Advertisement

sociobiology (sosiobiologi)

Istilah sosiobiologi digunakan dalam dua pengertian, baik itu secara sempit maupun secara luas. Sebagaimana dikemukakan oleh Ernst Mayr (1882: 598), “sosiobiologi dalam pengertian luas berhubungan dengan tingkah laku sosial suatu organisme dipandang dari segi evolusi.” Definisi ini juga mencakup etologi, biopolitik, primatologi, perilaku zoologi, eugenik, genetika populasi, antropologi biososial, ekologi evolusioner, dan semua disiplin yang menerima ajaran neo-Darwinian. Dalam pengertian yang sempit, menurut E.O. Wilson dalam karyanya Sociobiology: The New Synthesis (1975), sosiobiologi mengacu pada aplikasi teori genetika evolusioner, yang berasal dari karya-karya para ahli sintesis modem di era 1930-an dan 1940-an (Huxley, Hal- dane, Fisher, Wright) yang dimodifikasi oleh Hamilton, Williams, Maynard Smith dan Triver di tahun 1960-an dan 1970-an. Di sini kita akan mengkaji istilah ini dalam kedua pengertian tersebut.

Semua disiplin sosiobiologi pada dasarnya diturunkan dari teori seleksi alam Darwin (1859) (yang kemudian dimodifikasi oleh karena adanya penemuan di bidang genetika). Yang membedakan keduanya hanya dalam hal interpretasinya. Karena itu disiplin ini tidak boleh dikacaukan dengan apa yang dikenal sebagai Darwinisme Sosial, yang sebenarnya lebih dekat kepada teori developmental dan teori kemajuan dari Herbert Spencer ketimbang teori “keturunan melalui modifikasi” dari Darwin yang pada dasarnya bersifat non-progresif. Sejalan dengan pendekatan Darwin, khususnya dalam The Descent of Man (1871) dan The Expression of the Emotions in Man and Animals (1872), sosiobiologi berpenda¬pat bahwa manusia adalah bagian dari alam, dan oleh karena itu perilaku manusia harus dianalisis dengan prinsip-prinsip ilmu alam. Dengan demikian sosiobiologi adalah pendukung kuat pandangan bahwa ilmu tentang manusia merupakan ilmu alam dan dengan tegas menolak pandangan yang menganggap ilmu tentang manusia hanya merupakan ilmu budaya murni yang dalam konteks perdebatan tradisional seperti dikemukakan oleh Dilthey pada tahun 1880-an, sosiobiologi adalah pendukung Naturwissenschaft dan menentang Geisteswissenschaft (atau Kulturwissenschaft dalam rumusan Dilthey yang berikutnya). Jadi sosiobiologi juga menentang dengan kuat kecenderungan anti-positivis dalam filsafat serta ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan. Apa pun perbedaan yang muncul di dalamnya, ilmu-ilmu sosiobiologi mempunyai satu tujuan yang sama yakni mengembangkan teori yang berlaku untuk perilaku sosial secara umum, baik itu untuk manusia maupun makhluk lainnya. Perilaku manusia mengandung kualitas yang unik namun hal tersebut bukan berarti keluar dari hukum seleksi alam, dan bahkan kualitas-kualitas yang unik ini harus dijelaskan berdasarkan prinsip-prinsip seleksi alam itu sendiri.

