PENGERTIAN SKEMA EVOLUSIONER DARI WALLACE ADALAH – Skema evolusi Bellah mempunyai manfaat, dan bersifat instruktif menurut semacam cara yang umum. Penekanannya atas obyektifikasi kekuasaan atau makhluk supernatural dalam tahap-tahap awal evolusi agama, maupun penekanannya atas evolusi tema penolakan-dunia dengan munculnya agamaagama historis, merupakan pandangan ke depan yang penting. Namun kecenderungannya untuk melihat semua agama primitif sebagai suatu tipe tunggal dapat mengubah pemahaman kita tentang kehidupan religius dalam masyarakat primitif. Masalah ini teratasi di dalam klasifikasi sistem-sistem religius evolusioner oleh Wallace. Wallace bukan saja membedakan dengan lebih cermat antara sistem religius primitif, tapi juga mengemukakan beberapa ciri khas tambahan mengenai evolusi agama yang patut dicatat. Suatu pemahaman mengenai skema ini, dengan demikian, melengkapi pandangan Bellah.

Wallace memandang agama sesuatu masyarakat sebagai pranata pemujaan (cult institutions). Suatu pranata pemujaan adalah “seperangkat ritual yang semuanya mempunyai tujuan umum yang sama, semuanya secara eksplisit dirasionalkan oleh seperangkat kepercayaan yang serupa atau yang berkaitan, dan semuanya didukung oleh kelompoksosial yang sama” (1966:75). Ada empat tipe utama pranata pemujaan yang diidentifikasi oleh Wallace. Pranata pemujaan individualistik terdapat apabila tidak terdapat shaman, padri, atau spesialis-spesialis keagamaan lainnya untuk melakukan ritualritualtapi setiap orang bertindak sebagai spesialis, dan melakukan ritualritual khusus bila timbul kebutuhan untuk itu. Dalam pranata pemujuaan shaman terdapat seorang spesialis agama — seorang shaman — yang dipandang mempurtyai kualifikasi dan kekuasaan agama khusus. Sebagai imbalan, para shaman berhubungan dengan kekuasaan-kekuasaan supernatural untuk kepentingan langganan mereka. Sebaliknya dari pranata pemujaan individualistik, pranata pemujaan shaman mempertahankan pembagian kerja keagamaandimana terdapat pembedaan di antara spesialis keagamaan yang nlelniliki keterampilan dan kekuasaan khusus dan orang-orang awam yang tidak mempunyai atribut khusus demikian itu. Tingkat pranata pemujaan ketiga ialah komunal. Pranata pemujaan komunal dicirikan oleh kelompok orang awam yang”bertanggung jawab untuk pelaksanaan secara terjadwal atau sewaktu-waktu ritual-ritual yang penting bagi berbagai kelompok sosial’ mulai dari para anggota kategori khusus — misalnya tingkat usia, jenis kela min, anggota-anggota masyrakat rahasia, kelompok-kelompok kerabat ter-tentu, dan mereka yang menderita penyakit-penyakit tertentu — sampai kepada komunitas keseluruhan” (1966:86-87). Contoh pranata pemujaan komunal adalah ritual-ritual pertanian masyarakat Iroquois, seremoni nenekmoyang orang-orang Cina dan beberapa suku Afrika, dan ritual totemik dan pubertas di kalangan aborijin Australia. Meski pranata pemujaan komunal. dicirikan oleh tipe spesialisasi keagamaa, tidak terdapat ahli agama yang bekerja penuh atau hirarkhi keagamaan yang ekstensif. Akan tetapi, hirarkht keagamaan yang ekstensif terdapat pada pranata pemujaan eklesiastikal. Pranata pemujaan demikian itu didasarkan pada adanya juru agama profesional yang terorganisasi secara birokratis. Anggota-anggota ahli agama itu adalah spesialis-spesialis yang bekerja penuh yang dipilih atau diangkat untuk jurusan-jurusan keagamaan yang permanen, terdapat suatu garis pemisah yang tajam antara para ahli agama dari dan orang awam; para ahli agama memonopoli pengetahuan religius dan memimpin ritual-ritual keagamaan, sementara orang-orang awam adalah penerima pengetahuan dan ritual yang pasif.

Wallace mengidentifikasi empat tipe agama evolusioner yang didasar kan pada gabungan pranata-pranata pemujaan: (1) agama-agama shaman, yang hanya terdiri dari pranata pemujaan individual clan shamanik; (2) agamaagama komunal, yang mengandung pranata pemujaan koimmal, shamanik, dan individualistik; (3) agama-agama Olympian, yang mengandung pranata pemujaan illdividual, shamanik, dan komunal, maupun pranata pemujaan eklesiastikal yang terorganisasi sekeliling rumah-rumah pemujaan (pantheon) dewa-dewa tinggi yang politeistik; dan (4) agama-agama monoteistik, yang mengandung pranata pemujaan illdividualistik, shamanik, dan komunal, sejalan dengan pranata pemujaan eklesiastikal yang terorganisasi sekitar konsep suatu dewa tinggi tunggal.

