Advertisement

Istilah ini mengacu pada suatu situasi di mana peningkatan kapasitas produksi akan memperkecil biaya rata-rata. dengan catatan harga-harga inputnya konstan. Dengan kapasitas yang besar, maka pemanfaatan input menjadi lebih efisien. Pabrik besar akan menghasilkan output per satuan input yang lebih tinggi ketimbang pabrik kecil. Perhatikan contohnya berikut ini, berupa hasil pabrik ethylene di tahun 1964 (Jackson, 1982; diadaptasikan dari Pratten, 1971): Skala/kapasitas pabik ethylene (output, ribuan ton/tahun) Biaya pengadaan peralatan (jutaan poundsterling)

– Biaya peralatan per unit output/

Advertisement

– modal (£/ton)

– Biaya per unit (£/ton)

– Biaya bahan baku

– Biaya tenaga kerja Biaya barang modal (depresiasi)

Total biaya per unit. Penurunan biaya per unit tenaga kerja itu dikarenakan peningkatan kapasitas atau skala pabrik yang memerlukan lebih sedikit tenaga kerja (pekerja yang sama bisa melakukan lebih banyak hal) sehingga kebutuhan tenaga kerja pun berbanding terbalik dengan peningkatan skala ekonomis. Demikian pula, biaya per unit modal turun karena proporsi (biaya) pertambahan peralatan lebih rendah ketimbang proporsi kenaikan kapasitas produksinya. Dalam kalimat lain, setiap unit peralatan yang ditambahkan mengandung daya produksi yang lebih tinggi. Perlu dicatat bahwa konsep skala ekonomis hanya berlaku jika penggantian peralatan dilakukan dengan menghadirkan peralatan baru yang lebih produktif. Jika tidak, maka outputnya akan sama saja dan di sini takkan ada skala ekonomis. Hubungan antara biaya pengadaan atau akuisisi peralatan baru dan kapasitas produksinya disebut “aturan kekuatan” (power rule), atau yang oleh Chilton (1950) disebut “faktor enamper-sepuluh” (six-tenth factor) (lihat pula Williams 1947a; 1947b). “Aturan kekuatan” (yang kemudian diidentikkan dengan istilah “sinergi” merupakan landasan terpenting skala ekonomis. Rumusannya adalah sebagai berikut. Kalau K adalah biaya akuisisi sebuah peralatan baru, V adalah kapasitas produksinya, dan subskrip i dan j masing-masing adalah ukuran kapasitas produksi peralatan baru dan lama (jadi i melambangkan kapasitas yang lebih besar), sedangkan s adalah parameter aturan kekuatan. Pada dasarnya nilai s ini adalah turunan dari duapertiga hubungan antara bidang di permukaan dan bidang utama dari suatu peraga yang melambangkan kapasitas rata-rata suatu alat produksi. Jika bentuknya berupa dua kubus, rasio antara luas permukaan keduanya dengan rasio kapasitasnya biasanya 2:3, dan inilah nilai s. Kedua kubus itu dalam hitungan sakala ekonomis biasanya melambangkan faktor produksi tetap dan variabel. Buku-buku engineering sudah menyajikan tabel-tabel untuk menaksir nilai-nilai K dan V (nilai-nilai perbandingan) dan juga s yang merupakan parameter kuncinya. Tabel-tabel ini sering digunakan para insinyur untuk menghitung biaya pembangunan dan perluasan pabrik. Para ekonom juga berminat mengungkap mengapa nilai-nilai s untuk aneka peralatan selalu di bawah 1 (sekitar duapertiga). Misalnya, dalam sebuah sampel yang mencakup 288 jenis peralatan, nilai rata-rata s yang muncul adalah 0,6559 dengan standar deviasi 0,2656 (dihitung dari Woods 1975; Appendix C). Konsekuensinya, kita dapat menyimpulkan bahwa keberadaan skala ekonomis itu nyaris bersifat universal dan hampir selalu hadir dalam peningkatan kapasitas dari suatu peralatan atau pabrik. Ada pula istilah skala dis-ekonomis yang berarti penambahan kapasitas atau skala output justru memperbesar biaya rata-rata. Konsep ini dimunculkan untuk menjelaskan adanya pabrik-pabrik tertentu yang tidak tambah efisien (polanya hanya berbentuk U) sekalipun kapasitas produksinya ditingkatkan. Ada beberapa alasan untuk itu, antara lain: perlunya jenis peralatan baru yang secara teknis dapat menciptakan pola substitusi tenaga kerja-modal yang lebih baik; perlunya penyempurnaan manajerial untuk mengkoor- dinasikan berbagai proses kerja ketika pabrik bertambah besar, atau perlunya penambahan fasilitas transportasi atau distribusi untuk mendukung penambahan output yang tentunya memerlukan wilayah sebaran yang lebih luas.

Incoming search terms:

  • skala produksi
  • pengertian skala produksi
  • skala ekonomi
  • pengertian skala ekonomi
  • skala ekonomis
  • pengertian skala ekonomis
  • skala produksi adalah
  • skala tidak ekonomis
  • skala ekonomi dan skala tidak ekonomi
  • skala ekonomis dan nonekonomis

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • skala produksi
  • pengertian skala produksi
  • skala ekonomi
  • pengertian skala ekonomi
  • skala ekonomis
  • pengertian skala ekonomis
  • skala produksi adalah
  • skala tidak ekonomis
  • skala ekonomi dan skala tidak ekonomi
  • skala ekonomis dan nonekonomis