Ada beberapa cabang ajaran atau tradisi yang mengikuti tradisi Darwinian. Salah satunya adalah tradisi sejarah natural: yakni pengamatan yang cermat terhadap perilaku baik itu binatang peliharaan maupun binatang liar, burung dan ikan, mulai dari organisme yang paling rendah sampai ke mamalia yang lebih tinggi. Sebagian besar pengamatan tersebut dilakukan di luar lingkungan akademis oleh para amatir yang berdedikasi dan telah berlangsung sejak lama sebelum Darwin. Sebenarnya Darwin sendiri dapat dianggap sebagai anggota dari jajaran tradisi ini. Namun seperti cabang-cabang lainnya, tradisi ini banyak mendapatkan dukungan dan, terutama sekali, kerangka teori dari Darwinisme. Whitman di Amerika Serikat dan Spaulding di Inggris, yang karya-karyanya mempengaruhi William James, diikuti oleh tokoh-tokoh penting di bidang ini, seperti Lack yang mengamati burung murai dan Fraser Darling yang mengamati rusa merah. Sepanjang tahun 1930-an tradisi pengamatan ini mengembangkan basis akademiknya di bawah Heinroth dan Lorenz di Jerman, Tinbergen di Belanda, Huxley di Inggris, dan Allee di AS. Perkembangan akademik tersebut kemudian dikenal sebagai etologi (istilah yang diciptakan oleh John Stuart Mill untuk ringkasan umum lihat Eibl-Eibesfeldt, Ethology, 1975). Prinsip umumnya adalah bahwa tingkah laku di seluruh lingkaran kehidupan organisme berkembang menurut sebuah program perkembangan bertahap. Namun untuk menyelesaikan program ini diperlukan pembebas atau stimuli dari lingkungan, seperti dalam kasus “peniruan” (imprinting) misalnya peniruan anak hewan terhadap induknya. Termasuk di dalam lingkungan tersebut adalah organisme lainnya, dan tekanan utamanya adalah mengembangkan mekanisme komunikasi agar bisa terjadi interaksi sosial. Setelah Perang Dunia II etologi ini dipadukan dengan perkembangan luar biasa dalam primatologi yang berasal dari zoologi dan antropologi dibawah rintisan Hall, Kummer, Washburn, dan mahasiswa Jepang yang mempelajari populasi jenis monyet asli Jepang {macaque). Kemudian Jane Goodall (di bawah pengaruh langsung dari Louis Leakey dan penelitian asal-usul manusia) mempelopori studi tentang simpanse, dan George Schaller mempelopori studi tentang Gorila.

Keterlibatan ahli antropologi dan bangkitnya minat di bidang perilaku manusia di kalangan ahli etologi menimbulkan berbagai upaya untuk menerapkan prinsip-prinsip yang ditemukan oleh studi perilaku binatang (yang dilakukan untuk semua jenis spesies) kepada perilaku manusia (etologi perbandingan). Upaya-upaya ini melibatkan berbagai bidang ilmu, di antaranya teritorialisme (Ardrey), hirarki dominasi (Chance, Barkow, Chase), ikatan antara induk-anak (Count, Harlow), pertalian pria, hirarki wanita, optimisme (Tiger), agresi (Lorenz). ritualisasi (Huxley), struktur perhatian (Chance dan Larsen), persaudaraan, penghindaran incest, kategori sosial (Fox), kasih sayang (Bowlby), ekspresi wajah (Ekman). perkenalan (Eibl-Eibesfeldt, Lockard), perilaku kanak-kanak (Blurton Jones, Chisholm, Konner), kesenian (Morris, Disanayake), sifat kebapakan atau fathering (Mackey), dan politik (Somit, Masters). Usaha umum pertama dalam sintesis ilmu-ilmu sosial muncul dari karya Tiger dan Fox, The Imperial Animal (1971). Usaha menggunakan teori dan metode etologi untuk mempelajari perilaku manusia dan masyarakat melalui interpretasi atau melalui studi langsung kemudian dikenal sebagai etologi manusia (lihat Fox dan Fleising 1976 perhatikan bahwa tinjauan artikel ini menganggap sosiobiologi merupakan sub-bidang etologi manusia dan karya definitif dari Eibl-Eibesfeldt, Human Ethology, 1989) dan terus berlanjut sebagai tradisi yang hidup, terutama di Eropa.

