socialism (Sosialisme)

Sosialisme adalah sebuah teori politik dengan ajaran-ajaran utama seperti kepemilikan kolektif atas alat-alat produksi dan, sejauh dimungkinkan, pertukaran pasar harus digantikan oleh bentuk distribusi lain yang didasarkan pada kebutuhan sosial. Sosialisme menjadi eksis akibat revolusi industri dan prinsip-prinsip ini dirancang untuk memikat masa kelas pekerja di kota-kota industri baru. Sebelum berkembangnya industri modern, konsepsi radikal tentang reorganisasi masyarakat didominasi oleh egalitarian dan demokratik republik, yang memiliki komitmen untuk memberdayakan para perajin dan petani. Sosialisme ditujukan untuk menyelesaikan permasalahan industri modern dan masyarakat pasar kompetitif, yang pada gilirannya menjadi sebuah titik tolak baru dalam ide politik.

Ide-ide sosialis dan gerakan politik mulai berkembang pada awal abad 19 di Inggris dan Perancis. Periode antara 1820-an sampai 1850-an ditandai dengan pletoria beragam sistem sosialis yang diusulkan oleh Saint-Simmon, Fourier, Owen, Blanc, Proudhon, Marx dan Engels, dan banyak lagi pemikir lainnya. Kebanyakan sistem ini bersifat utopia dan sebagian besar pendukungnya adalah para filantropis kelas menengah yang memiliki komitmen untuk memperbaiki kehidupan para pekerja. Kebanyakan penganut sosialis mendambakan masyarakat yang lebih terorganisasi yang akan menggantikan anarki akibat dari pasar dan kemiskinan masai masyarakat perkotaan.

Solusi dari kaum sosialis saling berbeda satu sama lain: ada yang sangat mendukung kepemilikan negara sementara yang lain lebih menyukai kepemilikan yang koperatif dan timbal-balik, ada yang mengusulkan ekonomi yang desentralisasi dan bersifat mutualis, ada pula yang menyukai ekonomi tersentralisasi. Sosialisme pada masa ini belum mengembangkan gerakan politik yang kuat; sosialisme lebih mengandalkan pada formasi komunitas-komunitas model berdasarkan patron-patron kaya seperti Robert Owen, bergabung dengan elit-elit mapan untuk melakukan reformasi, seperti Saint-Simonian di Perancis, atau dengan mengusulkan proyek-proyek untuk negara, seperti halnya dengan National Warshopnya Louis Blanc setelah revolusi 1848 di Perancis,

Gerakan radikal dan revolusioner masai pada periode ini tidak bersifat sosialis. Gerakan-gerakan ini malah bersifat nasionalis di negara-negara seperti Hungaria atau Polandia, atau Italia di bawah pendudukan asing di Inggris dan Perancis gerakan-gerakan yang ada bersifat popular radikal, yang memiliki komitmen pada reformasi demokratik-republik. Antara tahun 1848 sampai 1871 demokrasi popular dan tradisi-tradisi revolusioner menjadi lemah di negara-negara Eropa setelah mengalami serangkaian kekalahan politik, akibat barikade-barikade di negara-negara seperti Perancis, atau karena pembendungan politik tanpa kekerasan oleh partai-partai dan kelompok yang berkuasa, sebagaimana dengan kasus kaum Chartis di Inggris.

Pada periode antara 1848 dan 1871 Marx dan Engels berupaya keras membangun kembali teori sosialis. Mereka menyerang kelompok Utopian pendahulu mereka karena mereka menolak menyebarkan skema-skema reformasi sosial. Pada intinya mereka berpendapat bahwa perjuangan kelas yang lahir dari sistem produksi kapitalis adalah landasan obyektif bagi kemenangan sosialis, sosialisme diidentifikasi sebagai sebab dari kelompok proletariat, dan tujuannya adalah menggulingkan kelas penguasa dan menciptakan sebuah masyarakat baru yang bebas dari eksploitasi ekonomi atau dominasi negara. Marx dan Engels secara konsisten mendukung revolusi dan perebutan kekuasaan oleh kelas pekerja, tetapi mereka mengakui bahwa hak pilih universal (universal suffrage) bisa mendorong keruntuhan kapitalisme.

Antara tahun 1870 sampai 1914 landasan institusional dari sosialisme modern dikembangkan di Inggris dan Jerman. Hak pilih universal melahirkan partai politik modern sebagai sebuah mesin permanen dengan petugas-petugasnya yang digaji dan bertugas memobilisasi massa pemilih. Partai Demokrasi Sosial (SPD) telah menjadi kekuatan yang dominan dalam sosialisme Jerman, bukan karena partai itu memakai ortodoksi partai Marxisme melainkan karena memulai lebih awal dan mampu berkompetisi secara efektif untuk memperebutkan suara dalam pemilihan nasional. Di Inggris dan di Jerman industrialisme berskala besar dibarengi dengan pertumbuhan serikat perdagangan British Labour Party diciptakan untuk menempatkan perwakilan serikat-serikat dagang di parlemen dan mata rantai antara Partai Demokrasi Sosial dan serikat dagang sangatlah erat.

Sebagai partai peserta pemilu dan perwakilan politik dari serikat pekerja, setiap gerakan sosialis di negara industri maju harus menanggalkan politik perlawanan masai popular ala kelompok “kiri” lama Eropa. Bahkan Engels memutuskan seperti Eduard Bernstein salah satu pengikut Marx untuk tidak melakukan apa-apa selain menempatkan kesimpulan pada titik ekstrim logikanya. Karya Bernstein Preconditions of Socialism (1993 [1899]) menghadirkan pembelaan yang paling awal terhadap “demokrasi sosial” sebagai lawan dari sosialisme revolusioner. Ia menggantikan tujuan “revolusi” dengan perjuangan abadi untuk melakukan reformasi. Yang lain, seperti Kautsky, berpendapat bahwa melalui parlemen dan cara-cara politik lain yang dapat diterima, para pekerja dapat merekayasa sebuah perubahan revolusioner dalam sistem sosial.

Selain itu, tumbuhnya pemerintahan besar merupakan suatu dukungan institusional yang penting dari gerakan-gerakan sosialis modern bagi partai massa dan serikat dagang. Pada periode 1870 – 1914 di Inggris dan Jerman, pemerintah menyediakan, mengatur dan mengorganisasi berbagai aktivitas seperti pendidikan masai, jaminan sosial, kesehatan masyarakat, jasa-jasa umum, dan sebagainya. Keadaan ini menciptakan landasan baru bagi pembelaan dan praktek sosialis. Sosialisme Fabian Inggris berusaha mengintervensi pemisahan pemerintahan pusat dan daerah, yang bertujuan menyediakan suatu organisasi inti bagi intelektual-intelektual praktis. Keberha-silan Fabianisme ditandai dengan kegagalan para pesaingnya seperti doktrin-doktrin kelompok sosialis Guild yang anti-statis dan desentralis. Menurut para pemikir yang berpengaruh seperti G D H Cole (1953 – 61), gerakan sosialis Guild telah mati pada awal tahun 1920-an. Demikian juga sindikalisme tenaga kerja Inggris (yang begitu kuat pada tahun 1914 dan sepanjang Perang Dunia I) telah musnah pada waktu yang hampir bersamaan, sementara serikat dagang institusional konvensional mampu bertahan dan terus berkembang.

Sosialisme Eropa Barat diekspor ke wilayah periferi, dan terutama ke Rusia yang tengah mengalami industrialisasi dengan pesat. Kelompok sosialis Rusia mengadopsi pandangan Marxisme. Beberapa di antaranya seperti Mensheviks tetap setia pada model demokrasi sosial Jerman, yang menekankan sebuah strategi evolusioner dan kerja sama dengan modernisasi kapitalistis. Lenin dan faksi Bolshevik lebih menyukai penggulingan secara revolusioner dari tsarisme dan kapitalisme, dan bertujuan membangun masyarakat sosialis dengan cepat tanpa melalui masa peralihan yang terlalu panjang. Pendudukan kekuasaan oleh Lenin dalam Revolusi Rusia adalah sebuah kemenangan atas kelompok demokrat sosial dan sosialis tani. Ia dikutuk oleh banyak kaum sosialis barat, terutama oleh kelompok parlementaris Kautsky maupun Rosa Luxemburg yang revolusioner, bahwa tindakannya justru melahirkan pemerintahan otoritarian yang akan mengkhianati kepentingan para pekerja.

