PENGERTIAN SIFAT UMUM TEORI MODERNISASI – Teori modernisasi adalah suatu strategi teoritis yang luas, meliputi berbagai teori yang saling melengkapi, tapi juga saling bersaing. Yang jelas, teori ini merupakan sebuah versi dari strategi teoritis yang lebih luas, pendekatan fungsionalis-evolusioner terhadap evolusi sosiokultural (AD. Smith, 1973; Sanderson, 1990). Teori-teori berbeda yang berdampingan dalam pendekatan modernisasi dipersatukan oleh dua asumsi fundarnental. Pertama, keterbelakangan cenderung dilihat sebagai suatu “keadaart, asli (original state)”, sebagai suatu keadaan masyarakat yang telah ada dalam aneka bentuknya. Pengikut teori modernisasi cenderung memahami keterbelakangan sebagai proses sosial ekonomi yang terj adi sebelum munculnya kapitalisme modern. Pada hakekatnya mereka berpendapat bahwa hanya dengan membentuk masyarakat kapitalis modernlah keterbelakangan bisa mulai diatasi, karena kenyataan bahwa banyak negara-negara masa kini belum dapat mencapai tahap perkembangan ini. Karena itu, bagi pengikut teori modernisasi, masyarakat-masyarakat seperti Yanomamo, Aztec, dan Inggris zaman pertengahan adalah terbelakang seperti yang dialami Brasil, Thailand, dan Nigeria sekarang. Pandangan ini sangat berlawanan dengan pengertian yang dibuat sebelumnya tentang kemajuan dan keterbelakangan yang hanya akan menjadi konsep-konsep yang sarat makna bila diterapkan terhadap negara-negara yang tergabung dalam ekonomi-dunia kapitalis.

Asumsi dasar kedua teori modernisasi ialah bahwa keterbelakangan merupakan akibat dari banyaknya kekurangan yang ada di dalam suatu masyarakat. Pendapat ini berlawanan dengan pernyataan bahwa kemajuan merupakan hasil dari kualitas-kualitas tertentu yang telah dicapai oleh masyarakat, kualitas-kualitas yang membedakan mereka dari masyarakat terbelakang. Tiga kekurangan pokok ditunjuk oleh pengikut teori modernisasi sebagai penyebab keterbelakangan. Salah satunya ialah kekurangan dalam hal forrm si kapital. Banyak ekonom berpendapat bahwa rnasyarakat terbelakang tak mampu mengumpulkan sejumlah modal yang cukup untuk mencapai — suatu “titik tinggal landas”: suatu titik untuk dapat memulai pertumbuhan ekonomi secara cepat. Para pengikut teori modernisasi yang lain menyebutkan bahwa praktek dan teknik bisnis yang kuno sebagai faktor-faktor yang menghambat perkembangan ekonomi. Mereka yakin bahwa masyarakat yang terbelakang biasanya tidak mempunyai teknik modern yang rasional dalam hal pemasaran, akuntansi, keuangan, penjualan, dan lain-lain, yang sudah sangat unturn di negaranegara maju. Kegagalan masyarakat seperti itu untuk mengadopsi praktekpraktek bisnis modern yang rasional menjadikan produktivitas dan tingkat keuntungan tetap rendah dan menghambat perkembangan yang berarti dalam masyarakat tersebut. Terakhir, para pengikut teori modernisasi yang lebih berorientasi sosiologis menekankan bahwa masyarakat terbelakang biasanya tidak mempunyai semacam kesadaran atau mentalitas —semacam pandangan dunia — yang menawarkan perkembangan. Perkembangan/ kemajuan dikatakan terjadi bila orang telah mengadopsi pemikiran rasional, nilai-nilai yang berorientasi masa depan dan sistem etik, dan kepercayaan atau falsafahlah yang membentuknilai dan etik ini. Hal ini berarti bahwa sebagian besar manusia di negara-negara terbelakang berjalan dengan sikap dan nilai-nilai yang menekankan masa lampau dan kebiasaan serta hal-hal penting tradisi lainnya. Selain itu, mereka sering terperangkap dalam kepercayaan yang menekankan bahwa penderitaan manusia hanya akan dapat berubah di akhirat kelak dan bahwa tujuan mengubah dunia adalah suatu hal yang sia-sia. Jadi orang menjadi lebih fatalistik dan pada umumnya lebih menerinia keadaan hidup yang ada daripada menciptakan usaha-usaha rasional untuk mengubahnya. Bila orang masih pasif untuk mengubah keadaan, maka keterbelakangan adalah ihwal yang cocok bagi mereka.

Filed under : Bikers Pintar,