PENGERTIAN SIFAT ORGANISASI POLITIK – Secara luas diketahui, polity atau sistem politik adalah aspek masyarakat yang berfungsi untuk mempertahankan hukum dan ketertiban di dalam suatu masyarakat dan untuk mengatur hubungan-hubungan eksternal di antara dan  di kalangan masyarakat. Sistem politik membangun cara-cara kontrol sosial dan aturan-aturan yang dirancang untuk membatasi perilaku individu-individu dalam batas-batas tertentu dan untuk membuat dan menjalankan keputusan-keputusan untuk kepentingan seluruh masyarakat atau segmen-segmen tertentu dalam masyarakat. Politik terdapat secara universal dalam masyarakat manusia karena semua masyarakat mempunyai berbagai cara pengendalian sosial dan pembuatan keputusan. Akan tetapi, sifat khusus kontrol politik dan pembuatan keputusan berbeda-beda di antara masyarakat yang satu dari yang lainnya. Setiap masyarakat mempunyai mekanisme sendiri dalam mengawasi dan menjamin bahwa keputusan-keputusan dan rencana-rencana dapat dilaksanakan dengan berhasil. Baiklah kita bicarakan sedikit mengenai tiga mekanisme politik, yakni: pengaruh, kekuasaan dan kewenangan (authority). Peytgaruh adalah proses di mana perilaku, keputusan, atau saran dari satu atau lebih orang akan diikuti atau ditiru oleh orang lain. Pengaruh adalah suatu proses informal kontrol sosial yang ketat yang terjadi sebagai akibat dari adanya interaksi sosial yang erat, konstan dan teratur. Bentuk kontrol ini lebih kuat pada masyarakat berskala kecil, berstruktur relatif sederhana, dan bercirikan interaksi tatap muka sebagian besar anggotanya. Sementara itu sekalipun pengaruh tidak selalu merupakan satu-satunya mekanisme kontrol politik dalam masyarakat demikian, ia adalah mekanisme yang amat menonjol. Yang paling khas dari pengaruh bahwa pengaruh tidak mempunyai “gigi”. Pengaruh tidak menjamin bahwa keputusan-keputusan dan nasihat-nasihat akan dipatuhi, tetapi hanya kurang-lebih mungkin akan dipatuhi. Seorang Pemimpin politik yang hanya memiliki pengaruh, tidak mempunyai kemampuan untuk memaksa orang lain untuk melaksanakan perintahnya; ia hanya dapat menganjurkan, menghimbau, atau berharap agar dilaksanakan secara efektif.

Suatu mekanisme lain yang sangat berbeda dalam menjalankan kontrol sosial ialah kekuasaan (power), suatu unsur penting kebanyakan sistem politik. Dengan mengubah sedikit definisi klasik yang dikemukakan Max Weber (1978, aslinya 1923), kekuasaan dapat dirumuskan sebagai kemampuan untuk mengendalikan perilaku orang lain, atau bahkan memadamkan usaha menentangnya. Kekuasaan mengandung unsur yang tidak terdapat dalam pengaruh, yakni kemampuan untuk memadamkan perlawanan dan menjamin tercapainya keinginan dari pemegang kekuasaan itu. Jadi, dibalik kekuasaan, ada ancaman paksaan atau kekuatan yang konstan kalau-kalau ada perintah atau keputusan yang tidak dipatuhi dengan sukarela. Dengan memperhatikan pertimbangan-pertimbangan itu, kekuasaan perlu mengembangkan suatu tingkat organisasi tertentu. Karena itu kekuasaan biasanya mulai tampak sebagai suatu ciri penting kehidupan sosial hanya pada peralihan ke masyarakat hortikultura yang intensif yang memiliki stratifikasi sosial. Pada tahap evolusi sosial inilah mesin administrasi yang diperlukan kekuasaan dapat terb entuk.

Kekuatan kekuasaanberarti kekuasaan ditopang olehkemampuart untuk menggunakan kekerasail. Secara paradoks, ini pulalah kelemahannya, karena kekerasan tidak selalu cukup untuk menang melawan keinginan orang dan kelompok-kelompok yang berada di bawahnya. Kelemahan kekerasan ialah bahwa kekerasan merupakan suatu alat dari luar untuk membuat orang patuh; kekerasan tidak memerlukan komitmen psikologis terhadap aturan-aturan dan perintah, tetapi hanya menuntut agar aturan dan perintah ditaati. Namun karena kekuasaan tidak memerlukan kepatuhan psikologis terhadap perintah, perintah mana dapat tidak berlaku atau diindahkan bila ancaman kekerasan tidak memadai. Pemegang kekuasaan sepanjang sejarah umat manusia jelas memahami kenyataan ini; dan untuk itulah mereka pada umumnya berkeinginan untuk mencapai bukan saja kepatuhan kepada perintah, tetapi juga komitmen psikologis terhadap perintah itu. Identifikasi psikologis dengan kekuasaan memerintah tentu saja akan menaikkan kemungkinan kepatuhan. Apabila identifikasi psikologis seperti itu telah terbentuk, penggunaan kekuasaan menjadi absah — yakni, pembenaran atau rasionalisasi sebagai hak moral dan dianggap patut — oleh masyarakat sendiri. Bilamana ini terjadi, inaka kekuasaan akan memberi jalan kepada wewenang (authority), yakni bentuk politik yang oleh Weber diidentifikasi sebagai aturan seizin mereka yang diperintah. Para sosiolog pada umumnya telah merurnuskan banyak konsep mengenai wewenang dan legitimasi, dan berpendapat bahwa rezim politik pada umumnya bertumpu pada wewenang bukannya kekerasan sewenang-we-nang belaka (raw force) — bahwa rakyat telah menyerahkan hati dan pikiran mereka terhadap subordinasi mereka sendiri. Namun sebagian sosiolog mengemukakan bal-twa gambaran sistem politik ini bukanlah gambaran yang realistik. Immanue Wallerstein (1974a) dan Pierre van den Berghe (1978), misalnya menandaskan bahwa sebagian besar rezim p olitik tidak dilandaskan pada izin mereka yang diperintah. Mereka beranggapan bahwa kebanyakan sistem p olitik yang kompleks sekaligus merup akan tirani yangbertumpu pada kekuatan dan kekerasan fisik. Pendapat Wallerstein dan van den Berghe mengandung pokok-pokok penting. Para ilmuwan sosial jelas telah membesar-besarkan legitimasi murni yang ada di dalam sistem politik. Banyak pemberontakan petani dan budak terjadi di sepanjang sejarah umat manusia, menjadi saksi kesewenangan legitimasi politik. Namun, tampaknya pandangan Wallerstein dan van den Berghe berjalan terlalu jauh ke arah lain. Memang, sejumlah sistem politik secara kuat ditopang oleh massa. Pemerintah Amerika Serikat kontemporer, misalnya, menikmati tingkat legitimasi yang besar, dan barangkali malah Soviet kontemporer demikian pula. Bagaimanapun, pertanyaan tentang sejauh mana politik mendapat legitimasi adalah suatu pertanyaan empiris yang perlu dijawab secara kongkrit melalui penelitian kasus.

Filed under : Bikers Pintar,