rural sociology (sosiologi pedesaan)

Dari perspektif ilmu sosial yang banyak berkembang, sosiologi pedesaan sering dianggap marjinal dalam kaitannya dengan pusat kajian teoretis ilmu sosiologi dan antropologi. Sosiologi pedesaan tampaknya kurang diminati sosiologi umum, yang kebanyakan lebih menekankan pada pertanyaan-pertanyaan besar tentang perubahan-perubahan industri dan perkotaan atau menaruh perhatian pada skema teoretis baru yang bertujuan memberikan pemahaman yang mendalam tentang perilaku sosial. Antropologi sangat terfokus pada penyelidikan keunikan masyarakat dan kebudayaan non-Barat. yang terutama meminati suatu bidang yang berkenaan dengan situasi-situasi pedesaan di negara industri Barat. Sementara itu, sosiologi pedesaan sering dikritik karena menggunakan pendekatan yang sangat empiris dan positifis naif dan juga karena terlalu berani melakukan penelitian terapan untuk sektor pemerintahan atau agribisnis. Meskipun kritik ini sering disuarakan dengan lantang dalam menen-tang tradisi sosiologi pedesaan Amerika, beberapa bukti menunjukkan bahwa kecenderungan dan argumentasi serupa ditemukan di beberapa model sosiologi pedesaan Eropa. Di Inggris, situasinya agak berbeda di mana terpisah dari perkembangan awal kajian komunitas pedesaan (yang kebanyakan dilakukan oleh ahli antropologi sosial dan ahli geografi sosial di tahun 1950- an dan di awal 1960-an) sosiologi pedesaan sulit sekali dikembangkan sebagai sebuah ilmu spesialisasi, sehingga hanya tersisa ahli ekonomi pertanian dan perencana pedesaan yang menyelidiki masalah sosial di pedesaan.

Jurusan yang pertama kali mengkhususkan pada sosiologi pedesaan muncul di Amerika tahun 1930-an, kemudian menyusul beberapa Akademi Land Grant yang dibentuk dalam wilayah kewenangan Departemen Pertanian Amerika Serikat untuk meneliti masalah pedesaan dan untuk melatih ahli sosiologi dan ekstensionis pedesaan untuk bekerja sama dengan lembaga-Lembaga pemerintah dan organisasi petani (baca Hightower 1973 yang memberikan kritik tajam terhadap kebijaksanaan ini). Inisiatif ini dilaksa¬nakan setelah Perang Dunia II bersamaan dengan timbulnya model penelitian khusus yang terfokus pada masalah-masalah seperti penyebaran inovasi teknologi, kesenjangan antara gaya hidup masyarakat kota dan desa, pola mobilitas pendidikan dan pekerjaan, dan dampak program pembangunan masyarakat. Berbagai dimensi ini terutama dikaji dengan menggunakan metodologi yang berdasarkan kuesioner, teknik wawancara formal, dan analisis kuantitatif. Kerangka yang paling sering digunakan untuk menganalisis berbagai temuan empiris adalah gagasan tentang suatu kontinum pedesaan-perkotaan, yang berusaha menjelaskan berbagai perbedaan pola sosial dan kultural dengan mengacu pada tempat masyarakat itu di sepanjang kontinum yang ber-gerak dari tipe pemukiman yang paling kota’ (the most urban) menuju yang paling ‘desa’ (the most rural). Sehma tahun 1950-an dan 1960-an, ada begitu banyak penelitian sosiologi pedesaan dilaksanakan menurut skema konseptual ini, demikian suksesnya sehingga diadaptasi juga oleh negara-negara lain. Seperti hasil pengamatan Hofstee (1963), paket penelitian ini masuk ke Eropa dalam bentuk ‘mental Marshall aid’. Penelitian ini juga menyebar ke beberapa bagian di Amerika Latin dan Asia. Bahkan, pendiri berbagai asosiasi internasional yang mengkhususkan dirinya pada sosiologi pedesaan seperti IRSA (Intemat/onaI Rural Sociological Association), yang menyelenggarakan kongres dunia setiap empat tahun sekali, bisa dianggap sangat berjasa dalam membangkitkan antusiasme dan sumber daya institusional dari para anggota senior tradisi sosiologi pedesaan Amerika.

