PENGERTIAN SOLIDARITAS DAN EKONOMI POLITIK DALAM TUKARMENUKAR MARITAL – Salah satu ciri yang sangat menarik pada masyarakat primitif ialah mengenai aspek-aspek tertentu praktek perkawinan mereka. Dalam banyakmasyarakat kesukuan dan kumpulan (band) wanita sering diper-tukarkan dalam perkawinan di antara thm di kalangan kelompok ke tu-runan eksogami sesuai dengan kriteria yang sangat jelas.

Dalam sejumlah besar masyarakat bentuk tukar-menukar marital ialah apa yang oleh Claude Levi-Strauss (1969; aslinya 1949) disebut sebagai tukar-menukar terbatas (restricted exchange), atau apa yang sering dikenal sebagai perkawinan lintas sepupu bilateral (bilateral crosscousin inarridge). Dalam situasi ini, kaum wanita saling dipertukarkan dengan kelompok-kelompok keturunan dalam setiap generasi. Jadi jika kaum wanita kelompok A kawin ke kelompok B, maka kaum wanita kelompok B kawin ke kelompok A. Suatu kelompok keturuna_n pada umumnya akan mempunyai hubungan tukar-menukar dengan lebih dari satu kelornpok keturunan lainnya, dalam kasus mana sesuatu kelompok yang diberi wanita akan sebaliknya meniberikannya wartita, dan dalam generasi yang sama. Sampai sejauh mana tukar-menukar terbatas itu sesungguhriya adalah suatu kesepakatan di kalangan mitra perkawinan dari generasi deini generasi.

Lintas sepupu adalah anak-anak dari saudara perempuan seseorang atau dari saudara laki-laki ibu seseorang (anak-anak saudara laki-laki ayah atau saudara perempuan ibu dikenal sebagai sepupu parale1). Dalam tukar-menukar terbatas sistem itu sesungguhnya terstruktur sehingga seorang remaja laki-laki akan kawin dengan seorang gadis yang sekaligus adalah anak perempuan dari saudara perempuan ayah-nya dan anak perempuan dari saudara laki-laki ibunya. Dengan derniki-an ia adalah seorang lintas sepupu ganda atau bilateral.

Tipe tukar-mertukar marital utan-ta lainnya yang dibahas oleh LeviStrauss ialah yang disebut tukar-menukar yang umum (generalizett exchange), yang mempunyai dua subtipe. Tukar-rnenukar umurn daurpendek (sho•t-cycle generalized exchange), yang juga dikenal sebagai perkawinan lintas sepupu patrilateral (patrilateral cross-cousin marriage), terjadi apabila kelompok-kelon-ipok ketn•urian yang melakukan tukarmenukar itu melarigkahi suatu generasi dalam mengembahican wanita ke kelompok lainnya. Jadi bila kelompok A rnemberi wartita kepada kelompok B dalam salah satu generasi, maka B ticlak akan memberi wanita kepada A sebelurn generasiberikutnya. Baik A rnaupun B saling tukar-rnenukar wanita, tapi tidak seperti tukar-menukar terbatas hubungannya terjadi bersela_ng-seling di antara generasi-gerterasi. Bentuk tukar-menukar ini disebut perkawinan lintas-sepupu p atrila teral karena secara logis ini mengakibatkan seorang pemuda kawin dengan mak perempuart dari saudara perempuan ayahnya.

Tukar -menukar urnum daur panjang (atau perkawinan lintas sepupu matrilateral) meneakup hubungan tukar-menukar yang sangat asimetris di antara kelompok-kelonwok keturunan. Dalam bentuk tukarmenukar ini, kelompok-kelompok tetap berada dalarn hubungan mernberi istri atau menerima istri yang permanen dengan kelompok-kelomp ok lainnya. Jadi jika kelonmok C memberikan kepada kelompok D, kelompok C sendiri tidak pernah mengambil dari D. Sebaliknya D dapat mernberi istri kepada F, tapi jika demikian D tidak pernah akan inenerima dari F. Pengaturan perkawinan ini menyebabkan pemudapemuda mengavvini anak perempuan dpri s audara laki-laki ibunya; dari sinilah nama perkawinan lintas sepupu matrilineal itu berasal.

