PENGERTIAN SIFAT UMUM PENDEKATAN KETERGANTUNGAN – Asumsi dasar pendekatan ketergantungan sangat berlawanan dari asumsi-asumsi teori modernisasi. Keterbelakangan tidak dipahami sebagai suatu “keadaan asli”, ataupun sebagai ciri suatu “masyarakat tradisional”, tetapi keterbelakangan lebih dipandang sebagai sesuatu yang tercipta dalam masya-rakat pra-kapitalis yang telah mengaiami bentuk-bentuk hubungan ekoriomi dan politik tertentu dengan satu atau lebih masyarakat kapitalis. Keterbela-kangan bukanlah akibat dari adanya keterbatasan internal tertentu suatu masyarakat sebagaimana dinyatakan oleh teori modernisasi. Keterbelakangan bukanlah akibat dari ketiadaan sesuatu, tapi akibat dari adanya sesuatu. Jadi teori ketergantungan tidak akan menganggap India pada tahun 1700 sebagai suatu masyarakat terbelakang. Pada masa itu India adalah masyarakat petani, suatu kerajaan pra-kapitalis. Tapi pada tahun 1850 meluncur menjadi terbelakang karena hubungannya dengan kapitalisme Inggris.

Akar penyebab keterbelakangan dalam perspektif ketergantungan ialah ketergantungan ekonomi. Ketergantungan ekonomi ada ketika suatu masyarakat jatuh di bawah kekuasaan sistem ekonomi masyarakat asing, dan ketika perekonomian masyarakat mulai diatur oleh orang-orang asing sedemikian rupa sehingga lebih menguntungkan perekonomian asing. Ketergantungan ekonomi berarti bahwa ada hubungan dominasi dan subordinasi ekonomi antara dua masyarakat atau lebih. Konsep ketergantungan sebagai suatu penjelasan tentang keterbela-kangan ekonomi telah dikembangkan secara sangat pesat oleh Andre Gunder Frank (1966. 1979) dan Samir Amin (1974). Bagi Frank, konsep kemajuan dan keterbelakangan hanya bermakna ketika diterapkan pada negara-negara dalam kapitalis. Frank memandang ekonomi-dunia terbagi menjadi dua unsur utama, metropolis dan satelit. (Konsep-konsep ini pada dasamya sama dengan konsep Wallerstein tentang pusat dan pinggiran). Aliran surplus ekonomi dalam ekonomi-dunia berasal dari satelit (atau ping-giran) menuju metropolis (atau pusat), dan ekonomi-dunia diatur untuk menjadi demikian itu. Negara terbelakang karena itu menjadi dan masih terbelakang karena mereka secara ekonomi didominasi oleh negara kapitalis maju yang secara terus menerus mengambil kekayaan dari mereka. Frank telah menyebut proses ini dengan perkembangan keterbelakangan [development of underdevelopment-(1966)]. Dalam pandangan ini, kemajuan negara-negara kaya dan keterbelakangan riegara-negara miskin merupakan dua sisi mata uang; keterbelakangan negara-negara tertentu telah membuat kemajuan bagi negara-negara lain. Korban terbesar dari proses ini adalah mayoritas terbesar petani danburuh perkotaan di dunia terbelakang. Dan siapa yang diuntungkan oleh sistem ini? Tentu saja, negara maju, karena standar hidup mereka naik secara mencolok. Tapi keberuntungan terbesar jatuh kepada kapitalis negaranegara metropolis, dan juga kepada para elit pertanian dan industri negaranegara satelit. Kelompok terakhir ini mempunyai ikatan ekonomi dan politik yang erat kepada elit metropolis dan memainkan peran yang sangat penting dalam mempertahankan situasi ketergantungan ekonomi.

Rumusan Amin tentang konsep ketergantungan sangat mirip dengan Frank. Tapi, ia melangkah lebih jauh dan meninggalkan konsep kemajuan dan ,keterbelakangan dan menggantinya dengan istilah formasi kapitalis pusat dan formasi kapitalis pinggiran. Konsep-konsep ini membenarkan adanya apa yang biasa kita sebut dengan negara maju dan terbelakang. Amin yakinbahwa perubahan pada peristilahan lebih dari sekadar persoalanbahasa. Ia berpendapat bahwa konsep baru ini lebih tepat untuk mengidentifikasi struktur ekonomi yang ditemukan dalam masyarakat-masyarakat di ekonomi-dunia modern. Amin berpendapat bahwa formasi kapitalis pusat dicirikan oleh artikulasi ekonomi. Artikulasi ekonomi ialah perekonomian yang mempunyai multisektor yang saling erat berhubungan karena kemajuan di satu sektor mendorong kemajuan di semua sektor yang lain. Karena itu, artikulasi ekonomi koheren dan terintegrasi secara menyeluruh. Formasi kapitalis pinggiran, di sisi lain, mempunyai disartikulasi ekonomi, yakni perekonomian yang mempunyai sektor-sektor yang tidak saling berhubungan erat. Kemajuan dalam satu sektor mungkin tidak bisa mendorong kemajuan di sektor-sektor lainnya. Sektor-sektor dalam disartikulasi ekonomi itu berada dalam produksi bahan mentah untuk diekspor kepada pusat kapitalis. Selain itu, disartikulasi merupakan akibat dari kontrol perekonomian asing. Kapitalis di pusat mempunyai koneksi penting dengan kapitalis pinggiran yang menguasai produksi bahan mentah. Apa arti disartikulasi yang sesungguhnya, menurut Amin, ialah bahwa tidak terbentuknya ciri perkembangan yang ada di masyarakat industri kurang maju. Suatu perekonomian masylarakat menjadi disartikulasi karena kekuasaan perekonomian asing, yakni ketika perhatian diarahkan kepada perkembangan aktivitas-aktivitas ekonomi yang menguntungkan kapitalis pusat. Akibatnya, aktivitas-aktivitas ekonomi yang meliputi produksi yang menguntungkan perekonomian domestik akan ditolak. Amin menguraikan secara lebih lengkap konsep artikulasi dan disartikulasinya (1974:16-19): Suatu perekonomian yang maju membentuk suatu keseluruhan yang koheren, dibentuk dari sektor-sektor yang mengadakan pertukaran penting di antara sektor-sektor itu sendiri, yakni apa yang dapat disebut sebagai pertukaran “interindustrial” atau “intersektoral”. Jadi, sektor-sektor ini saling melengkapi, terikat satu sama lain, sehingga dikatakan: industri-industri yang besar dan kuat menggalang industri-industri dasar yang menghasilkan bahan-bahan mentah, dan industri-industri yang kuat ini mendukung, dengan barang-barang modal dan barang-barang setengah jadi dihasilkan, industri-industri yang sedang berkembang dan pertanian yang dimodernisasi (“diindustrialisasi”), yang sebaliknya menghasilkan barang-barang konsumsi. Tapi, perekonomian yang terbelakang dibentuk dari sektor-sektor yang hanya mengadakan pertukaran-pertukaran terbatas di antara mereka sendiri, pertukaran yang sebenarnya mereka lakukan adalah dengan dunia luar. Dalam sektor-sektor ini ada sedikit perusahaan berskala besar — seringkali asing, dan tergantung pada bisnis internasional yang besar — tapi pusat pengendaliannya berada di luar perekonomian terbelakang ini. Banyak jenis kekayaan tambang — logam, minyak, dan lain-lain — dieksploitasi dengan semena-mena dan tidak diperuntukkan bagi pasokan industri-industri dalam negeri, tapi diekspor untuk memasok kelompok-kelompok industri yang kompleks di negara maju. Disartikulasi ekonomi menjauhkan perkembangan satu sektor dari efek mobilisasi terhadap sektor yang lain. Efek mana justru ditransfer ke luar, kepada negara-negara yang dipasok: sektor-sektor dalam perekonomian negara terbelakang menjadi perluasan dominasi perekonomian negara maju. Sebaliknya, disartikulasi dan akibatnya, yakni produktivitas yang tidak merata, direfleksikan dalam pembagian GNP dan investasi, yangjauh berbeda dari negara-negara maju. Ketergantungan dengan dunia luar sekaligus menjadi sebab dan akibat dari situasi ini. Hal ini nampak sekali dalam perdagangan luar negeri. Perdagangan negara-negara terbelakang, yang ditangani secara individual atau gabungan, memperlihatkan ciri mencolok ini, bahwa tidak hanya ekspor dari negaranegara ini dibentuk oleh produk-produk primer (hasil tambang dan pertanian), dan impor mereka akan barang-barang manufaktur, tapi juga, yang terpenting, perdagangan ini diadakan dengan negara-negara maju, sedangkan perdagangan negara-negara maju diadakan di kalangan mereka sendiri. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, tak satupun dari faktor-faktor disar-tikulasi dalam struktur pinggiran ini yang menjadi berkurang sama sekali; sebaliknya masing-masing justru meningkatkan. Sementara di pusat, perkembangan adalah kemajuan — karena efek integrasinya di pinggiran perkembangan bukanlah kemajuan, karena itu akibatnya ialah disartikulasi. Jelasnya, perkembangan di pinggiran, yang diintegrasikan dengan pasar dunia, adalah perkembangan keterbelakangan.

Filed under : Bikers Pintar,