Pada akhir 1960-an, istilah kontinum pedesaan-perkotaan mengalami kemandekan teoretis. Beberapa kajian membuktikan bahwa kesenjangan pola sosial dan kultural tidak dengan sendirinya sama dengan lingkungan spasial atau ekologi. (Pahl, 1966). Peleburan berbagai kajian pun menjadi makin kompleks dalam hal berusaha mengisolasi faktor-faktor sosio-psikologi yang paling penting dalam menjelaskan penyebaran dan tingkat adopsi terhadap inovasi di antara para petani. Namun kajian ini gagal memecahkan persoalan kondisi struktur yang lebih luas yang mempengaruhi kecenderungan para petani merespon kesempatan-kesempatan baru, disamping itu juga tak ada analisis struktur dan isi jaringan sosial di antara para petani dan ekstensionis yang mungkin mempengaruhi pola adopsi (Rogers dan Shoemaker 1971). Berbagai keterbatasan ini, ditambah dengan hal lain seperti diabaikannya karya perbandingan mengenai berbagai bentuk produksi pertanian (contohnya, ladang milik keluarga, lembaga kapitalis dan peladangan kolektif), mengenai dampak berbagai kebijakan pemerintah terhadap pertanian, dan mengenai masalah ketidaksetaraan regional, merupakan awal cara-cara baru mengkonseptualisasi sosiologi pedesaan.

Tradisi awal mengasumsikan bahwa ada perbedaan mencolok antar lokasi pedesaan yang membuat lokasi-lokasi ini mempunyai perbedaan dalam hal sosial dan budaya dilihat dibandingkan dengan bentuk-bentuk kehidupan sosial perkotaan, namun akhirnya makin banyak peneliti yang berpandangan bahwa lokasi pedesaan hanya sekadar entitas empiris atau geografis tempat seseorang bekerja. Keadaan ‘desa’ tidak mensyaratkan teori atau implikasi metodologis khusus untuk penelitian. Signifikansi kerja seseorang dan relevansinya dengan ahli sosiologi pedesaan atau ahli sosiologi dan mereka yang bekerja di berbagai model konteks empiris lainnya, sangat bergantung pada jenis masalah teoretis dan metodologis yang dikandungnya, dan tidak semata-mata didasarkan pada kenyataan bahwa sama-sama memiliki pengalaman pedesaan.

Dalam usaha menjawab beragam isu ini, dan pada saat yang sama mempertahankan perbedaan institusional dan profesional, beberapa ahli sosiologi pedesaan di akhir tahun 1970-an dan 1980-an bersepakat untuk mengartikulasikan berbagai temuannya secara lebih langsung bersama dengan perdebatan teori dan kebijakan umum dan untuk menstimulasi jalur-jalur baru dalam penelitian sosiologi. (Newby 1980;198l; Newby dan Buttel 1980). Beberapa arah baru untuk analisis empiris dan teoretis diajukan, di mana masing-masing memerlukan apresiasi terhadap perkembangan bidang kajian lain.

Meskipun sosiologi pedesaan-khususnya di Amerika Serikat lahir karena ketertarikan terhadap masalah-masalah kebijakan pertanian, namun cukup mengherankan jika ternyata cuma ada sedikit perbandingan sistematis mengenai karakteristik dan sarana implementasi, serta akibat sosial dari kebijakan. Karena itu, banyak ilmuwan berpendapat bahwa sosiologi pertanian dan pembangunan pedesaan membutuhkan analisis teoretis terhadap problem-problem kebijakan: sebagai contoh, seorang ilmuwan harus dapat menentukan perbedaan antara sifat dan aktivitas dari berbagai rezim politik dan kebijakan masyarakat agar dapat menjelaskan berbagai kondisi yang memungkinkan berbagai populasi pedesaan dan kelas status dapat dipengaruhi oleh dan memberikan respon terhadap intervensi terencana. Hal ini mendorong munculnya beberapa kajian menarik dengan tema ini yang menyoroti berbagai situasi Eropa dan Amerika (contoh Mann dan Dickinson 1980; Sinclair 1980). Tapi sering kali kajian ini mengandung kele-mahan karena gagal memberi pandangan yang utuh dalam kerangka analisis sosiologi, ekonomi, dan antropologi terhadap problem-problem negara Dunia Ketiga (Harriss 1982. Long 1977) di mana ada begitu banyak kebijakan yang diuji dan dianalisis (contohnya, petani lahan terbatas, ‘revolusi hijau’, pemukiman skala besar dan berbagai upaya pemasaran dan fiskal). Sejak akhir 1980-an, terjadi saling-dukung yang makin membaik terhadap berbagai tradisi penelitian, yang pada gilirannya menghasilkan sederetan kajian empirik teoretis yang menarik (contoh de Vries 1992; Porter et a/. 1991; van der Ploeq 1990)

Wilayah baru lainnya yang penting untuk penelitian adalah berkenaan dengan dampak perdagangan dunia untuk makanan dan arus bantuan pertanian antara negara kaya dan miskin. Diprakarsai oleh para ahli sosiologi dan ekonomi politik (Friedmann 1981). wilayah kajian baru ini membuka luas-luas penelitian yang terfokus pada dua titik penting proses ini, yaitu, kepentingan dan kebijakan di Eropa dan Amerika sebagaimana juga di Dunia Ketiga. Kondisi ini mendorong berkembangnya minat dalam analisis mengenai restrukturisasi sistem makanan internasional dan restrukturisasi hubungan antara krisis di tingkat lahan pertanian dan pergeseran pola konsumsi makanan, tenaga kerja, investasi, dan pengolahan makanan (Goodman dan Redclift 1992; Marsden dan Little 1990).

Eksplorasi terhadap berbagai hal ini dan segala kaitannya (seperti masalah pengembangan teknologi, khususnya, bioteknologi, dan defisiensi regulasi dan distribusi makanan internasional) menimbulkan suatu pemikiran ulang atas lingkup sosiologi pedesaan, karena perilaku pertanian dan kesejahteraan kehidupan populasi pedesaan makin dipengaruhi struktur yang mengglobal ini. Sejak pertengahan 1980-an, batas-batas analisis konvensional dipertanyakan melalui karya tentang perubahan ekologi dan polusi lingkungan. Meskipun populasi pedesaan tidak selalu menjadi pihak yang paling menderita dalam masalah ini, tapi dalam situasi tertentu mereka memang paling menderita bersamaan dengan terjadinya kerusakan akibat eksplorasi minyak dan polusi air dan tanah akibat membuang limbah industri atau penggunaan bahan pertanian kimia yang berlebihan. Analisis terhadap berbagai proses dan situasi ini membutuhkan pemahaman yang menyeluruh sekaligus proses ekologi kumulatif, di samping politik pemanfaatan sumber daya alam dan pembangunan yang berkelanjutan. Para ahli sosiologi pedesaan berperan penting dalam penelitian ini, tapi apa pun kesimpulannya harus berasal dari hasil kerja sama antara ahli lingkungan, dan ahli teknologi dan politik (Redclift 1984; baca juga Murdoch dan Clark 1994 untuk pembahasan isu ‘pengetahuan yang berkelanjutan’).

Pada awal 1980-an, Howard Newby (1980; 1981) menyatakan bahwa salah satu aspek paling mengganggu dalam sejarah sosiologi pedesaan adalah kegagalan ilmu ini mengembangkan analisis sistematis tentang produksi pertanian, pada tingkat perusahaan maupun struktur agraris keseluruhan. Lepas dari berbagai upaya-upaya penting pada masa sebelumnya untuk melihat macam-macam bentuk produksi pertanian, dalam hal memper-bandingkan status tanah dan pengaruhnya pada organisasi sosial lokal dan sistem kekuasaan, dan dalam hal masalah penetrasi kaum kapitalis di pertanian, baru pada akhir 1970-an hingga seterusnya sosiologi pertanian yang sebenarnya mulai muncul. Membandingkan antara penelitian yang menyoroti populasi pertanian dalam negara-negara industri dengan penelitian serupa di negara Dunia Ketiga, tampaknya penelitian di negara Dunia Ketiga itulah (paling tidak pada awalnya) bisa dicapai kemajuan yang lebih besar dalam memahami dimensi-dimensi ini. Hal ini tidak terlalu mengherankan karena faktanya menunjuk-kan bahwa sosiologi pembangunan dan antropologi sosial lebih cepat merespon perkembangan baru teori Marxis yang muncul dari para strukturalis Perancis (Oxaal et al, 1975), dan juga lebih cepat menanggapi wacana ‘ketergantungan’ dan keterbelakangan’ (under development). Hal ini memunculkan berbagai ragam kajian pedesaan Dunia Ketiga yang menyoroti struktur-struktur pada ketidaksetaraan dan pola pembangunan yang tidak adil, yang tumbuh dan berkembang pada masa awal polemik Eropa mengenai pembangunan kapitalisme dalam pertanian untuk menetapkan landasan bagi suatu politik ekonomi pertanian komparatif. Model analisis seperti ini terus berkembang, di tahun 1980-an, banyak kajian sosiologi pedesaaan terfokus pada pertanian industri yang mengeksplorasi berbagai kondisi di mana modal dikontrol dan negara mengelola produksi pertanian (contohnya, melalui upaya mendorong integrasi vertikal produksi dan melalui penerapan penetapan harga dan subsidi). Beberapa penelitian ini juga memberi perhatian yang lebih besar pada kerja internal dan diferensiasi kekuasaan dalam lembaga pertanian/rumah tangga, dan pada gilirannya menganalisis bagaimana ideologi dan hubungan gender membentuk organisasi buruh, pengambilan keputusan dan distribusi imbalan (Whatmore 1991). Penelitian ini pada akhirnya memberi masukan teoretis yang berguna bagi penelitian pertanian negara Dunia Ketiga: sepanjang tahun 1980-an, jurnal Sociologia Ruralis dan Rural Sociology menerbitkan banyak artikel yang mengetengahkan isu-isu komparatif yang baru ini.

