PENGERTIAN SISTEM LAISSEZ FAIRE

96 views

Dalam kelompok kemahasiswaan yang mempunyai ciri laissez faire, semua anggota mendapat kebebasan yang cukup. Mereka tidak diperintah dan tidak ada satu golongan yang kepentingannya lebih dihargai. Tetapi kalau dibandingkan dengan kelompok demokratis ada satu kelemahan yang besar, yaitu kepemimpinan tidak ada atau tidak berfungsi. Kepemimpinan tidak mengatur apa-apa, tidak mengadakan rapat, tidak membina diskusi, dan tidak mencoba mengatur dua pihak bila bertentangan. Pemimpin di sini membiarkan saja semua permasalahan dengan harapan bahwa permasalahannya ini akan terpecahkan dengan sendirinya. Anggota-anggota kelompok tidak menuntut fungsi dari pemimpin, mereka puas asal mendapat kebebasan pribadi. Jelaslah bahwa dalam kelompok kerja seperti ini tidak terdapat koordinasi dan efisiensi kerja.

Dari ketiga sistem kelompok seperti yang telah diuraikan di atas, dapat dibagi lagi menjadi empat jenis dasar dari pemimpin-pemimpin dalam dunia kemahasiswaan, menurut caranya memimpin. Menurut caranya memimpin, dalam kenyataannya jarang ada pemimpin yang melaksanakan satu macam jenis kepemimpinannya.

Di bawah ini akan dijelaskan macam kepemimpinan dalam kelompok mahasiswa, sebagai berikut:

  1. Jenis dasar kelompok: sistem autoriter.

Jenis dasar pemimpin: autoriter keras. Reaksi kelompok: ketakutan, karena itu akan berusaha mendapatkan simpati pemimpin. Penilaian terhadap kegiatan mahasiswa: kegiatan kemahasiswaan tergantung dari pemimpinnya, dan yang paling berbahaya bila pemimpin datang dari golongan tertentu dan membawa misi tertentu. Prestasi kerja dalam kelompok ini dapat dikatakan cenderung kurang berhasil, karena laporan-laporan dari anggota kepada pemimpin selalu hal-hal yang baik atau laporan-laporan yang baik saja.

  1. Jenis dasar kelompok: sistem autoriter.

Jenis dasar pemimpin: autoriter tidak keras, mau mendorong bawahannya untuk maju dengan memuji dan mengritik. Komunikasi yang dilakukannya tidak dengan cara keras, tetapi kekurangannya karena semua inisiatif, ide, rencana datang dari dia. Reaksi kelompok: anggota kelompok tunduk kepada pimpinan seperti ini, tetapi tidak menunjukkan perkembangan kepribadian. Anggota kelompok ada yang simpati ada juga yang tidak menyukai pimpinan seperti itu. Penilaian terhadap kegiatan mahasiswa semacam ini: kegiatan kemahasiswaan dengan pemimpin seperti ini adalah kurangnya inisiatif dari anggota kelompoknya. Cara bekerja yang efisien jarang dipikirkan oleh anggota kelompoknya, dan para anggota kelompok tidak dapat menjadi pemimpin yang potensial. Efisiensi kerja dapat ditingkatkan asal pemimpin memberi petunjuk dalam pekerjaan dan mendorong pekerjaan yang dilakukan anggota kelompoknya.

  1. Jenis dasar kelompok: sistem demokratis.

Jenis dasar pemimpin: demokratis, memberikan kesempatan bagi kelompok untuk ikut serta dalam mengambil keputusan dan rencana- rencana. Reaksi Kelompok: mempunyai semangat, mau bekerja sama dalam tim, dan mau bertanggung jawab. Penilaian terhadap kegiatan mahasiswa dalam kelompok semacam ini adalah: memberikan hasil yang positif, di mana terjadi komunikasi yang baik dua arah antara bawahan dan pimpinannya. Biasanya tujuan kelompok diutamakan dan kepuasaan kerja dimiliki oleh semua anggota kelompok.

  1. Jenis dasar kelompok: sistem laissez f air e.

Jenis dasar pemimpin: pemimpin laissez f aire, memberikan kebebasan kepada anggota kelompoknya. Pemimpin seperti ini tidak mengambil suatu keputusan atau mengarahkan kelompok kepada tujuan kelompok. Reaksi-reaksi kelompok: Kelompok dengan kepemimpinan seperti ini membuktikan prestasi yang paling rendah, pekerjaan tidak teratur, dan motivasi kurang. Kadang-kadang ada hubungan tidak sehat yang menyebabkan kerusuhan-kerusuhan, sehingga praktis tim-kerja tidak ada. Hal-hal seperti ini akibat kepemimpinan dengan sistem ‘biarkan saja’.

Penilaian terhadap kegiatan kemahasiswaan seperti ini dapat dikatakan terlalu negatif, dan tampaknya jarang sekali kelompok mahasiswa dengan sistem kepemimpinan seperti ini.

Kelompok dan pemimpin mempunyai kaitan yang erat. Jenis kelompok menentukan jenis pemimpinnya, begitu juga seorang pemimpin akan menentukan suasana kelompok yang dipimpinnya. Sebuah kelompok yang sudah biasa menggantungkan pertanggungjawabannya kepada pemimpinnya akan mendapat seorang pemimpin autoriter. Tetapi jika para anggota sesuatu kelompok mahasiswa sudah biasa berpikir kritis dan mampu memimpin dirinya sendiri, akan memilih seorang pemimpin yang demokratis atau akan memaksa seorang pemimpin autoriter untuk mengubah cara kepemimpinannya. Sebuah kelompok dengan sistem laissez faire menganut asas biarkan saja, bukan hanya pemimpinnya saja yang membiarkan begitu saja berjalannya kegiatan dan kelompok, tetapi sebaliknya begitu juga para anggota kelompok sama sekali tidak menginginkan pemimpinnya mengatur dan menentukan koordinasi kerja bagi anggota kelompok. Dalam dunia kemahasiswaan dapat dikatakan bahwa: kepemimpinan demokratis mendapat tempat di antara anggota kelompoknya. Setelah kita menjelaskan pemimpin menurut cara memimpinnya, alangkah baiknya bila kita juga mengetahui pemimpin menurut “kedudukan” atau “status” mereka terhadap kelompoknya.

Incoming search terms:

  • maksud laissez faire

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *