Advertisement

Perdu tegak atau pohon kecil dengan tinggi 1 – 8 meter. Permukaan pepagannya kuning kecokelatan dan terliput bintil-bintil lentisel, sedangkan bagian dalamnya berwarna kehijauan. Daunnya majemuk menyirip dengan 9-20 anak daun yang duduk berselang. Pinak daunnya melonjong hingga bundar telur sungsang yang melonjong. Perbungaannya tersusun dalam tandan atau kadang-kadang menyendiri di ketiak daun. Tajuk bunganya hijau pucat kekuningan. Panjang buah polongnya sekitar 2 sentimeter. Bijinya 1-7 butir.

Solulo tersebar di seluruh Kepulauan Nusantara kecuali Sumatra. Biasanya tumbuhnya di semak-semak pantai, bakau, hutan berawa sekitar pantai atau di dataran berlumpur, pada ketinggian 0-30 meter di atas permukaan laut. Di Ternate, daunnya dimanfaatkan sebagai sayuran. Rebusan atau bubur daun solulo dulu juga digunakan untuk obat luar penderita cacar; sedangkan seduhan daunnya diminum untuk obat beri-beri. Sebagai obat luar, solulo juga dapat menyembuhkan patah tulang, terkilir, atau keseleo. Di Sulawesi Utara, solulo yang dikenal dengan nama rorako ditanam sebagai tanaman pagar atau tanaman naungan di perkebunan kopi dan cokelat; tumbukan halus daun mudanya digunakan untuk mengobati bisul.

Advertisement

Klasifikasi Ilmiah. Solulo tergolong suku Fabaccae (kacang-kacangan); nama ilmiahnya Ormocarpum sennoides.

Advertisement