Primatologi berkembang hampir sebagai suatu disiplin ilmu yang terpisah dari etologi dan me-masukkan bidang-bidang studi kekerabatan dan perkawinan primata, ekologi, komunikasi, politik, dan kemampuan lingusitik monyet. Studi koloni hewan yang dikandangkan dan hewan laboratorium, seperti misalnya dalam karya Hinde dan Harlow, telah menjadi studi yang penting sampai sekarang. Karena banyaknya masukan dari antropologi dan kedekatan hubungan antara manusia dan primata lainnya, relevansi dari studi primata untuk studi evolusi perilaku manusia selalu menjadi tema utama. Di dalam semangat etologi manusia, para ahli antropologi terus-menerus meneliti kehidupan sosial dari primata untuk mencari petunjuk evolusi organisasi sosial manusia (DeVore, Wrangham, Hardy, Fox, Kinzey, dan sebagainya). Etologi manusia juga mempertahankan hubungan eratnya dengan studi evolusi hominid (primata berkaki dua) secara umum, dan memandang perkembangan dalam ilmu syaraf (neurosciences) sebagai studi hubungan kompleks antara hormon, neurotransmiter, dan perilaku sosial {neuroethologij}. Karya Chomsky dan ahli bahasa transformasional dan ahli biolinguistik seperti Lenneberg, misalnya, merupakan usaha penting dalam memasukkan komunikasi verbal manusia ke dalam upaya penafsiran etologis dan menjauhkannya dari penafsiran kultural mumi.

Tradisi besar lainnya muncul dari penemuan Mendel dan berkembangnya ilmu genetika. Tradisi ini pada awalnya merupakan perkembangan yang independen, namun ketika dikawinkan dengan teori seleksi alam Darwin (setelah periode kebingungan di mana tradisi ini dianggap sebagai lawan dari teori seleksi alam: lihat Mayr, 1982) tradisi ini mengembangkan bidang genetika populasi evolusioner yang mengesankan, yang mempelajari sebab-sebab pergeseran dari frekuensi gen dalam populasi sepanjang masa. Terjadi konvergensi yang luar biasa terhadap gagasan ini pada tahun 1930-an setelah terbitnya buku karya Julian Huxley (1942), yang kemudian dikenal sebagai “sintesis modern” dan melibatkan karya-karya dari, di antaranya. R.A. Fisher, J.B.S. Haldane dan Sewali Wright. Yang dilakukan oleh para ahli sintesis ini adalah mengawinkan perhatian populasi dari kaum naturalis dengan aspek matematis dari ahli genetika dan memperlihatkan bagaimana seleksi alam menjadi penghubung antar keduanya. Namun sintesis ini tidak terlalu memperhatikan evolusi perilaku menurut pandangan ahli etologi. Para ahli etologi sebagian besar bekerja di dalam kerangka teori “seleksi kelompok” meskipun hal ini sering kali tidak dinyatakan. Hal ini tampak jelas dalam karya Wynne-Edwards, Animal Dispersion in Relation to Social Behaviour (1962) yang menyatakan bahwa untuk mengendalikan populasi, perkembangan perilaku konvensional merupakan hal yang utama.

Sepanjang 1960-an muncul reaksi terhadap bentuk pemikiran ini yang kemudian mempunyai efek yang mendalam bagi studi evolusi perilaku manusia di masa depan. William (1966) memberikan serangkaian argumen elegan yang menegaskan bahwa seleksi alam hanya dapat berlangsung pada organisme individu dan tidak bisa pada kelompok, dan Hamilton (1963; 1964), dalam usahanya untuk memberikan jawaban teka-teki eksistensi kasta yang mandul dalam serangga yang tidak dapat dipecahkan oleh Darwin, menunjukkan bahwa “altruisme” semacam itu (yakni pengorbanan kesuburan reproduksinya sendiri demi menyuburkan reproduksi yang lainnya) dapat menyebar dalam populasi apabila ada kondisi-kondisi tertentu yang terpenuhi. Hamilton (bersama dengan Maynard Smith, 1964) menyusun sebuah genetika matematis dari perilaku pengorbanan diri ini di mana pihak altruis (yang mengorbankan diri), dalam konteks kesuburan reproduksinya sendiri, akan mengorbankan kesuburan langsungnya (keturunannya) sepanjang tindakan ini dapat mempertahankan kesuburan kerabat-kerabatnya dalam jumlah yang cukup, yang membawa gen-gen yang identik dengan keturunannya sendiri. Logika di balik tindakan ini menyiratkan bahwa elemen nyata dari evolusi tersebut sebenarnya adalah gen-gen itu sendiri, dan bahwa organisme itu merupakan mekanisme, atau sarana, yang dengannya replika dari gen-gen tersebut dipastikan akan direproduksi. Logika ini disusun dengan bagus oleh Dawkins (1976) yang menemukan istilah yang kini terkenal sebagai “gen egois.”

Akan tetapi orisinalitas posisi Hamilton adalah usahanya memperlihatkan bagaimana “altruisme” dan “sifat mementingkan diri sendiri” merupakan dua sisi dari satu mata uang, dan tidak selalu bertentangan. Dengan membantu kerabat kita maka kita, setidaknya dalam konteks genetika, sebenarnya membantu diri kita sendiri. Tri vers (1971) menambahkan rumusan yang diperlukan untuk menjelaskan sikap altruisme terhadap pihak asing, dan sekali lagi memperlihatkan bagaimana hal ini dapat berkembang apabila ada imbalan bagi pihak altruis. Maynard Smith menunjukkan bagaimana teori permainan dapat menjelaskan sebagian besar elemem konseptual dan matematis dari teori ini. dan paradoks “Dilema Tahanan” yang menjadi kesukaan para filosof menjadi landasan teori yang oleh Trivers disebut dengan “altruisme timbal-balik (reciprocal altruism).” Elemen utama dari teori ini berkaitan dengan kemungkinan penipuan, karena para pendompleng selalu memperoleh keuntungan tanpa mengeluarkan biaya. Namun mereka ini tidak dapat berlebihan dalam melakukannya karena akan membuat tidak ada lagi altruis yang bisa ditipu. Karena itu muncul konsep evolutionary stable strategy (ESS), di mana dua perilaku seperti itu dapat berkembang secara berpasangan.

Jadi kini ada dua konsep baru yang dikembangkan: pertama, konsep kesuburan inklusif, yakni kesuburan individu ditambah kesuburan dari mereka yang dengannya individu’ mempunyai gen yang sama melalui keturunan; dan kedua, konsep altruisme timbal-balik. Sebuah akibat alamiah dari kesuburan inklusif tersebut adalah seleksi kerabat (kin selection), yang kedengarannya mirip dengan seleksi kelompok yang memandang bahwa secara esensial seleksi berlangsung pada unit organisme yang mempunyai hubungan darah. Perbedaan yang mendasar adalah seleksi kerabat tersebut tidak perlu mengasumsikan bahwa perilaku berkembang demi kelompok ini, tetapi hanya untuk keuntungan individu-individu dan replika gen-gen mereka yang ada di dalam organisme lain. Trivers (1972) menambahkan konsep parental investmen (PI), yang menjelaskan peran-peran yang berbeda dari jenis kelamin dalam mengembangkan kelangsungan hidup dari keturunan mereka dan masalah-masalah konflik antara keturunan-induk dan antar sesama saudara serta ketidaksesuaian dalam strategi perkawinan lelaki dan perempuan. Sebagai konsekuensinya, titik perhatian kini diberikan kepada konsep Darwin yang dulu diabaikan, yakni seleksi, khususnya ketika seleksi tersebut mempengaruhi strategi reproduksi jantan-betina yang berbeda-beda.

Kita dapat mengatakan bahwa sosiobiologi dalam pengertiannya yang sempit muncul ketika E.O. Wilson (1975) mengambil konsep teoretis ini, mengawinkannya dengan data dari entomologi, etologi, dan primatologi, dan menghasilkan “sintesis baru” untuk menggantikan “sintesis modern” dari Huxley. Ambisi Wilson adalah untuk memetakan semua perilaku spesies, mulai dari serangga, primata sampai ke manusia, menurut serangkaian prinsip yang diturunkan dari rumusan Williams, Maynard Smith, Hamilton dan Trivers. Pengaruh dari sintesis besar ini sangat luas, tidak hanya pada ilmu perilaku manusia namun juga pada seluruh ilmu-ilmu biologi. Namun di sini kita hanya akan membahas perkembangan selanjutnya dalam studi perilaku sosial manusia.

Telah muncul sebuah mazhab pemikiran sosiobiologi, yang sebagian besar di bawah pengaruh Alexander (1974), yang mengambil konsep maksimalisasi keberhasilan reproduksi sebagai prinsip utamanya. Asumsi pokoknya adalah bahwa maksimalisasi tersebut yang diturunkan langsung dari teori kesuburan Darwinian merupakan motif dasar dan dapat menjelaskan semua aspek perkawinan manusia dan perilaku yang berkaitan dengan kerabat. Ajaran ini memadukan asumsi ini dengan gagasan dasar dari altruisme kerabat (nepotisme), kesuburan inklusif, PI, dan paternity certainty. Jadi, organisme termasuk manusia akan berusaha keras memaksimalkan keberhasilan reproduksinya melalui kesuburan inklusif dan berusaha memastikan (sebagian besar dalam kasus para lelaki) agar gen-gen yang mereka “investasikan” adalah milik mereka sendiri (pater¬nity certainty). Contoh-contoh dari prinsip-prinsip ini diungkapkan oleh temuan dari studi etnografi, sosiologi, dan sejarah. Jadi problem avunculate (hubungan khusus antara saudara laki-laki dari ibu dengan anak laki-laki dari saudara perempuan) dan problem garis keturunan dari pihak ibu (matrilineal) dihubungkan dengan “low paternity certainty” di dalam semua masyarakat di mana kaum lelaki lebih suka mengasuh anak lelaki dari saudara perempuan yang memiliki hubungan genetik rendah tapi pasti ketimbang mengasuh anak lelakinya sendiri yang mungkin sama sekali tidak memiliki hubungan genetika (Alexander, Kurland, Hartung; untuk kritik lihat Fox 1993). Logika dari pandangan umum ini telah diterapkan untuk hipergami (Dickeman), poligini despotik (Betzig), kekerasan pada anak (Daly dan Wilson), keputusan hukum (Beckstrom), dukungan keluarga di kaia sakit (McGuire), struktur keluarga (van der Berghe), perkawinan silang dengan sepupu (Alexander), kompetisi antar pasangan, manipulasi dalam keluarga (Chagnon), poliandri (Crook), pernikahan (Irons, Mulder), moralitas (Alexander), perawatan orang tua (Hames, Turke, Hill, Kaplan) dan sebagainya (lihat, misalnya Betzig et. al., 1988: Chagnon dan Irons, 1979; untuk tinjauan pernyataan tentang seni, lihat King’s College Sociobiology Group 1982; dalam jurnal Etologi and Sociobiologi.

Namun tradisi yang lainnya menolak ajaran dari maksimalisasi kesuburan reproduksi ini. Tradisi ini berpendapat bahwa meskipun keberhasilan reproduksi diferensial di masa lalu, dan khususnya di dalam lingkungan adaptasi evolusioner (EEA) dari spesies, pasti akan menimbulkan adaptasi yang spesifik, namun motif yang disederhanakan tersebut tidak dapat menjelaskan perilaku yang terus-menerus. Dikatakan bahwa motif tersebut tidak memberikan instruksi khusus kepada organisme yang lebih mungkin bertindak berdasarkan motif dasar seperti hasrat, menghindari penipu, mengumpulkan kekayaan, meraih kedudukan, dan sebagainya. Kesemuanya ini memang dapat menghasilkan keberhasilan reproduksi namun motif-motif ini tidak berdasarkan pada keinginan untuk memaksimalkannya. Karena itu studi perilaku kontemporer yang memperlihatkan bahwa praktek-praktek tertentu dalam lingkungan tertentu akan menghasilkan keberhasilan reproduksi, atau bahwa praktek-praktek tersebut melibatkan tindakan yang mengandung unsur nepotisme, hanya menunjukkan kepada kita bahwa perilaku yang terus-menerus memperlihatkan kemampuan adaptasi (adaptability yang cerdas, tetapi sama sekali tidak memberitahu kepada kita tentang apakah praktek-praktek tersebut berasal dari adaptasi evolusioner atau tidak (lihat Symons 1992).

