Advertisement

symbolism (simbolisme)

Beragam gagasan simbolisme yang berkembang di dalam ilmu-ilmu sosial mencerminkan respon yang berbeda-beda terhadap ketegangan pokok, dan tampaknya tak terhindarkan, di dalam deskripsi ilmiah tentang budaya. Kebanyakan produk kultural menyampaikan beberapa makna, namun ilmu-ilmu sosial tidak dengan mudah dapat menerima makna yang jelas ini sebagai penjelasan yang memadai untuk manifestasi-manifestasi tersebut. Menutup kesenjangan ini adalah maksud utama dari perkembangan gagasan simbolisme. Hal ini diberi argumen yang kuat oleh Durkheim; mari kita lihat, misalnya, pernyataannya yang terkenal, bahwa isntitusi manusia, seperti agama, “tidak dapat dibangun berdasarkan kesalahan atau kebohongan … Seseorang harus tahu bagaimana menembus ke dalam simbol yang merepresentasikan realitas tersebut” (Durkheim 1947 .1915): 14). Pernyataan ini juga memperkenalkan ambiguitas, yang ditemukan di hampir semua diskusi simbolisme, antara tiga pemahaman yang berbeda terhadap istilah itu. Manifestasi budaya disebut simbolik, pertama, karena manifestasi itu oleh ilmuwan sosial dapat diinterpretasikan sebagai petunjuk dari dasar realitas sosial, atau, kedua, karena manifestasi itu adalah perasaan dari perhatian aktor-aktor tertentu, atau, terakhir, di dalam pengertian bahwa manifestasi tersebut adalah irasional prima-facie. Pemahaman-pemahaman yang berlainan ini berada di dasar tiga pendekatan utama terhadap simbolisme kultural yaitu secara berurutan, pendekatan sosiologis, hermeneutis, dan psikologis.

Advertisement

Pertama, pandangan sosiologis secara prinsip diasosiasikan dengan nama Durkheim, meskipun pandangan produksi budaya sebagai tanda atau simptom relasi sosial dikemukakan dengan tegas di dalam pendekatan Hegelian dan Marxis mengenai budaya. Khusus di dalam pendekatan Marx, definisi ideologi yang sulit itu mencermin kan ambiguitas sentral di dalam studi simbolisme. Ideologi seringkali digambarkan sebagai sebuah tindakan kamuflase, karena representasi suatu kelas sosial yang dengan jelas menggambarkan tatanan sosial di mana kelas itu mendominasi merupakan satu-satunya yang mungkin. Tetapi ideologi juga bagian dari bentuk kesadaran yang lebih luas dan secara historis menentukan, yang memasukkan semua representasi yang membuat nterkasi sosial dapat berlangsung. Sementara Marx mengkonientrasikan aktivitasnya sebagai pengurai bentuk-bentuk kultural pada daerah ideologi yang sempit untuk pertama kalinya, Durkheim memperluas gagasan simbol dan menghubungkannya dengan seluruh budaya manusia. Pertentangan ini tampak jelas di dalam agama, yang dipandang oleh Taylor sebagai usa ha yang keliru untuk menjelaskan dunia, sedang kan bagi Durkheim agama adalah “ekspresi figuratif” dari struktur sosial. Meskipun demikian, di dalam sistem Durkheimian, simbol tidak dapat di lihat hanya sekedar proyeksi dari bentuk-bentuk sosial yang telah ada. Agama pada khususnya menciptakan kohesi sosial dengan memperkuat kohesifitas konseptual dan cita-cita.

Seseorang dapat mengatakan bahwa tradisi simbolis Durkheimian cenderung mengacaukan dua aspek yang berbeda dari simbol budaya, yaitu penggunaannya sebagai sumber informasi bagi ahli sosiologi dan maknanya bagi aktor sosial. Ambil contoh pernyataan Leach, bahwa beragam nats [yaitu ruh, spirit) mitologi agama Kachin adalah, pada analisis terakhir, “tidak lebih dari cara menggambarkan hubungan formal yang ada antara pribadi dan kelompok yang riil di dalam masyarakat Kachin biasa” (Leach 1954: 182). Penjelasan yang diusulkan mungkin melemahkan signifikansi sosiologis dari beragam pandangan tentang ruh dari Kachin. Tetapi penjelasan ini tidak menyentuh makna khusus yang mereka artikulasikan untuk aktor Kachin. Pertimbangan tersebut ditemukan di dalam pendirian kedua tentang pendekatan terhadap simbolisme, yakni hermeneutika, di mana persoalan utamanya adalah menerjemahkan makna simbol budaya, bukan menjelaskan peristiwanya. Bagi Geertz, misalnya, studi budaya bukan “ilmu eksperimental dalam meneliti hukum tetapi ilmu interpretatif dalam mencari makna” (Geertz 1973: 5). Di dalam karya dari ahli seperti Turner (1967; 1974) atau Fernandez (1986), penekanannya terletak pada kekuatan figuratif dari simbol kultural, pada efek-efeknya sebagai gambaran ekspresif dan prinsip-prinsip yang terorganisasikan untuk perasaan dan pemikiran yang tidak lengkap atau tidak terstruktur.

