Advertisement

witchcraft and sorcery (sihir dan tenung)

Kepercayaan terhadap sihir dan tenung merupakan salah satu bentuk upaya menjelaskan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan, mengendalikan sesuatu yang tidak bisa dikendalikan, dan mengurai problem masalah kejahatan. Dengan mengaitkan kemalangan yang tidak diharapkan atau keberhasilan yang tidak lazim dengan penggunaan kekuatan dan substansi gaib secara tidak sah oleh umat manusia yang didorong oleh kedengkian, keserakahan atau kecemburuan, kepercayaan-kepercayaan itu membantu menjelaskan tidak hanya bagaimana sesuatu terjadi, tetapi mengapa terjadi sehingga memunculkan berbagai teori moral dan psikologi tentang sebab akibat. Kepercayaan semacam itu barangkali merupakan satu-satunya penjelasan dalam suatu kosmologi yang menampilkan penjelasan-penjelasan kausal lain; dan meminta pertolongan kepada para ahli nujum, peramal atau dukun barangkali diperlukan sebelum suatu peristiwa tertentu disebut sihir dan sebe¬lum diambil tindakan tertentu untuk menanggulangi situasi.

Advertisement

Para antropolog dan ahli bidang lain yang sejalan dengan mereka, seperti sejarawan (Mair 1969; Marwick 1982), sering membedakan antara tukang sihir (the witch) yang memiliki kekuatan batin yang mistis, dan tukang tenung (the sorcerer), yang menggunakan alat-alat teknik eksternal seperti magi destruktif untuk meraih tujuan-tujuan jahatnya, meskipun pembedaan itu tidak selalu jelas sekali. Tukang sihir dalam pengertian sempit inilah yang sering dibicarakan sebagai “lambang kejahatan, penafikan terhadap kemanusiaan, kanker dalam masyarakat atau musuh eksternal yang senantiasa menimbulkan keru¬sakan, yang Citranya dikatakan mewakili “mimpi buruk dalam masyarakat” (Monica Wilson dalam Marwick 1982) dan mengejawantahkan sisi depan norma-norma moral dan fisik yang diterima. Tipe-tipe peran ini bersumber pada buku Evans-Pritchard (1937J, Witchcraft, Oracles and Magic among the Azande, sebuah kajian yang bisa dikembangkan lebih lanjut dalam sosiologi pengetahuan, meskipun ia tidak berharap pem-bedaan Zande itu dianggap valid secara universal yang ternyata memang tidak juga tidak berharap para antropolog akan menggunakannya bahkan penafsirannya tentang Zande itu sendiri pun dipertanyakan. Berbagai problem definisi memang tampak seakan tak terpecahkan, dan sebagian problem itu berkenaan dengan pencarian universalitas yang terkesan sebagai upaya sia-sia dan tidak sah (MacGaffey 1980), dan upaya mendorong digunakannya istilah itu secara luas hanya akan menimbulkan kesesatan.

Pembedaan antara mistik dan alat teknis ternyata berguna, meskipun lagi-lagi bersifat prob-lematis. Sejumlah penulis menekankan bahwa meksipun bukti empiris adanya tenung itu bisa ditemukan, namun segala kekuatan dan tindakan sihir itu “seluruhnya ada dalam wilayah batin”, tidak dapat diverifikasi dan tidak dapat dipercaya oleh pengamat luar. Karena itu, pengakuan atas kekuatan dan kegiatan semacam itu (dan juga upaya pencariannya) kadang-kadang dianggap sebagai bukti adanya angan-angan atau psikopatologi, sebagaimana dalam beberapa penafsiran terhadap perburuan tukang sihir di Eropa pada abad ke-15 hingga ke-17. Meskipun mungkin timbul keraguan terhadap berbagai pengakuan yang muncul sebagai akibat siksaan atau bentuk tekanan lainnya, namun dalam situasi tertentu pengakuan atau tindakan menuduh diri sendiri (self-accusation) digunakan sebagai protes, himbauan dan senjata, misalnya, oleh para wanita kalangan bawah dan frustrasi (Mair 1969; Wyllie dalam Marwick 1982). Di Eropa Barat dan Amerika Utara di mana kepercayaan terahadap sihir dibatasi dengan agama dan kegaiban dan dalam budaya-budaya pedesaan, para pendu-kung kepercayaan-kepercayaan seperti itu pada umumnya bisa dianggap eksentrik bila tidak disebut menipu, sama halnya dengan orang yang menganggap nasib buruk dirinya sebagai akibat dari kekuatan gaib dari teman-temannya. Tetapi dalam budaya-budaya yang mempercayai adanya tukang sihir, orang yang mempercayainya dikatakan rasional; justru orang yang tidak mempercayainya bisa dianggap menyimpang, tersesat atau irasional oleh teman-teman mereka, sehingga yang membutuhkan penjelasan adalah ketidak-percayaan (unbelief) atau keraguan (disbelief) (Evans-Pritchard 1937; Hirst dan Woolley 1982).

Kepercayaan terhadap tukang sihir bisa menyatakan bahwa siapa saja, di mana saja, bisa mem¬praktekkan sihir dan tenung, atau bahwa hanya orang-orang dengan kategori sosial tertentu atau memiliki sifat tertentu bisa mengeluarkan suatu ancaman. Namun sosiologi kepercayaan (pola- pola dugaan, tuduhan dan pengakuan) menunjukkan seleksi atas sasaran (tukang sihir ataukah korban) sebagai hasil dari berbagai pertengkaran, dendam dan hubungan ketegangan antara tersangka, penuduh dan korban. Tuntutan-tuntutan ini terutama dilakukan di antara orang-orang yang tidak mempunyai perbedaan besar secara sosial, struktural atau jarak spasial. Meskipun demikian, terdapat beberapa perbedaan, yang tergantung pada apakah perburuan tukang sihir itu merupakan masalah individual atau komunal. Banyak kajian etnografik mengenai sihir semacam itu mempengaruhi kajian struktural-fungsional terhadap politik mikro, yaitu mengaitkan berbagai kepercayaan dan tuduhan dengan faktor-faktor sosial-struktural, membuktikan bagaimana kajian-kajian itu membantu pemeliharaan sistem dan menguraikan fungsi-fungsi reaksioner dan konservatifnya, meskipun kadang-kadang berbagai kepercayaan ini terbukti menjadi kekuatan-kekuatan radikal yang berfungsi sebagai sarana perubahan sosial (Mair 1969; Marwick 1982).

Perspektif-perspektif kognitif, simbolik, semantik dan rasional sudah mulai memperbaiki sebagian kekurangan dan ketidaksempurnaan penelitian fungsionalis sebelumnya (Marwick 1982). Salah satu pendekatan semacam ini melibatkan pengamatan terhadap tukang sihir dan sihir sebagai bagian dari kerangka acuan yang lebih luas seperti kategori-kategori person dan konsep-konsep tentang tindakan manusia. MacGaffey (1980) menunjukkan bahwa analisis komparatif terhadap berbagai struktur agama bisa dilakukan dengan meneliti peranan tukang sihir/ tenung sebagai satu kesatuan dalam seperangkat tindakan religius yang terkait dengan kekuatan-kekuatan gaib (seperti dukun, ahli nujum, pesulap, pendeta, nabi, pemimpin). Berbagai peran ini bisa dibedakan berdasarkan berbagai kriteria seperti sarana yang digunakan (mistik atau teknis), sasaran yang dituju (publik atau perorangan), akibat-akibat yang diinginkan (kematian atau keselamatan, kehancuran atau perlindungan) dan legitimasinya (baik atau buruk). Pendekatan ini juga memungkinkan kita untuk lebih mudah menilai “ambiguitas moral” dari kekuatan itu bahwa kekuatan “yang sama” bisa baik atau jahat, terang-terangan atau rahasia, dan penyebarannya bersifat sosial atau antisosial berdasarkan kepada siapa itu digunakan dan untuk tujuan apa. Dalam sudut pandang yang berbeda, sihir dan tenung tengah dianalisis dalam konteks yang lebih luas dari berbagai sistem kontrol sosial dan kategori penyimpangan, dalam hubungannya dengan hukum, kriminologi dan kegilaan di masa awal Eropa modem dan dalam konteks-konteks kolonial (Hirst dan Woolley 1982). Namun, terdapat pendekatan lain yang bertujuan menyusun berbagai gerakan menemukan-sihir (witch finding) dalam konteks gerakan-gerakan keagamaan dan konteks doa dalam menjelaskan nasib buruk. Perkembangan-perkembangan tersebut mengharuskan agar sihir dan tenung tidak dilihat sebagai unsur-unsur yang saling terisolasi, sebagaimana realitas-realitas empiris, tetapi sebagai aspek-aspek klasifikasi yang lebih luas dan aspek sistem tindakan.

Incoming search terms:

  • pengertian tenung
  • pengertian ilmu tenung
  • arti tenung
  • yg dimaksud kekuatan magi dan tenung
  • Arti sihir tenung
  • apa itu tenung
  • arti tukang tenung
  • apa yang dimaksud sihir tenung
  • arti dukun sihir dalam sosioantropologi
  • arti ketenung

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian tenung
  • pengertian ilmu tenung
  • arti tenung
  • yg dimaksud kekuatan magi dan tenung
  • Arti sihir tenung
  • apa itu tenung
  • arti tukang tenung
  • apa yang dimaksud sihir tenung
  • arti dukun sihir dalam sosioantropologi
  • arti ketenung