Advertisement

Di Indonesia, seperti yang telah disebutkan pada bab terdahulu, terdapat kehidupan atau pola kehidupan masyarakat yang sangat bervariasi. Salah satu di antaranya adalah kehidupan masyarakat beternak. Perlu dikemukakan di sini bahwa meskipun pola beternak adalah merupakan bagian dari kegiatan masyarakat yang bertani irigasi dan masyarakat peladang, akan tetapi yang dimaksud dengan masyarakat peternak di sini adalah masyarakat yang mengandalkan kehidupan ternak sebagai mata pencarian pokoknya, dan pola beternak itu menjadi sumber dari pembagian stratifikasi sosial yang ada, atau yang memengaruhi berbagai kegiatan lainnya.

Di Indonesia, masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari usaha be-ternak dengan prinsip mengambil sesuatu dari hewan yang dipelihara untuk kebutuhan hidupnya sebagai mata pencarian mereka, dapat digolongkan ke dalam beberapa kategori, seperti:

Advertisement
  1. Mengusahakan ternak dengan menggembalakannya sesuai dengan lokasi lahan di mana terdapat pakan ternaknya, sehingga kehidupan masyarakat yang bersangkutan mengikuti pergerakan ternaknya.
  2. Mengusahakan ternak dengan mengandangkannya untuk kemudian memanfaatkan sesuatu dari hewan ternak tersebut (seperti susu, daging, dan telur), serta menjualnya sebagai barang dagangan. Hasil penjualannya sebagian dimanfaatkan untuk memenuhi kelangsungan hidup ternak (aksinasi. pakan, dan sebagainya), sedangkan sebagian lagi untuk keperluan hidup sehari-hari dari masyarakat bersangkutan.
  3. Mengusahakan ternak guna pelengkap dari suatu mata pencarian pokok

lainnya.

Ketiga kategori beternak tersebut mempunyai perbedaan dalam teknologi pemeliharaannya. Dalam kategori pertama, yaitu mengusahakan ternak sebagai mata pencarian pokok dan kehidupan mengikuti hewan ternak, masyarakatnya adalah sebuah masyarakat peternak dengan pola hidup tertentu yang unsur-unsur budaya lainnya sangat terkait dengan sistem ternak. Di Indonesia model masyarakat kategori pertama ini masih dapat dijumpai dalam masyarakat suku bangsa di provinsi Nusa Tenggara Timur seperti orang Helong, Sumba dan sebagainya. Lingkungan alamnya (sabana) sangat mendukung berlangsungnya kehidupan hewan ternak.

Selain keterkaitannya yang amat erat antara sistem ternak dengan unsur-unsur budaya lainnya, dalam masyarakat peternak kategori pertama ini terdapat mitologimitologi yang berkaitan dengan hewan ternak. Kesemuanya ini menandakan bahwa beternak bagi masyarakat tersebut bukanlah sebagai mata pencarian tambahan. Sekarang di Indonesia, masyarakat dengan pola mata pencarian utama berdasarkan hewan ternak sudah tidak mudah dijumpai, karena mereka telah mencampurkan mata pencarian lainnya dalam pola beternak yang ada, sehingga kegiatan beternak tampak sebagai mata pencarian tambahan saja. Sebaliknya jika pola-pola sosial yang ada seperti stratifikasi sosial, sistem perkawinan, sistem pewarisan dan aspek lainnya dalam kebudayaan masih mengandalkan hewan sebagai unsur utama, maka ternak menjadi suatu mata pencarian utama, dan ini tampak pada masyarakat suku bangsa-suku bangsa di Nusa Tenggara Timur.

Pola hidup masyarakat dengan sistem beternak ini diawali dengan lingkungan alam yang ada di sekitarnya, seperti daerah sabana atau padang rumput yang luas yang memungkinkan kelompok sosial mengembangkan mata pencarian sebagai peternak hewan, dan yang diikuti pada awalnya dengan pola hidup mengembara atau berpindah-pindah.

Teknik-teknik beternak yang terdapat dalam masyarakat model ini pada dasarnya masih sangat sederhana yaitu hewan peliharaan digembalakan di daerah yang masih luas berupa sabana atau padang rumput. Jumlah hewan peliharaan menjadi model dalam penentuan unsur lain dalam budaya masyarakat sebagaimana tergambar pada bentuk stratifikasi sosial, yaitu orang yang memiliki hewan dalam jumlah banyak, dapat menduduki strata sosial yang tinggi.

Dalam masyarakat yang mengandalkan ternak sebagai mata pencarian pokok, hewan peliharaan dianggap sebagai sumber atau unsur yang pokok dalam penentuan kekerabatan. Meskipun masyarakat di Nusa Tenggara Timur berpola patrilineal, bentuk sistem kekerabatannya dapat dikatakan sebagai bentuk ‘ambilineal’, yaitu ternak diturunkan pada gariS keturunan laki-laki, dan kebun diturunkan kepada pihak perempuan. Dari gambaran ini tampak bahwa hewan ternak menjadi unsur penting dalam budaya masyarakat.

Advertisement