Namun adalah mungkin mendekati makna tanpa menggunakan pandangan hermeneutika ini, dan juga mungkin untuk membahas produksi makna sebagai proses psikologi, mengakui investigasi ilmiah terhadap proses-proses tersebut sebagaimana proses yang terjadi di bidang lain. Hal ini membawa kita kepada pandangan ketiga, yakni pemahaman kognitif terhadap simbolisme, yang secara intrinsik berhubungan dengan pertimbangan rasionalitas. Mulai dari Levy-Bruhl atau Rivers sampai pada pendekatan kognitif modern, antropologi telah berusaha memberikan beberapa deskripsi proses kognitif. Jadi simbolisme dapat ditafsirkan sebagai sebuah “mode pemikiran” dengan properti fungsional tertentu. Gema dari konsepsi ini dapat ditemukan di dalam pandangan Levy-strauss mengenai pensee asavage. Di sini, simbol dihasilkan oleh penerapan operasi universal dan formal, seperti oposisi biner dan analogi, untuk serangkaian kategori “kongkrit”: alam dan budaya, pria dan wanita, mentah dan matang, dan sebagainya (Levy-Strauss 1966; lihat juga Leach 1976). Dengan tiadanya model psikologis yang tepat, bagaimanapun juga, ide mode pemikian khusus ini menghasilkan konsepsi simbolisme sebagai kategori residual, dan menjustifikasi komentar Gellner bahwa “di dalam antropologi sosial jika pribumi mengatakan sesuatu yang masuk akal, maka hai itu adalah teknologi primitif, tetapi jika kedengarannya sangat janggal, maka itu dinamakan simbolik” (Gellner 1987: 163). Sebuah usaha penting untuk melampaui karakterisasi ini dapat ditemukan di dalam penjelasan kognitif tentang simbolisme dari Sperber (1975). Menurut Sperber fenomena budaya tertentu adalah bersifat “simbolik” bagi aktor-aktor tertentu apabila interpretasi rasional mereka tidak menghasilkan seperangkat kesimpulan yang terbatas dan dapat diprediksi. Hal ini memicu pencarian representasi biasanya bersifat perkiraan, yang,jika benar, akan memungkinkan adanya interpretasi rasional. Konsepsi ini mengandung dua akibat yang menarik bagi ilmuwan sosial. Pertama, ada implikasi bahwa konsepsi ini gagal dalam usaha memberikan kunci atau terjemahan ekspresi budaya. Fakta bahwa sebuah fenomena diperlakukan secara simbolis menghilangkan kemungkinan adanya interpretasi tunggal dan lengkap. Kedua, apabila simbolisme ada sebagai sebuah proses psikologis, maka tidak ada yang dinamakan dengan “simbol,” sebuah kelas khusus dari produk budaya. Setiap item konseptual atau perseptual dapat menjadi simbolik jika ada beberapa indeks atau petunjuk bahwa sebuah interpretasi rasional tidak tersedia atau tidak memadai Dalam kerangka ini penjelasan yang tepat tentang simbolisme kultural akan ditemukan, bukan di dalam ilmu sosial, tetapi di dalam perkembangan teoretis dan empiris dari ilmu kognitif.

Incoming search terms:

  • pengertian simbolisme
  • simbolisme
  • arti simbolisme
  • pengertian simbolis
  • definisi simbolisme
  • makna simbolisme
  • Pengertian simbiolisme
  • apa yang dimaksud dengan simbolisme
  • pengertian dari simbolisme
  • jelaskan pengertian simbolis

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian simbolisme
  • simbolisme
  • arti simbolisme
  • pengertian simbolis
  • definisi simbolisme
  • makna simbolisme
  • Pengertian simbiolisme
  • apa yang dimaksud dengan simbolisme
  • pengertian dari simbolisme
  • jelaskan pengertian simbolis