oleh kaum kapitalis kemudian dijual di pasar untuk meraih keuntungan. Para kapitalis tersebut bisa memperoleh keuntungan karena mereka membayar buruh (golongan proletar) kurang dari nilai murni barang-barang yang dihasilkan. Jelaslah, dalam keyakinan Marx, bahwa keuntungan kapitalis tidak tumbuh hanya melalui proses penjualan barang semata, tetapi keuntungan itu berasal dari proses produksi yang dilakukan oleh golongan proletar. Sedangkan tindakan penjualan barang hanyalah upaya merealisasikan keuntungan tersebut, yang sebenarnya telah ada dalam penciptaan produk oleh buruh.

Selanjutnya dalam pandangan Marx, kapitalisme menuntut adanya satu kelas pekerja yang menjual tenaga untuk mendapatkan upah. Hanya melalui eksploitasi upah buruh inilah, kaum kapitalis dapat meraih keuntungan. Dengan demikian, Marx mengidentifikasi permulaan pola produksi kapitalis beriringan dengan revolusi industri di Inggris pada pertengahan abad xviii, karena baru pada saat itulah upah buruh dan sistem pabrik menjadi gejala ekonomi yang menonjol.Tentu saja Marx sangat menyadari bahwa pencarian keuntungan yang menggebu-gebu telah dimulai di Eropa Barat jauh sebelum revolusi industri. Pada akhir abad xv beberapa bangsa di Eropa memulai ekspedisi kolonial Sepanjang abad xvii pencarian keuntungan merupakan idaman bagi seluruh pemerintah di Eropa. Meski begitu, Marx berpendapat bahwa cara atau pola pencarian keuntungan yang dilaksanakan pada abad-abad tersebut mempunyai perbedaan mendasar dengan cara yang dilakukan setelah revolusi industri. Sebelum revolusi industri, keuntungan diperoleh melalui tukar-menukar barang, bukannya dari hubungan produksi. Atau dengan kata lain, keuntungan diperoleh melalui jual-beli, bukannya dari e/Zsploitasi upah buruh. Sebuah perusahaan pada masa itu memperoleh keuntungan melalui penjualan barang-barang di negara lain dengan menawarkan harga yang lebih tinggi. Marx mengidentifikasi tipe aktivitas ekonomi seperti itu sebagai tipe ekonomi kapitalisme, tetapi dia menyebutnya sebagai kapitalisme perdagangan untuk membedakan dengan kapitalisme industri pada abad-abad berikutnya. Menurut Marx, kapitalisme industri inilah yang merupakan sistem kapitalisme “sejati”. Beberapa ilmuwan sosial abad ini berpendapat bahwa pengelompokan Marx tersebut harus lebih dipertegas. Misalnya, Eric Wolf (1982) mengidentifikasi munculnya kapitalisme pada revolusi industri, dengan menyebut periode pra industri antara abad xv dan xvi sebagai periode transisi. Pada periode tersebut, yang ada hanyalah “pencarian kemakmuran”, bukannya pencarian keuntungan. Sebenarnya Wolf telah melampaui Marx ketika dia menegaskan (1982:79): “Tidak ada hal-hal seperti perdagangan atau kapitalisme perdagangan Yang ada hanyalah perdagangan untuk kemakmuran. Untuk bisa disebut sebagai sistem kapitalisme, kapitalisme haruslah merupakan kapitalisme dalam produksi”. Ilmuwan sosial lain, termasuk pengikut-pengikut Marxisme, mempunyai pandangan yang berbeda. Yang patut dicatat, salah satunya adalah Immanuel Wallerstein (1974 a,b). Wallerstein menolak pengelompokan antara kapitalisme industri dan kapitalisme perdagangan, yang dilakukan Marx. Wallerstein menyatakan bahwa kapitalisme yang sebenarnya adalah produksi dalam suatu pasar yang tujuan produsennya adalah untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Bagi Wallerstein, bukanlah merupakan masalah apakah keuntungan itu diperoleh dari eksploitasi upah buruh atau bukan. Menurutnya, beberapa jenis pemaksaan buruh telah ada dalam pola produksi pra-kapitalis. Menurut Wallerstein, yang penting mengenai kapitalisme adalah bahwa akumulasi keuntungan maksimum selalu menjadi tujuan semua aktivitas ekonomi. Dia percayabahwa hal tersebut menuntut eksploitasi buruh, tetapi eksploitasi itu bisa bermacam-macam bentuknya, tidak hanya eksploitasi upah buruh belaka. Melalui konsep kapitalismenya, Wallerstein berpendapat bahwa kapitalisme lahir pada abad xv, seiring dengan kebangkitan kolonialisme Eropa. satu analisis sejarah paling terkenal mengenai pembentukan kapitalisme adalah karya Maurice Dobbs yang berjudul, Studies in the Development of Capitalism (1963). Dobbs mengakui bahwa perkembangan awal kapitalisme sangat berkaitan dengan ekspansi aktivitas ekonomi dan kekuatan sosial yang dimiliki pedagang urban. Sepanjang dua abad tersebut, kapital pedagang (inerchant capital) lebih teratur daripada kapital industri (industrial capital). Kenyataan ini menyebabkan Dobb mempertanyakan sumber keuntungan yang diperoleh pedagang kapitalis. Dobb menjawab sendiri pertanyaannya (1963:88).

Penjelasan yang kita cari terdapat dalam dua lapis. Lapis pertarna adalah bahwa banyak perdagangan pada saat itu, terutama perdagangan luar negeri, mengandung kepentingan politis atau perampokan terselubung. Lapis kedua, kelas pedagang, segera setelah membentuk suatu persekutuan dagang, dengan cepat memperoleh hak monopoli yang melindungi usahanya dari persaingan, dan berdagang hanya untuk keuntungannya sendiri dalam berhubungan dengan produsen atau konsumen. Terbukti bahwa perdagangan dua lapis dalam periode tersebut memberikan dasar yang essensial bagi kemakmuran awal tuan tanah (burgher) dan akumulasi kapital pedagang. Dengan demikian, aktivitas ekonomi pada abad-abad tersebut didominasi oleh pedagang-pedagang kota yang merupakan pelaksana perusahaan niaga. Mereka mendapat kekuatan yang terus meningkat di berbagai kota. Dobb menyebut gejala tersebut sebagai penyebab timbulnya “oligarkhi tuan tanah” dan “aristokrasi pedagang baru”. Banyak perusahaan niaga kemudian menjadi suatu organisasi yang sangat eksklusif. Seandainya ada yang ingin bergabung dengan perusahaan tersebut, bea masuk merupakan syarat mutlak. Pada abad xvi, perusahaan-perusahaan seperti itu banyak terdapat di Inggris. Dobb mengomentari (1963 : 113-115):

Pada pertengahan abad xvi, para pedagang Inggris berdagang sampai jauh ke seberang lautan, dari laut utara sampai laut tengah, untuk meresmikan lima atau enam perusahaan baru, yang masing-masing memiliki hak istimewa di daerah tersebut. Pada tahun 1553, perusahaan Rusia (dua tahun kemudian menerima piagam yang memberinya hak monopoli) dianggap sebagai perusahaan pertama yang memberlakukan kongsi saham dan memiliki kapal secara bersekutu pula Pada tahun 1557, Jenkinson, pembantu pada perusahaan tersebut melakukan perjalanan jauh ke Persia dan Bukhara. Di tahun 1567, perusahaan tersebut memperoleh hak berdagang dari Rusia sampai Kazan dan Astrakhan…. Pada tahun 1578 Eastland Company diberi hak untuk “menikmati monopoli perdagangan di sepanjang Sound sampai ke Norwegia, Swedia, Polandia, Lithuania (kecuali Narva), Prussia, dan juga Promerania, dari sungai Oder sebelah timur sampai Pantziek, Elbing dan Konigsberg, juga ke Kopenhagen dan Eisinore, Finlandia, Gothlandia, Barnhold dan Oeland. Portugal. Perusahaan itu juga mengamankan kekuasaannya dengan sebuah piagam monopoli dari raja guna mencegah munculnya pesaing.

Meskipun kapital pedagang sangat dominan pada abad xv dan xvi, beberapa bentuk kapital industri mulai muncul. Di Inggris, bentuk pertama kapital industri muncul pada perdagangan tekstil, kulit, dan logam, sepanjang abad xvi. Bahkan di Belanda dan di beberapa kota di Italia, kapital Industri muncul lebih awal, yaitu sekitar abad xiii. Sebagai contoh, di kota Florence pada tahun 1338 sebanyak 200 p’brik sandang mempekerjakan 30 ribu buruh atau sekitar seperempat jumlah penduduk kota tersebut (Dobb, 1963: 157). Hanya ada sedikit pabrik pada waktu-waktu itu, dan kebanyakan merupakan perindustrian rakyat (cottage industry. Dalam industri itu, pekerja tinggal di rumah dan memproduksi barang-barang di bawah pengawasan kaum kapitalis. Kaum kapitalis ini menyediakan bahan baku dan mengupah kaum pekerja. Baru pada abad xviii perkembangan sistem pabrik sungguh-sungguh terjadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *