Advertisement

Sistem pengetahuan dan teknologi perladangan yang paling tua usianya selalu diikuti oleh sistem permukiman yang berpindah-pindah. Pergeseran lahan untuk bercocok tanam di ladang didasarkan pada tingkat kesuburan lahan yang sudah semakin tidak subur. Ketika akan melakukan penanaman kembali, dilakukan pembukaan hutan baru untuk dijadikan lahan perladangan berikutnya selama beberapa kali panen. Demikianlah sistem ini sering dikatakan sebagai perladangan berpindah dari satu areal ke areal lainnya mengikuti tingkat kesuburan lahan, sementara lahan yang lama akan dibiarkan menjadi hutan kembali sehingga tingkat kesuburannya kembali seperti sediakala untuk selanjutnya dijadikan ladang lagi.

Proses pembakaran lahan untuk dijadikan ladang telah berlangsung berabadabad lamanya. Pada masa sekarang, karena adanya pola hidup yang berbeda (seperti industri jasa), tipe-tipe masyarakat dengan sistem sosial budaya perladangan bakar ini sering dipersalahkan dalam proses kebakaran hutan. Padahal secara pengetahuan tradisional, proses pembakaran lahan yang mereka lakukan sangat erat dengan sistem pengetahuan budaya yang terkait erat dengan lingkungannya, yang merupakan wujud dari proses keseimbangan lingkungan dengan kebudayaan. Penting kiranya bagi kita untuk mengetahui bagaimana sebenarnya proses perladangan yang ada pada masyarakat dengan tipe sosial budaya perladangan, khususnya berkenaan dengan perladangan bakar.

Advertisement

Melalui sistem pengetahuan budaya yang ada dan berkembang dalam masyarakat perladangan, kita dapat mengetahui kearifan sosial yang sangat terkait erat dengan pelestarian dan pengorganisasian pengolahan hutan dalam rangka keseimbangan antara lingkungan dan kebutuhan manusia.

Dalam membuat sagu ini dilakukan secara bersama-sama dengan anggota satu dusun. Satu tempat pembuatan sagu memerlukan beberapa orang untuk mendirikannya, sehingga dr.lam pembuatan sagu tersebut juga akan melibatkan orang-orang yang membantu mendirikannya. Tengerjaan pembuatan sagu secara beramai-ramai dan bergiliran ini dilakukan agar lebih ekonomis sifatnya dan tidak usah repot-repot untuk mendirikan alat serta membongkarnya, karena harus masyarakat perladangan secara otomatis memiliki pengetahuan budaya pelestarian yang sangat baik karena lingkungan—khususnya hutan—lingkungan—khususnya hutan—merupakan bagian dalam keseluruhan pola hidup mereka. Berbeda dengan masyarakat bertipe sosial budaya industri jasa, seperti pengusahaan hutan, lingkungan hutan hanyalah se-bagai sumber daya untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi semata dan bukan sebagai kebutuhan kebudayaan secara keseluruhan.

Pada dasarnya sistem perladangan yang dianut masyarakat di berbagai daerah di Indonesia amat bervariasi. Di bawah ini dikemukakan bagaimana cara sekelompok suku bangsa mengolah hasil ladangnya sebagai bahan untuk menjadi makanan matang. Proses pembakaran batu bagi masyarakat suku bangsa Dani di Papua merupakan contoh bagaimana orang Papua mengolah bahan makanan

mentah menjadi makanan matang. Bakar batu diawali dengan rencana untuk melakukan perayaan tertentu dan ini dimaklumatkan oleh kepala suku untuk melaksanakannya. Bahan-bahan dikumpulkan oleh para anggota masyarakat dan biasanya adalah bahan-bahan makanan pokok yang biasa sehari-hari dikonsumsi anggota masyarakat yaitu terdiri dari, ubi kayu, talas, dan daun ubi juga daging babi dan ayam.

Pada hari yang telah ditentukan, orang-orang akan mengunjungi daerah di mana acara akan dilaksanakan. Seluruh anggota keluarga akan dibawa untuk merayakan pesta bakar batu. Biasanya acara dimulai pada pukul 07.00 pagi. Para ibu dan dibantu oleh remaja putri melakukan pekerjaan mencuci dan membersihkan bahan makanan, sedangkan kaum laki-laki bekerja menggali lubang berdiameter 1-1,5 m dengan kedalaman 1 m. Lubang ini digunakan untuk tempat memasak bahan-bahan makanan tadi. Sebagian warga akan pergi ke hutan untuk mencari dan mengumpulkan daun pakis dan daun pisang yang digunakan untuk menutup atau membungkus makanan.

Biasanya pekerjaan menggali lubang dan membungkus bahan makanan selesai bersamaan. Setelah itu warga mengumpulkan kayu bakar yang kering. Kayu-kayu tersebut ditumpuk setinggi 1 m dan di atasnya ditumpuk batu-batu berukuran sedang. Kemudian kayu dibakar. Ketika api padam dan hanya tinggal bara, warga kemudian mengambil batu-batu yang telah panas tadi dengan sebuah kayu penjepit untuk memindahkan batu-batu tersebut ke dalam lubang yang telah dipersiapkan. Sesudah dianggap cukup, bahan makanan yang telah dibungkus itu diletakkan di atas batu panas tadi, kemudian ditutupi kembali dengan batubatu panas sehingga tampak seperti gundukan batu panas. Setelah semua lubang tertutupi oleh batu panas, warga mulai menunggu masaknya makanan untuk beberapa lama.

Sekitar 2-3 jam menunggu barulah dianggap bahwa makanan tersebut sudah matang. Kemudian batu-batu tersebut disingkirkan dari lubang dan ma-kanan yang dibungkus dengan daun pisang dan pakis diambil dan dibagikan kepada semua orang yang hadir.

Incoming search terms:

  • devinisi perladangan
  • pengertian sistem ladang

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • devinisi perladangan
  • pengertian sistem ladang