PENGERTIAN SIFAT PENGHINDARAN PERBITATAN SUMBANG ADALAH – Banyak sosiolog dan antropolog menggabungkan konsep-konsep penghindar-an perbuatan sumbang dart eksogami dan memandang aturan-aturan eksoga-mi semata-mata sebagai perluasan daripada larangan perbuatan sumbang yang diberlakukan pada keluarga batih. Akan tetapi, seperti dikemukakan oleh van den Berghe (1979, 1980), kedua konsep itu tidak memaksudkan hal yang sama. Sementara kedua mempunyai persamaan yang dangkal, penting kiranya untuk mengidentifikasi kedua sebagai gejala yang terpisah. Penghindaran perbuatan sumbang dimaksudkan untuk mencegah hubungan seks di antara kerabat dekat, khususnya anggota-anggota keluarga batih. Gejala universal pada masyarakat manusia. Sebaliknya, eksogami merupakan suatu aturan yang melarang perkawinan di antara anggota-anggota persekutuan kelompok keluarga sendiri (van den Berghe, 1979, 1980). Meskipun tersebar luas, eksogami bukanlah suatu gejala yang universal. Tanpa pembedaan sulit kiranya untuk memahami bukan saja sifat daripada gejala ini, tapi juga alasan mengapa aturan itu ada dalam masyarakat manusia.

Adalah juga penting untuk membedakan antara penghindaran perbuat-an sumbang dan tabu perbuatan sumbang (incest taboo) (Fox, 1967; van den Berghe, 1979, 1980). Penghindaran perbuatan sumbang berartibahwa perbuatan itu tidak diperkenankan, sementara tabu perbuatan sumbang memaksudkan adanya sanksi yang kuat dari masyarakat terhadap pelanggaran atas aturan itu. Sementara penghindaran perbuatan sumbang adalah universal, tabu perbuatan sumbang tidak. Ada sejumla_h masyarakat yang merasa jijik dan bereaksi terhadap perbuatan sumbang, tapi banyak lainnya hanya memandangnya tidak masuk akal dan menertawakarmya jika ada orang yang berpikir untuk terlibat di dalaginya. Perbuatan sumbang memang terjadi pada tingkat tertentu di dalam banyak masyarakat. Jika hal ini terjadi, maka sering di antara ayah dan putrinya; perbuatan sumbang saudara wanita dan saudara pria jauh kurang umum; dan perbuatan sumbang di antara ibu dan putranya jarang (Fox, 1967; Shepher, 1983). Lagi pula, ada beberapa masyarakat yang telah melembagakan perkawinan sumbang di kalangan kelas penguasa, suatu fenomena yang dikenal sebagai perbuatan sumbang kerajaan (royal nicest). Ini terj adi, misalnya, di kalangan orang-orartg Mesir Kuno, Hawaii, dan Inca, maupun di kalangan sejumlah masyarakat Afrika setingkat negara (van den Berghe, dan Mesher, 1980).

Filed under : Bikers Pintar,