PENGERTIAN SISTEM SARAF OTONOM

14 views

PENGERTIAN SISTEM SARAF OTONOM – Sistem saraf mamalia terbagi menjadi dua bagian fungsional yang relatif terpisah: sistem saraf somatik (volunter) dan sistem saraf otonom (involunter) (SSO). Karena sistem saraf otonom sangat penting dalam studi perilaku emosional, mengkaji berbagai karakteristik utamanya merupakan hal yang bermanfaat.
Otot-otot rangka, antara lain yang menggerakkan anggota badan kita, dipengaruhi oleh sistem saraf volunter. Walaupun demikian, sebagian besar perilaku kita, tergantung pada sistem saraf yang secara umum
bekerja tanpa kita sadari dan secara tradisional dianggap di luar kendali kesadaran, sehingga disebut otonom. Walaupun demikian, riset biofeedbach menunjukkan bahwa SSO berada di bawah kendali kesadaran yang lebih besar dibanding yang diketahui sebelumnya.
Sistem saraf otonom memengaruhi kelenjar en-dokrin, jantung, dan otot-otot halus yang berada di dinding-dinding pembuluh darah, perut, usus, ginjal, dan organ-organ lain.


• Para ahli klinis bergantung pada beberapa mode pengukuran psikologis dan biologis dalam upaya menemukan cara terbaik untuk memperoleh gambaran tentang seorang pasien, mencari sebab-sebab masalah pasien, dan menentukan metode pencegahan atau penyembuhan yang efektif. Terlepas dari metode pengukuran yang digunakan, pada akhirnya hal itu mencerminkan paradigma yang dianut ahli klinis.
• Dalam mengumpulkan informasi suatu alat ukur, para ahli klinis dan peneliti harus mem-pertimbangkan reliabilitas dan validitas. Relia-bilitas mengacu pada apakah suatu alat ukur konsisten dan dapat diulang; dan validitas mengacu pada apakah alat ukur benar-benar mengukur sesuatu yang hendak diukur oleh alat ukur tersebut. Prosedur alat ukur sangat bervariasi dalam hal reliabilitas dan validitasnya.
• Pengukuran psikologis mencakup wawancara klinis, tes psikologis, dan pengukuran behavioral serta kognitif.
• Wawancara klinis merupakan percakapan yang terstruktur atau relatif tidak terstruktur di mana ahli klinis menanyai pasien untuk mendapatkan informasi mengenai masalah-masalahnya.
• Tes psikologis adalah prosedur terstandar yang dirancang untuk mengukur kepribadian atau kinerja. Pengukuran kepribadian berkisar dari kuesioner self-report berdasarkan pengalaman pribadi, seperti Minnesota Multiphasic Perso nality Inventory, hingga tes proyektif di mana pasien menginterpretasi stimuli yang tidak jelas, seperti Tes Rorschach. Tes intelegensi, seperti Wechsler Adult Intelligence Scale, yang meng evaluasi kemampuan intelektual seseorang dan memprediksi seberapa baik prestasi akade miknya.
• Bila alat ukur tradisional mencoba memahami karakter umum atau struktur kepribadian seseorang, alat ukur behavioral dan kognitif lebih menekankan pada bagaimana orang-orang
bertindak, berperasaan, dan berpikir dalam berbagai situasi tertentu. Pendekatan yang dila-kukan mencakup observasi langsung terhadap perilaku; wawancara dan alat ukur self-report yang memiliki fokus situasional; dan prosedur pengukuran kognitif khusus dengan menge-mukakan apa yang dipikirkan yang berupaya mengungkap keyakinan, sikap, dan pola pikir yang berkaitan dengan berbagai situasi spe sifik.
• Alat ukur biologis mencakup berbagai teknik pencitraan yang dikendalikan dengan komputer, seperti alat pemindai CT dan PET—yang me-mungkinkan pengamatan terhadap berbagai struktur dan mengakses fungsi-fungsi otak dalam keadaan hidup; pengujian neurokimia yang memungkinkan para ahli klinis menge tahui tingkat berbagai neurotransmiter; tes neuropsikologis, seperti Halstead-Reitan, yang berupaya mengidentifikasi berbagai kerusakan otak berdasarkan variasi dalam respons-respons terhadap tes psikologis; dan alat ukur- gsiko fisiologis, seperti denyut jantung da-nkonduktan kulit, yang dihubungkan dengan peristiwa atau karakteristik psikologis tertentu.
• Faktor-faktor budaya dan ras memiliki peran penting dalam pengukuran klinis. Teknik-teknik pengukuran yang dikembangkan berdasarkan penelitian terhadap populasi orang kulit putih dapat menjadi tidak akurat bila digunakan untuk para klien nonkulit putih, contohnya. Para ahli klinis dapat menjadi bias ketika meng evaluasi para pasien dari kalangan minoritas, yang dapat mengarah pada meminimalkan atau melebih-lebihkan psikopatologi pasien. Para ahli klinis menggunakan berbagai metode untuk mencegah berbagai efek negatif bias-bias budaya dalam pengukuran.
• Isu apakah perilaku manusia stabil dalam berbagai situasi sangat kontroversial. Isu tersebut telah menjadi perhatian teoretis dan praktis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *