Advertisement

Yang di Indonesia disebut Sinta, adalah istilah Sanskerta yang berarti waluku, tanah pertanian, atau “ibu pertiwi”. Dalam kitab-kitab suci Veda, Sita digambarkan sebagai dewi pertanian dan buah-buahan. Dalam epos Ramayana, Sita adalah putri mahkota Raja Janaka, penguasa Videha, dan istri Rama.

Kitab suci Veda menggambarkan Sita terlahir dari bumi, ibu pertiwi. Dalam Ramayana tertulis bahwa ayahnya, Janaka, raja negeri Videha, pernah berucap: “Tatkala saya sedang bekerja membajak di ladang, dari dalam tanah gempuran yang masih segar muncul seorang bayi sangat mungil. Bayi ini saya namakan Sita dan saya asuh menjadi anak saya.” Jadi Sita tidak lahir dari kandungan seorang ibu, melainkan dari perut bumi.

Advertisement

Dalam mitologi Hindu, Sita juga dikenal sebagai Bhumija, Dharanisuta, atau Parthivi, yang semuanya berarti “putri yang terlahir dari dalam tanah”. Dalam legenda kuno dikatakan juga bahwa Sita telah hidup di Jaman Kritayuga sebagai Vedavati. Sebagai personifikasi Devi Lakshmi ia lahir sebagai penyebab musnahnya Kerajaan Langka yang dipimpin Rahwana, seorang raja yang telah diramal akan tewas karena wanita. Pada saat itu Sita menjadi istri Rama, Raja Ayodhya. Setelah diculik Rahwana, meskipun berhasil direbut kembali oleh Rama, Sita tidak dipercaya lagi oleh suaminya. Melalui penderitaan yang amat panjang akhirnya Sita tak kuat menerima segala macam tuduhan. Pada suatu hari ia memanggil ibu pertiwi, tanah kelahirannya. Dengan penuh keajaiban bumi pun merekah, Sita masuk ke dalamnya, dan sesaat kemudian tanah kembali menjadi rata. Rama hidup sendirian penuh sesal. Ia akhirnya bersemadi hingga badan jasmaninya ditinggal rohnya yang kembali menyatu dengan Hyang Widhi Wasa.

Advertisement