Ketika dilakukan usaha memantapkan per-bandingan ekonomi politik pertanian, pada saat bersamaan muncul skeptisisme yang makin besar terhadap model analisis yang berdasarkan pada kategori ekonomi-politik konvensional. Hal ini terlihat dari perdebatan yang masih terus berlangsung tentang ‘agen’ dan stuktur’ (misalnya, signifikansi strategi petani dalam kaitannya dengan hambatan eksternal).Salah satu aliran pemikiran menyatakan perlunya suatu rekonstruksi fundamental terhadap konsep teoretis dan metodologis dari perspektif konstruktivis sosial yang berorientasi pada subyek (Long 1984; Long dan Long 1992). Hal ini pada akhirnya memberi kesempatan bagi terciptanya analisis yang lebih utuh tentang karakter gaya pertanian, perusahaan agraris, dan praktek-praktek mengorganisasi.

Hal ini juga menjelaskan bagaimana intervensi eksternal dan perubahan agraris tercipta dari proses konstruksi sosial melalui negosiasi ulang yang terus menerus. Pendekatan seperti ini menunjukkan adanya usaha sungguh-sungguh melakukan pemikiran ulang atas konsep-konsep tertentu yang penting seperti pembangunan agraria, intervensi negara, komoditisasi (commoditization), dan pengetahuan pertanian; serta memberikan pandangan baru tentang hubungan yang kompleks antara proses ‘globalisasi’ dan ‘lokalisasi’.

Dengan demikian, sosiologi pedesaan saat ini terperangkap dalam sejumlah kontroversi dan harapan. Sepanjang sejarahnya, sosiologi pedesaan tak pernah dapat secara efektif menyatakan statusnya sebagai disiplin ilmu tersendiri yang memiliki obyek penyelidikan dan metode penjelasan yang khusus. Yang terjadi, disiplin ilmu ini terus-menerus dipaksa bergabung dengan berbagai persimpangan disiplin ilmu lain dalam memecahkan problem analitis yang sama. Jadi, identitasnya hanya tampak dari luar dan dibatasi oleh temuan-temuan teoretis dan empiris dari berbagai kajian yang terpecah menjadi beberapa bidang seperti kajian petani, antropologi ekonomi, sosiologi pembangunan, sejarah ekonomi, ekonomi politik, kajian kebijakan, ilmu dan teknologi, dan kajian manajemen sumber daya alam dan lingkungan. Beberapa ahli ilmu sosiologi pedesaan memandang perluasan tanpa landasan empiris dan teoretis tersebut sebagai bukti bahwa bidang ini memang sangat tidak mapan. Beberapa ahli lain berharap pada masa depan dan percaya bahwa sosiologi pedesaan sebenarnya lebih menarik karena sifatnya yang universal. Mereka juga berpendapat bahwa saat ini kita tengah menyaksikan munculnya sosiologi pendesaan yang lebih teoretis dan mempunyai relevansi sosial lebih besar sehingga menjadi titik awal dimulainya perjalanan penting menuju ilmu sosial aliran utama.

Incoming search terms:

  • pengertian sosiologi pedesaan

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian sosiologi pedesaan