Maryin Harris secara tegas mempertanyakan interpretasi tukt.r-menukar yang digeneralisasi Harris mengakui bahwa perkawinan bilateral dapat dijelaskan sebagai suatu usaha untuk membangkitkan solidaritas. Namun, perkawinan bilateral adalah karakteristik pada masyarakat-masyarakat yang sangat egaliter, sementara tukar-menukar yang digeneralisasi cenderung ditemukan pada masyarakat -masyarakat yang mendekati, atau sudah berada pada tahap -tahap awal, stratifikasi sosial. Harris mengemukakan bahwa tukar-mertukar yang digeneralisasi adalah suatu aspek sistein stratifikasi yang penting dari rnasyarakat-masyarakat itu, ckin bahwa perlu dipahami sebagai suatu alat sosiai yang dirancang buktrt meningkatkart solidaritas sosial tetapi untuk melayani kepentingan-kepentingan kelompok-kelompok superordina t. Karena perkawinan matrilateral jauh umum daripada perkawinan patrilateral maka Harris memberi perhatian khusus untuk ber-usaha menjelaskannya. Dikemukakannya bahwa apabila terdapat per-kawinan matrilateral maka kelompok-kelompok pemberi istri a dalah superordinat dan p emberian is tri-is tri kepada kelompok-kelompok subordinat adalah cara-cara utama dengan mana mereka itu menciptakan dan mempertahankan dominasi mereka. Dalam memberikan wanita kepada kelompok-kelompok lain, mereka itu sebaliknya menerima bentuk-bentuk kompensasi material tertentu yang sangat berharga. Sebagai contoh, di kalangan orang-orang Kachin di Burma, suatu ma.syarakat suku yang meinpunyai s is tem perkawinan matrilateralyang tel diteliti secara mendalam (cf. Leach, 1954), kelompok-kelorripok keturunan yzulg dominan memberi wanita kepada kelompok-kelonipok subordinat dan menerima hewan ternak dan pelayan tenaga kerja. Jadi, bagi Harris perkawinan matrilateralbukanlah suatu instrumen solidaritas sosial, melainkan suatu instrumen ekonomi politik. Dikeinukakannya (1979: 183-184): Perkawinan matril yang jauh dari peningkatan solidaritas, mencerminkan kemunduran resiprositas, dan suatu gerakan ke arah kontrol diferensial atas produksi dan reproduksi oleh kelompok-kelon-yok ketu-runan yang dihirarkhiskan. Perkawinan matrilineal membagi-bagi suatu komunitas menjadi kelompok-kelompok keturunan yang saling berhadap-hadapan sebagai pemberi istri kepada penerima istri. Untuk rnengkompensasikan “pemberian” sauclara perempuan dan anak perernpuan itu, pemberi istri tidak menunggu sampai selesainya daur A >B > C A. Sebaliknya, rnereka selalu rnenuntut kompensasi langsung clalarn bentuk mas kawin atau pelayanan atau kombinasi kedua-cluanya. Ini berarti bahwa sesuatu kelompok rnerigasuh dan mengawinkan ke luar lebih banyak anak perempuan bila dibandingkan dengan kelompok lain akan beradu dalarn posisi untuk mernusatkan kekayaan dan tenaga kerja yang lebih besar daripada kelornpok-kelompok lainnya.

Secara rati-rata, semakin besar kelompok keturunan, semakin besar jurnlah anak perempuan. Sernakin banyak  anak perempuan, semakin besar pemusatan tenaga kerja yang clependen dan  kekayaan dalam bentuk rnenantulaki-lakidan mas Kelompokbesar yang makmur tidak menernui kesulitan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban merekabaik sebagaipemberi istri maupunsebagai penerirna istri. Akan tetapi, kelompok-kelompok yang lebilt kecil dan kurang makraur segera menjadi bergantung pada kelornpok-kelompok yang lebih besar, clan karena kekayaan mereka berkurang, maka kaum pria mereka yang kawin clapat mengambil residensi di kalailgan pemberi istri yang doniinan sebagai warga kelas dua yang perrnanen.

Filed under : Bikers Pintar,