Advertisement

Adalah rangkaian peraturan dan undang-undang yang berhubungan dengan pengaturan dan pengendalian uang yang beredar dalam suatu negara. Dalam sistem moneter terdapat tiga unsur pokok, yaitu: standar uang, jenis-jenis uang, dan lembaga-lembaga penciptaan serta pengendalian uang.

Standar Mata Uang juga dapat dibagi ke dalam dua golongan, yaitu: standar komoditas dan standar kredit.

Advertisement

(1) Standar komoditas: emas. Untuk dapat dikatakan menggunakan standar emas sepenuhnya, sistem moneter yang diterapkan di suatu negara harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: (1) satuan mata uang harus dinyatakan dengan bobot tertentu emas; (2) pasar emas harus bebas, baik di dalam maupun ke luar negeri; (3) semua uang harus dapat ditukar dengan emas sesuai dengan nilai nominalnya. Satu dolar Amerika dinilai sama dengan 13,714 grain emas, sehingga satu ons (480 grains) bernilai 35 dolar.

Dengan standar emas ini, pemerintah dituntut untuk disiplin dan hati-hati dalam pengeluaran dan peredaran uangnya, sebab pertama-tama, peredaran uang yang terlalu besar akan menurunkan rasio antara besarnya persediaan emas dan jumlah uang yang beredar. Menurunnya rasio ini akan menurunkan pula kepercayaan masyarakat pada uang, yang pada akhirnya menyebabkan semua orang menukar uangnya dengan emas. Pemerintah terancam kehabisan persediaan emas, dan tentu hal ini dapat menghancurkan sistem moneter yang sedang berjalan. Kedua, peredaran uang yang berlebihan akan mengakibatkan inflasi; selanjutnya ekspor akan merosot, sedang impor meningkat; hal ini akan mengakibatkan neraca perdagangan cenderung defisit. Defisit dalam neraca perda-gangan akan mengakibatkan emas mengalir ke luar negeri.

(2) Standar kredit adalah sistem moneter yang satuan mata uangnya tidak didasarkan atas bobot tertentu dari suatu jenis logam, dan mata uangnya tak dapat ditukar dengan logam tersebut. Mata uang yang beredar hanya dijamin oleh kekuatan hukum dan kebiasaan. Standar seperti ini sering disebut standar kertas, meskipun istilah ini sebenarnya kurang tepat karena mata uang yang beredar sebenarnya sama sekali tidak menggunakan standar, dan satuan mata uang yang beredar tidak dinilai berdasarkan berat tertentu dari “kertas”. Istilah “standar kredit” mungkin lebih tepat karena mata uang diterima sebagai alat penukar semata-mata karena adanya “kepercayaan”.

Meskipun demikian, negara yang menggunakan standar kredit bukannya sama sekali melepaskan diri dari kaitannya dengan logam tertentu. Pada umumnya, negara yang bersangkutan masih mempunyai cadangan emas baik di dalam maupun di luar negeri.

Sistem moneter internasional juga menuju ke semacam standar kredit seperti yang terjadi pada sistem moneter di dalam negeri. Cadangan alat pembayaran luar negeri makin kurang dikaitkan dengan emas melainkan lebih dikaitkan dengan claim yang mudah dijual yang dinyatakan dengan satuan mata uang negara-negara kuat, dan dengan Special Drawing Rights (SDR), yaitu claim terhadap International Monetary Fund (IMF).

Sejak Indonesia merdeka, mata uang rupiah selalu dikaitkan dengan dolar Amerika Serikat. Setelah melalui beberapa kali pemotongan nilai (sanering), yaitu tahun 1950, 1959, 1966, pada sanering tahun 1978, Indonesia melepaskan kaitan rupiahnya dengan dolar Amerika. Semenjak itu Indonesia menganut nilai tukar mengambang, seperti halnya Jepang serta negara- negara Eropa.

Jenis-jenis Uang. Sistem moneter juga mencakup jenis-jenis uang yang beredar di dalam masyarakat. Pada umumnya jenis uang yang beredar di dalam masyarakat terdiri atas:

(1) Uang kertas serta uang logam dan simpanan giro sebagai alat penukar yang setiap waktu dapat dipakai, dan ini merupakan pengertian uang dalam arti sempit. Uang kertas serta uang logam sering pula disebut uang kartal, sedang uang yang berupa simpanan giro disebut uang giral. Melalui fasilitas cek atau giro bilyet, simpanan giro dapat berfungsi sebagai uang, sama dengan uang kertas atau uang logam. Dalam sistem moneter, jumlah uang yang beredar dalam arti sempit ini diberi kode Ml.

(2) Deposito berjangka serta surat-surat berharga pasar uang. Meskipun tidak dapat digunakan sebagai alat penukar sewaktu-waktu, uang dalam bentuk ini tetap dikategorikan sebagai uang juga. Termasuk dalam kategori ini, di samping deposito berjangka serta surat-surat berharga pasar uang, adalah Tabanas dan Taska. Jumlah uang yang beredar dalam arti sempit (Ml)- ditambah dengan deposito berjangka serta su- rat-Surat berharga pasar uang ini di dalam sistem moneter diberi kode M2.