Wallace percaya bahwa agama-agama shamanik terutama terdapat di kalangam masyarakat pemburu dan peramu. Orang-orang Eskimo mempunyai agama shamanik. Mereka mendiami dunia i11i dengan berbagai roh-roh besar dan kecil, dan yang paling penting dari mereka ialah Sedna Penjaga Hewan Laut. Suatu pranata pemujaan yang besar ialah Pemujaan Shaman. Kegiatan yang paling penting yamg dilakukan oleh’shaman ialah perjalanan tahunannya ke dasar laut, suatu perjalanan di mana ia berusaha untuk meyakinkan Sedna Penjaga I-Iewan Laut untuk melepaskan perburuan yang diawasinya agar orang-orang Eskimo dapat hidup tahun berikutnya. Shaman-shaman Eskimo inga sering dipanggil untuk mengobati penyakit. Orang-orang Eskimo menganut dua pemujaan illdividualistik, yakni Pemujaan Penolong Roh (Spirit Helper cult) dan Pemujaan Hewan Buruan (Gunie Allinurl Cult). Kegiatan religius dalam pemujaan-pemujaan itu melip uti penentuan pelaksanaan ritual ter tentu individual maupun penghindaran diri dari tabu-tabu tertentu.

Agama-agama komunal paling karakteristik pada masyarakat-masya-rakat hortikultur. Wallace mengidentifikasi bahwa agama-agama demikian telah ditemukan di kalangan banyak masyarakat Indian Amerika Utara, di kalangan masyarakat-masyarakat Afrika (kecuali Afrika Utara Muslim dan kerajaan-kerajaan Afrika yang tersentralisasi), dan di kalangan sejumlah masyarakat Melanesia dan Polinesia. Masyarakat-masyarakat kepulauan Trobriand di Melanesia terorganisasi sepanjang garis agama komunal. Lembaga pemujaan yang besar ialah apa yang oleh Wallace disebut Technological Magic Cult (pemujaan ilmu gaib teknologi), dimana ahli-ahli ilmu gaib memimpin upacara-upacara komunal yang meliputi ilmu gaib kebun, ilmu gaib kano, dan ilmu gaib penangkapan ikan. Ritual-ritual itu terjadwal, yang dihubungkan dengan siklus iklim. Sebagai tambahan pada pemujaan komunal

masyarakat Kepulauan Trobriand mempunyai pemujaan komunal lain, yakni pelayanan shamanik, dan terlibat dalam berbagai praktek religius yang dualistik. Agama-agama Olympian paling umum dapat dijumpai di kalangan masyarakat-masyarakat hortikultural yang intensif dan agraris. Agama-agama Olympian telah dijumpai di kalangan peradaban                Dunia Baru, seperti  Maya, Aztec, dan Inca; di kalangan banyak kerajaan dan chicidom di Afrika; di kalangan masyarakat-masyarakat Asia Timur di perbatasan Cina dan misahlya kerajaan-kerajaan di Burma, Indonesia, dan Korea; di kalangan masyarakat-masyarakat Yunani dan Romawi kuno. Kerajaan Dahomey di Afrika memiliki suatu agama Olympian. Sebagai tambahan pada pemujaan-pemujaan illdividualistik, shamanik, dan komunal, orang-orang Dahomey melaksanakan Pemujaan Dewa-dewa yEmg Besar. Pemujaan ini mempunyai banyak ciri sebuah gereja yang tetap karena secara aktif mendukung dan melegitimasi kelas penguasa Dahomey. Kepercayaan inimempunyai sejumlah ahli agama dan banyak tempat pemujaan-pemujaan dewa-dewa itu terbagi menjadi empat sub-pemujaan(si(bpantheolis), danmasing-masing diassosiasikan dengan orde agama yang terpisah. Setiap orde agama mempunyai sejumlah ahli agama, tempat ibadat, dan ritualnya sendiri. Seperti halnya pada agama Olympian, setiap dewa diassosiasikan dengan suatu aspek alam tertentu yang diawasinya.

Agama-agama dunia yang besar, misalya Yudaisme, Kristen, Islam, dan Hindu, tentu saja adalah agama-agama moneteistik. Agama-agama demikian muncul dalam konteks masyarakat-masyarakat agraris yang kompleks dan terus berlangsung sampai ke era industri modern. Meskipun terdapat sejumlah perbedaan mendasar antara agama-agama monoteistik yang besar itu, semua mempunyai kesamaan dalam konsepsi tuhan yang tunggal kepada \siapa perlu diberi penghormatan yang besar dan kepatuhan.

Filed under : Bikers Pintar,