Advertisement

Pola mata pencarian dengan mengandalkan kemahiran untuk mendapatkan dan menggunakan uang sebagai alat penukar merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan tipe sosial budaya ini. Keahlian tertentu dalam menggunakan dan menciptakan teknologi tertentu, khususnya dalam telekomunikasi menjadi faktor utama dalam berhasilnya seseorang dari tipe sosial budaya industri jasa ini untuk dapat melangsungkan kehidupannya.

Dalam konteks industri jasa, telekomunikasi dan teknologi transportasi memegang peranan penting dalam tipe sosial budaya semacam ini. Ukuran berhasil atau tidaknya seseorang dari kebudayaan dengan tipe sosial budaya jasa adalah penguasaan teknologi telekomunikasi dan transportasi yang ada. Dalam kaitannya dengan tipe sosial budaya lainnya, maka tipe sosial budaya industri jasa sering dijadikan patokan untuk kemajuan suatu masyarakat dengan kebudayaan tertentu. Sebagai patokan kemajuan suatu bangsa tentunya akan berdampak buruk terhadap tipe sosial budaya lainnya yang berbentuk berburu meramu .

Advertisement

Pola mata pencarian beternak akan memengaruhi tipe dari sosial budaya masyarakat yang melakukannya, dan ini tergambar pada bagaimana teknologi yang dipakai melalui kebudayaannya dan terwujud dalam pranata sosial beternak ketika beradaptasi dengan lingkungan yang ada. Masyarakat peternak di Indonesia pada dasarnya lebih didominasi oleh masyarakat-masyarakat di daerah Nusa Tenggara.

Pada tipe sosial budaya bercocok tanam. Sehingga sering muncul stereotipe negatif terhadap tipe sosial budaya lainnya.

Masing-masing pola kehidupan ini diikuti oleh pola-pola bertindak yang sangat berbeda satu dengan lainnya, atau dengan kata lain mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda sebagai pola pengetahuan, nilai aturan dan norma yang dipakai untuk memahami lingkungan yang dipakai untuk mewujudkan tingkah laku. Masing-masing pola kehidupan ini bisa terwakili juga dalam satu suku bangsa atau dengan kata lain dalam satu suku bangsa bisa terdapat beberapa pola kehidupan. Dalam suku bangsa Mentawai misalnya, ada sebagian anggotanya yang berpola hidup berladang dengan bahan makanan pokok sagu, hidup di dalam hutan sebagai wilayah kekuasaannya (sosial, politik, agama dan ekonomi). Sementara itu ada sebagian anggotanya yang hidup dalam pola hidup industri dengan jasa sebagai mata pencariannya tinggal di kota provinsi. Ada orang Dayak yang sebagian hidupnya tinggal di dalam hutan dengan mata pencarian berladang pindah, tetapi ada sebagian lagi hidup di kota sebagai pegawai negeri atau anggota DPR. Atau orang Jawa yang sebagian anggotanya hidup di daerah pedesaan dengan mata pencarian bertani sawah, atau tinggal di pesisir pantai dengan mata pencarian sebagai nelayan, tetapi sebagian lagi hidup di kota besar maupun kecil sebagai pegawai atau buruh pabrik dengan cara memenuhi kebutuhannya melalui jasa.

Pada masa lalu, satu suku bangsa dapat dikatakan mempunyai budaya yang satu dan digambarkan dalam bentuk pola hidup yang spesifik pula. Hal ini dapat saja terjadi karena ketika itu belum banyak interaksi antarsuku bangsa dengan kebudayaannya. Akulturasi antarbudaya yang berbeda belum banyak terjadi, sehingga sering kita membaca dan melihat adanya kekhasan suku bangsa dengan kebudayaannya yang tertentu seperti yang diteliti oleh para ahli antropologi Barat pada masa lalu di daerah-daerah Afrika atau di Pasifik. Dalam tulisan-tulisan ahli antrpologi tersebut tercatat adanya suku bangsa tertentu yang hidup dengan lingkungannya yang spesifik dan mempunyai adat istiadat yang spesifik pula dalam pola hidup tertentu. Melalui catatan tersebut, kita dapat mengetahui adanya suku bangsa tertentu dengan kebudayaannya yang tertentu pula.

Akan tetapi, pada masa sekarang kebudayaan berkembang semakin cepat dan hubungan antarsuku bangsa sering terjadi, sehingga tidak menutup kemungkinan adanya pola hidup yang bercampur, dan saiu suku bangsa dapat saja memiliki dua atau tiga pola hidup sekaligus. Ini diakibatkan oieh adanya percampuran kebudayaan, terutama adanya percampuran pengetahuan budaya yang dimiliki masing-masing kelompok sosial ini, sehingga mengubah dan menggeser pola-pola pengetahuan yang ada sebelumnya, khususnya aspek teknologi yang  berhadapan dengan lingkungan.

Dari kesemua contoh dan pernyataan di atas tergambar adanya identitas sebuah kelompok sosial yang berinteraksi dengan terhadap kelompok sosial lain, yang selanjutnya melahirkan sebuah tataran pedoman yang disepakati sesama anggota kelompok sosial untuk berinteraksi dan menciptakan jatidiri dari masing-masing. Jika kita perhatikan hubungan antarpenduduk dan perkembangan waktu, tampak bahwa suku bangsa dengan kebudayaannya adalah dua buah konsep yang terpisah dan tidak dapat dicampuradukkan. Kita juga dapat melihat adanya konsep pola hidup yang sangat terkait dengan lingkungan tempat tinggal mereka dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pada bentuk pola hidup jasa, akan terdapat bentuk budaya yang dijadikan acuan bersama oleh sekelompok orang dalam suatu masyarakat dengan latar belakang kesukubangsaan yang berbeda-beda. Dalam konteks masyarakat ini, konsep satu suku bangsa dengan kebudayaannya yang spesifik menjadi tidak relevan. Hal ini terkait dengan pola hidup jasa yang biasanya terdapat di dalam masyarakat kota yang dapat terdiri dari berbagai macam suku bangsa Akan tetapi mereka menggunakan pedoman kebudayaan yang sama sehingga tercipta pola hidup yang sama, yaitu industri jasa dan barang.

Bila diperhatikan dari sudut perkembangan sistem teknologi yang berkaitan dengan model pola mata pencarian yang menciptakan model pola hidup, akan tampak suatu pengaruh teknologi yang nyata-nyata memisahkan antara kesukubangsaan dan kebudayaan yang spesifik menuju kepada masyarakat dan kebudayaan. Pada masyarakat berburu meramu dengan jumlah individunya sekitar 50 sampai 100 orang, kita dapat melihat adanya suatu suku bangsa dengan pedoman kebudayaan yang satu, tetapi ketika terjadi percampuran antarsuku bangsa dan kebudayaannya, pola hidup menjadi satuan yang sering diacu ketimbang dengan suku bangsa. Pada kehidupan dengan pola hidup industri jasa dan barang, latar belakang politik, ekonomi dan pendidikan menjadi sumber pembeda tingkah laku atau pembeda budaya yang digunakan. Ketiga aspek tersebut (politik, ekonomi, dan pendidikan) menjadi latar belakang dari stratifikasi sosial yang ada di perkotaan. Orang dengan kemampuan mendominasi dalam bidang politik, dapat masuk menjadi anggota stratifikasi sosial atas, begitu juga dengan pendidikan dan atau ekonomi. Masing-masing strata sosial ini akhirnya dapat menciptakan pola hidup yang berbeda satu dengan lainnya, dan masing-masing pola hidup ini mengandalkan pengetahuan sistem teknologi yang dikuasainya pada masing-masing strata.

Masyarakat Indonesia dalam kenyataannya tinggal dan menetap di berbagai wilayah yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya, seperti masyarakat pantai, masyarakat pegunungan, masyarakat pedesaan, masyarakat perkotaan, masyarakat dengan fasilitas komunikasi yang lancar dan masyarakat di pedalaman dengan sarana komunikasi yang terbatas. Masing-masing individu sebagai warga masyarakat tersebut menunjukkan tingkah laku yang spesifik dan identitas tertentu dalam golongan-golongan sosial yang berlaku. Masing-masing golongan sosial terikat pada suatu rasa kebersamaan sebagai satu kesatuan suku bangsa.

Satu suku bangsa dapat terdiri dari berbagai kebudayaan, dan ini berkaitan erat dengan lingkungan manusia dalam suku bangsa tersebut tinggal. Akhirnya satu suku bangsa bisa terdiri dari beberapa masyarakat yang masing-masing anggota masyarakatnya menunjukkan tindakan dan tingkah laku yang berbeda antara satu dengan lainnya, walaupun semuanya tergolong dalam satu suku bangsa. Bila dilihat lagi, tingkah laku-tingkah laku yang terwujud atau yang diwujudkan tersebut, mempunyai keteraturan-keteraturan yang berpola yang mempunyai arti dalam pengkategorisasian interaksi-interaksi yang terjadi. Keteraturan ini terlihat pada bentuk-bentuk tindakan yang terjadi pada masyarakat yang sama. Hal ini berkaitan dengan kebudayaan yang berlaku. Masyarakat dan kebudayaan memang merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Kebudayaan merupakan suatu pengetahuan yang bersifat abstrak yang ada pada masyarakat. Dengan kebudayaan, individu sebagai anggota masyarakat mewujudkan tingkah lakunyayang dipakai untukberinteraksi, baik dengan lingkungan alam, lingkungan binaan yang dihadapinya maupun dengan lingkungan sosial dalam lingkungan masyarakatnya.

Kebudayaan sifatnya abstrak dan berada dalam benak individu-individu anggota masyarakat dan dipakai sebagai sarana interpretasi yang merupakan suatu rangkaian model-model kognitif yang dihadapkan pada lingkungan hidup manusia (Spradley, 1980:5-9) atau dapat dikatakan sebagai referensi dalam mewujudkan tingkah laku berkenaan dengan pemahaman individu terhadap lingkungan hidupnya. Jadi kebudayaan merupakan serangkaian model-model referensi yang berupa pengetahuan mengenai kedudukan kelompoknya secara struktural dalam masyarakat yang lebih luas. Tingkah laku akan sebagai tanggapan terhadap polapola interaksi dan komunikasi di antara kelompok-kelompok. Rangkaian modelmodel referensi tersebut didasarkan pada nilai-nilai budaya yang merupakan inti dari suatu kebudayaan. Nilai budaya terdiri dari pandangan hidup dan keyakinan, yang kemudian akan terwujud dalam etos (pedoman etika berkenaan dengan baik dan tidak baik).

Secara diakronis tampak bahwa masyarakat Indonesia atau masyarakat-masyarakat yang berdiam di wilayah Negara.Kesatuan Republik Indonesia, pada dasarnya sudah terlebih dahulu ada dan muncul dengan kebiasaannya yang spesifik serta mempunyai keabsahan kedudukan masing-masing kelompok dalam satu wilayah mitos sebagai wilayah kesukubangsaan. Adanya tingkah laku budaya (adat-istiadat) tertentu serta adanya simbol mitos merupakan pengabsah adanya kelompok sosial yang bersangkutan. Demikianlah terlihat adanya kelompok-kelompok kesukubangsaan dengan kebiasaannya masing-masing sebagai kebudayaannya sendiri. Hal ini dapat terjadi ketika hubungan sosial dengan kelompok lain yang berbeda masih belum banyak terjadi, bahkan ada kelompok-kelompok sosial tertentu yang sama sekali tidak tersentuh oleh kelompok sosial lainnya. Ini dapat terlihat pada bentuk-bentuk pola hidup yang berburu meramu yang berdiam di hutan-hutan sebagai wilayah kehidupannya.

Kemudian dari adanya satu suku bangsa dengan satu kebudayaannya yang spesifik, mulai luntur akibat adanya percampuran antarkelompok sosial dengan teknologi yang berbeda, seperti pada masyarakat peternak, nelayan, berladang dan pada masyarakat industri jasa yang dalam masyarakat industri jasa ini sudah tidak ada lagi acuan kesukubangsaan.

Incoming search terms:

  • pengertian jasa dalam konteks industri
  • terangkan pengertian jasa dalam konteks industri

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian jasa dalam konteks industri
  • terangkan pengertian jasa dalam konteks industri