Advertisement

Ilmu pengetahuan yang mempelajari struktur-struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk di dalamnya perubahan-perubahan sosial. Dalam pengertian ini, objek studi sosiologi mencakup unsur unsur sosial yang pokok, yakni norma-norma atau kaidah-kaidah sosial, lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok sosial, dan lapisan-lapisan sosial, yang saling berkaitan satu sama lain. Jalinan seluruh unsur sosial inilah yang disebut struktur sosial. Di samping itu, sosiologi juga mempelajari pengaruh timbal balik antara pelbagai segi kehidupan sosial, misalnya pengaruh timbal balik antara segi kehidupan agama dan segi kehidupan ekonomi; segi kehidupan hukum dan segi kehidupan ekonomi; segi kehid rdn agama dan segi kehidupan hukum; dst.

Istilah sosiologi pertama kali dicetuskan oleh August Comte untuk menggantikan istilah semula “fisika sosial” menurut Quitelet. Comte mempergunakan istilah sosiologi dalam buku pertamanya yang berjudul The Course of Positive Philosophy. Sewaktu menulis buku ini, Comte bermaksud menjelaskan pandangannya yang mengatakan bahwa sifat dasar organisasi sosial suatu masyarakat sangat tergantung pada pola- pola pikir yang dominan serta tingkat pengetahuan masyarakat itu. Semakin tumbuh pola berpikir dan pengetahuannya, semakin bertambah kemampuan masyarakat untuk maju. Sekalipun teori Comte ini sudah ditinggalkan banyak orang, gagasannya bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dan bahwa untuk memperoleh pengetahuan tentang masyarakat dituntut penggunaan metode-metode penelitian empiris dan ilmu-ilmu alam lainnya dipandang oleh banyak ahli sebagai peletak dasar sosiologi sebagai studi ilmiah. Atas jasanya inilah Comte memperoleh gelar “Bapak Sosiologi”.

Advertisement

Sosiologi mulai berkembang sebagai satu disiplin yang berdiri sendiri dan diakui secara sah oleh dunia akademis, sejajar dengan ilmu pengetahuan lain seperti psikologi, pada saat Emile Durkheim berhasil merumuskan secara lebih jelas sosiologi, yang mencakup teori-teori dan metode-metode penelitian empirisnya. Asumsi umum paling mendasar dalam pendekatan Durkheim terhadap sosiologi adalah bahwa gejala sosial itu riil dan mempunyai pengaruh pada kesadaran individu, dan perilakunya berbeda dari karakteristik psikologis, biologis, atau karakteristik individu lainnya. Selanjutnya Durkheim menegaskan bahwa gejala sosial itu dapat dipelajari sebagai hal yang riil dengan metode-metode empirik yang memungkinkan dikembangkannya ilmu sejati tentang masyarakat. Baginya, fakta sosial itu tidak dapat diciutkan ke fakta individu; fakta itu memiliki eksistensi yang independen pada tingkat sosial.

Pada abad ke-20 ini, teori-teori sosiologi sudah mengalami pergeseran penekanan, dari teori-teori sosiologi klasik ke teori-teori sosiologi modern. Teori- teori sosiologi klasik menekankan tingkat analisis individu semata, sedangkan teori-teori sosiologi modern mencakup juga tingkat analisis sosial. Para ahli teori sosiologi klasik terdiri atas Emile Durkheim, Weber, Simmel, Marx, Spencer, dan Comte di Eropa, dan Summer, Mead, Cooley, Thomas, dan Znaniecki di Amerika. Ahli-ahli teori sosiologi modern meliputi Robert Merton, Talcot Parsons, Homans, Blau, dan Goffman.

Teori sosiologi yang mewarnai abad ke-20 terdiri atas lima aliran, yakni teori interaksionisme simbol, teori pertukaran sosial, pendekatan fungsional, teori konflik, dan teori sistem terbuka. Salah seorang pelopor aliran teori interaksionisme simbol adalah Mead, yang mendasarkan teorinya pada filsafat pragmatis, yakni penekanan pada hubungan erat antara pengetahuan dan tindakan mengatasi masalah. Selain itu, teori Mead juga sangat dipengaruhi oleh teori evolusi Darwin. Dalam teori evolusi ini dikatakan bahwa organisme terus-menerus terlibat dalam usaha menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Teori interaksionisme Mead itu sendiri mengatakan bahwa kenyataan sosial merupakan konstruksi simbol dan mencerminkan suatu usaha manusia untuk menyesuaikan tindakan sosialnya sendiri dengan tindakan masyarakat yang bersifat terbuka dan melibatkan mereka. Proses ini tergantung pada kemampuan individu untuk melihat tindakan-tindakannya sendiri menurut perspektif orang lain, atau uniuk menjadi sadar diri. Meskipun struktur sosial muncul dari proses ini, tidak ada bentuk organisasi sosial yang dapat bertahan lama, terlepas dari definisi subjektif bersama yang dinegosiasikan melalui interaksi simbol.

Homans membangun teori pertukaran berlandaskan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang berasal dari psikologi perilaku dan ekonomi pasar. Dari psikologi perilaku diambil gambaran tentang perilaku manusia yang dibentuk oleh hal-hal yang memperkuat atau yang memberikan dukungan berbeda-beda. Dari ekonomi pasar, Homans mengambil gambaran tentang manusia yang secara terus-menerus terliuat dalam memilih antara perilaku-perilaku alternatif dan pilihan yang mencerminkan pengeluaran dan ganjaran (keuntungan) yang diharapkan. Homans selanjutnya menggabungkan kedua perspektif ini untuk menggambarkan perilaku sosial sebagai suatu pertukaran kegiatan antara (paling sedikit) dua orang yang kurang lebih memberikan ganjaran, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Tokoh paling terkemuka dalam pendekatan fungsional adalah Talcot Parsons, terutama di Amerika. Bertolak belakang dengan teori pertukaran, aliran pendekatan fungsional cenderung memulai dengan struktur yang sudah ada untuk menjelaskan munculnya struktur sosial. Tekanan utamanya adalah pada usaha untuk memahami dinamika-dinamika sosial yang harus ada demi kelangsungannya. Misalnya, kalau kita menganalisis suatu masyarakat, penekanan diberikan pada mekanisme integrasi setiap institusi sosial demi mempertahankan keteraturan sosial yang sudah ada. Inti pemikiran Parsons adalah: (1) tindakan memiliki suatu tujuan; (2) tindakan terjadi dalam situasi dari elemen yang sudah pasti; dan (3) secara normatif tindakan itu diatur dengan penentuan alat dan tujuan. Pentingnya analisis Parsons ini terletak pada kenyataan bahwa analisis ini merupakan suatu jembatan penghubung antara posisi-posisi yang saling bertentangan dan berat sebelah. Analisis Parsons juga menekankan orientasi terhadap orang lain, yakni dengan siapa ia berinteraksi. Saat menghadapi orang lain, secara eksplisit atau implisit, dalam situasi apa pun terdapat lima pilihan dikotomi yang harus diambil orang, yakni keafektifan versus netralitas afektif; orientasi diri versus orientasi kolektivitas; universalisme versus partikularisme; askripsi versus prestasi; dan kespesifikan versus kekaburan. Demi-kian juga dalam sistem sosial, bila ingin tetap bertahan atau mempertahankan identitas dan strukturnya sebagai sistem yang terus bergerak, hubungan sosial harus memenuhi persyaratan minimal tertentu. Karena itulah pendekatan Parsons ini lebih dipandang sebagai teori fungsional-struktural.

Aliran teori konflik didominasi oleh tiga ahli, yakni Mills, Dahrendorf, dan Coser. Ketiga ahli teori ini lebih menekankan tingkat analisis struktur sosial daripada analisis antarpribadi. Secara umum ketiga ahli teori ini memperlihatkan bahwa konflik tidak hanya merusakkan solidaritas, melainkan dapat mempunyai fungsi positif bagi suatu kelompok atau masyarakat, khususnya kalau isu-isu konflik itu diakui dan dihadapi secara terbuka dan bukannya ditekan.

Aliran teori sistem terbuka menunjukkan suatu gambaran dasar mengenai kenyataan sosial, yang terdiri atas berbagai komponen, antara lain lingkungan, biologis, perilaku, subjektif. Komponen-komponen itu berhubungan satu sama lain, langsung atau tidak langsung, sehingga kalau salah satu komponen mengalami perubahan, komponen lainnya akan cenderung berubah. Seperangkat komponen yang saling berhubungan ini berada dalam suatu lingkungan. Kelangsungan hidup sistem ini tergantung pada berbagai pertukaran dengan lingkungannya. Pertukaran ini terjadi melintasi batas-batas sistem itu, yang tentu tidak statis. Oleh sebab itu, sistem ini berkembang dan meluas, bahkan mungkin pada suatu ketika ada bagian dari lingkungan itu yang dimasukkan ke dalam sistem.

Di Indonesia, sosiologi merupakan satu disiplin ilmu sosial dan sudah banyak diajarkan pada sekolah- sekolah tingkat atas. Pada tingkat perguruan tinggi, sosiologi umumnya diajarkan pada jurusan sosiologi. Perguruan tinggi yang telah memiliki jurusan ini, antara lain, Universitas Sumatra Utara, Universitas Andalas, Universitas Riau, Universitas Lampung, Uni. versitas Tanjungpura, Universitas Indonesia, Universitas Jenderal Sudirman, Universitas Diponegoro Universitas Gajah Mada, Universitas Sebelas Maret’ Universitas Airlangga, Universitas Nusa Cendana’ Universitas Hasanuddin, Universitas Tadulako, Universitas Halu Oleo, Universitas Sam Ratulangi, dan Universitas Pattimura. Di samping itu, beberapa universitas swasta juga telah membuka jurusan sosiologi Saat ini sosiologi telah berkembang pesat dan memiliki cabang-cabang studi, yang meliputi sosiologi komunikasi, sosiologi politik, sosiologi pendidikan, sosiologi hukum, sosiologi ekonomi, sosiologi agama sosiologi pedesaan, dll.

Incoming search terms:

  • pengertian sosiologi klasik
  • pengertian sosiologi klasik dan modern
  • jelaskan perbedaan konsep pemikiran sosiologi klasik dan sosiologi modern
  • pengertian teori sosiologi
  • perbedaan sosiologi klasik dan modern
  • perbedaan konsep pemikiran sosiologi klasik dan sosiologi modern
  • pengertian teori sosiologi klasik
  • perbedaan teori sosiologi klasik dan modern
  • pengertian sosiologi klasik menurut para ahli
  • konsep pemikiran sosiologi klasik

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian sosiologi klasik
  • pengertian sosiologi klasik dan modern
  • jelaskan perbedaan konsep pemikiran sosiologi klasik dan sosiologi modern
  • pengertian teori sosiologi
  • perbedaan sosiologi klasik dan modern
  • perbedaan konsep pemikiran sosiologi klasik dan sosiologi modern
  • pengertian teori sosiologi klasik
  • perbedaan teori sosiologi klasik dan modern
  • pengertian sosiologi klasik menurut para ahli
  • konsep pemikiran sosiologi klasik