Berbagai kritik ini menunjukkan kebenaran dari ramalan. Sebelum 1914 gerakan sosialis secara esensial, lepas dari berbagai perbedaannya, adalah sebuah usaha (enterprise). PD I menghasilkan perpecahan dalam sosialisme dan sebuah rezim komunis yang menentang sosialisme demokratis Eropa. Partai-partai komunis Eropa pada tahun 1920-an dan pada awal 1930-an memberi penekanan pada politik perlawanan masai, yang tujuannya menstigmatisasi partai-partai demokrat sosialis seperti SPD sebagai “fasis sosial”. Setelah PD II, dengan konsolidasi dari pengaruh Soviet di Eropa Timur dan restorasi dari demokrasi parlementer di Eropa Barat, telah menghasilkan perubahan radikal dalam diri partai-partai komunis. Di Perancis dan Jerman mereka menjadi partai peserta pemilu dan berusaha berpartisipasi dalam pemerintahan. Perpecahan antara komunisme dan sosialisme di Eropa, yang makin sengit pada tahun 1950-an, mulai berkurang artinya dengan kemunculan Eurokomunisme.

Setelah tahun 1945 partai-partai demokrat sosial di Eropa ikut serta dalam pemerintahan sampai pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Masa booming pasca-1945 merupakan periode intensifikasi dari pemerintahan besar dan welfarisme. Di Skandinavia, Inggris dan Jerman, partai-partai sosialis telah menjadi partai-partai yang diterima dalam pemerintahan. Ide-ide sosialis radikal telah dikalahkan oleh tujuan demokrat sosial tentang redistribusi dan kesejahteraan dalam sistem kapitalis full-employment yang diatur oleh negara.

Pada tahun 1970-an demokrasi sosial Eropa Barat memasuki periode krisis berat dari mana ia telah gagal untuk bangkit. Kelompok sosialis telah menjadi tergantung pada manajemen ekonomi nasional Keynesian untuk menghantarkan pertumbuhan dan full employment yang diperlukan untuk memungkinkan strategi redistribusi dan kesejahteraan mereka. Dengan terjadinya krisis minyak tahun 1973 serta runtuhnya masa booming besar pasca-perang, ekonomi-ekonomi barat memasuki masa-masa pergolakan ekonomi, pertumbuhan yang tidak stabil, serta internasionalisasi dari pasar-pasar besar yang membuat kelompok demokrat sosial tidak lebih sebagai manajer krisis. Selama periode itu doktrin-doktrin monetaris dan pasar bebas nampaknya mengancam akan menghapus sosialisme atau demokrasi sosial seluruhnya. Doktrin-doktrin baru ini telah gagal dan berbagai konsekuensinya yang destruktif telah mendorong munculnya berbagai fokus baru pada keadilan sosial. Dengan demikian partai-partai sosialis di masyarakat barat tetap tidak memiliki strategi yang koheren. Hal ini tidak hanya terjadi karena tidak adanya program ekonomi alternatif tetapi juga karena perubahan-perubahan sosial telah sangat memsak konstituensi yang menjadi daya tarik bagi kelompok reformis dan sosialis, yaitu kelas pekerja yang relatif besar dan homogen. Struktur pembagian kerja telah didiversifikasi, dengan demikian klaim kelompok sosialis sebagai wakil dari mayoritas pun kehilangan kekuatannya.

Runtuhnya komunisme setelah tahun 1989 juga makin menggoyahkan sosialisme barat. Sekalipun jika kebanyakan kelompok sosialis di Eropa menolak model Soviet, komunisme akan tetap merupakan sosialisme “eksistensi aktual” yang telah mengganti pasar dengan perencanaan dan itu telah ditolak oleh sebagian besar manusia bebas. Keruntuhan komunisne tersebut membuat ide tentang perubahan sosial fundamental menuju sistem non-pasar tampaknya tidak dapat dipertahankan lagi. Sosialisme masa depan dengan demikian juga tidak jelas.