Pengaruh ilmu pengetahuan kognitif membuat banyak ahli sosiobiologi kemudian menolak pandangan “adaptasi agnostik” dari disiplin lainnya dan mereka kini mencari mekanisme adaptasional khusus dalam persepsi dan kesadaran manusia (mekanisme pengolahan informasi), dan untuk mengetahui apakah mekanisme ini akan menghasilkan keberhasilan reproduksi di masa sekarang atau tidak. Mazhab yang disebut dengan psikologi evolusioner ini berusaha menyusun alat pengujian untuk “daerah algoritma khusus” di dalam pikiran manusia. Mazhab ini juga dengan keras menentang konsep “daerah mekanisme umum” seperti yang diajukan oleh, misalnya, para ahli teori kecerdasan buatan. Mazhab ini mendukung para filosof yang menekuni pikiran seperti Fodor yang lebih menyukai pemikiran dengan model modular ketimbang model unitarian. Mazhab ini juga memperkuat ide-ide tentang “aturan epigenetik” dari Lumsden dan Wilson atau ide “biogrammar” dari Tiger dan Fox, dan beragam perkembangan di bidang studi “etologi kognitif” dan tata bahasa transformasional (“alat penerima bahasa”). Sebagai contoh, Tooby dan Cosmides mempelajari mekanisme kognitif untuk pertukaran sosial dan pen-deteksian penipuan, Buss untuk mekanisme preferensi pasangan, Wilson dan Daly untuk perilaku kaum pria, Silverman dan Eals untuk perbedaan jenis kelamin dalam kemampuan spasial, Profet untuk rasa sakit dalam kehamilan sebagai suatu respons adaptif terhadap teratogen, dan Orians dan Heerwagen untuk respon perkembangan untuk lanskap (lihat Barkow et al. 1992). Ahli bahasa, seperti Pinker, menganut pendekatan ini yang, bersama dengan Chomsky dan ahli bahasa lainnya, meskipun memandang kemampuan berbahasa merupakan pembawaan sejak lahir, mereka tidak melihatnya sebagai produk dari seleksi alam. Sebaliknya, ahli bahasa evolusioner melihat bahasa mengandung semua tanda-tanda khusus dari suatu adaptasi yang berkembang secara bertahap. Namun mazhab “adaptasionis” itu sendiri, sebagaimana mazhab yang menentangnya, merupakan pemikiran agnostik karena tidak menghubungkan daerah modul spesifiknya dengan fungsi otak. Tetapi perkembangan dalam ilmu syaraf (neuroscience) dan kecerdasan buatan (artificial intelegence), khususnya teori pengolahan terdistribusi paralel (PDP) menunjukkan jalan untuk memadukan se-mua pendekatan tersebut di masa yang akan datang (lihat Churchland 1993).

Sosiobiologi, baik itu dalam pengertian luas maupun sempit, kemudian menunjukkan perkembangan yang terus-menerus dan berpengaruh pada semua ilmu-ilmu sosial dan juga pada filsafat dan sastra. Bahkan kritik-kritik terhadap bidang ini telah tumbuh melampaui keberatan-keberatan picik terhadap determinisme genetika atau Darwinisme Sosial dan berkembang menjadi upaya serius untuk memahami permasalahan yang sebenarnya (lihat Kitcher 1985). Isu umum dari konseptualisasi hubungan antara gen-gen dengan kebudayaan berlanjut menjadi sebuah perdebatan (Boyd dan Richerson 1985; Durham 1991). dan isu seleksi kelompok belum terpecahkan. Namun di masa depan terbentang harapan bagi perkembangan paradigma ilmu pengetahuan normal yang di dalamnya perdebatan yang konstruktif dan kemajuan kumulatif dapat terjadi. Pertanyaan besar bagi ahli ilmu-ilmu sosial adalah derajat kemauan mereka untuk memasuki perdebatan konstruktif dengan ahli-ahli sosiobiologi yang kini sudah berdiri dengan kokoh di tengah-tengah mereka.

Incoming search terms:

  • sosiobiologi
  • pengertian sosiobiologi

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • sosiobiologi
  • pengertian sosiobiologi