(3) Sertifikat deposito serta surat-surat berharga pasar modal lainnya. Jumlah uang yang beredar dalam arti luas (M2) ditambah dengan jenis uang yang terakhir ini, dalam sistem moneter disebut L, yaitu pengertian uang dalam arti seluas-luasnya. L merupakan singkatan liquidity yang berarti kemampuan untuk membayar. Jenis uang yang terakhir ini, meskipun tak dapat dipergunakan sebagai alat pembayaran, mudah sekali dikonversikan ke dalam uang tunai, dalam arti dijual.

Dalam praktik, hanya Ml dan M2 yang dianggap sebagai uang yang beredar. Jumlah uang yang beredar akan sangat mempengaruhi perkembangan ekonomi masyarakat. Besarnya jumlah uang yang beredar akan mengakibatkan adanya ekspansi kegiatan ekonomi atau inflasi. Oleh sebab itu pemerintah, melalui kebijakan moneternya, akan selalu mengendalikan jumlah uang yang beredar.

Lembaga-lembaga Penciptaan dan Pengendalian Uang. Lembaga yang dapat mengedarkan atau men- ciptakan uang adalah Bank Sentral dan Bank Komersial. Uang kartal hanya dapat diedarkan oleh Bank Sentral, sedang uang giral dapat diciptakan oleh bank- bank komersial.

Penciptaan uang kartal oleh Bank Sentral. Uang kartal yang terdiri atas uang kertas serta uang logam hanya dapat diciptakan oleh Bank Sentral. Uang kartal diciptakan oleh Bank Sentral melalui pinjaman yang diberikan baik kepada bank komersial maupun pemerintah. Bank Sentral yang bertindak sebagai banknya bank-bank {bankers’ bank) dapat memberi kredr kepada bank komersial apabila mereka meng-alami kesulitan likuiditas, dengan tingkat bunga tertentu. Dengan menaikkan atau menurunkan tingkat bunga ini Bank Sentral dapat mengatur jumlah uang yang beredar di dalam masyarakat. Jika tingkat bunga dinaikkan, bank komersial akan mengurangi pinjamannya kepada Bank Sentral, sehingga kredit yang dapat diberikan kepada masyarakat pun akan berkurang, dan selanjutnya akan mengakibatkan berkurangnya jumlah uang yang beredar di masyarakat. Demikian pula sebaliknya. (Lihat KEBIJAKAN MONETER). Bank Sentral juga dapat menciptakan uang kartal melalui pinjaman kepada pemerintah. Defisit anggaran pendapatan dan belanja negara dapat ditutup oleh pemerintah dengan pinjaman dari Bank Sentral. Melalui kebijakan fiskal, kadang-kadang defisit semacam ini memang sengaja diciptakan, agar kegiatan ekonomi meningkat. Tetapi, jika defisit ini ditutup dengan pinjaman dari Dank Sentral, jumlah uang yang beredar akan meningkat, dan hal ini dapat mengakibatkan terjadinya inflasi. (Lihat KEBIJAKAN FISKAL).

Penciptaan uang giral oleh bank komersial. Bank komersial dapat menciptakan uang giral melalui kredit yang diberikan kepada masyarakat. Misalnya bank A mendapatkan simpanan baru dari seorang nasabah sebesar 100 juta rupiah. Dengan adanya simpanan baru ini, kemampuan bank A memberikan kredit meningkat. Besarnya peningkatan ini tergantung dari cadangan minimal yang diharuskan oleh Bank Sentral, misalnya 15 persen. Ini berarti bahwa dari jumlah 100 juta yang diterima oleh bank A, 15 juta rupiah harus ditahan di dalam bank sebagai cadangan, sedang 85 juta rupiah dapat dipinjamkan kepada perusahaan lain yang membutuhkan. Jika bank A memberikan kredit kepada perusahaan lain sebesar 85 juta rupiah, dan perusahaan ini menyimpan uangnya di bank B, maka terjadilah proses penciptaan uang berikut melalui kredit yang diberikan oleh bank B. Demikian seterusnya, sehingga dari simpanan awal sebesar 100 juta rupiah yang diterima oleh bank A, jumlah tambahan uang yang beredar di dalam masyarakat akan jauh lebih besar dari 100 juta rupiah tersebut.

Incoming search terms:

  • pengertian sistem moneter
  • sistem moneter di indonesia
  • sistem moneter adalah
  • sistem moneter indonesia
  • jenis jenis sistem moneter
  • pengertian sistem moneter di indonesia
  • #############################
  • apa itu sistem moneter
  • sistim moneter
  • jenis-jenis sistem moneter

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian sistem moneter
  • sistem moneter di indonesia
  • sistem moneter adalah
  • sistem moneter indonesia
  • jenis jenis sistem moneter
  • pengertian sistem moneter di indonesia
  • #############################
  • apa itu sistem moneter
  • sistim moneter
  • jenis-jenis sistem moneter