sociology (sosiologi)

Sosiologi, dibandingkan dengan berbagai disiplin lainnya yang mempelajari pola-pola interaksi manusia, seringkali lebih banyak dihubungkan dengan kebangkitan modernitas, dan hal ini berdasarkan beberapa alasan.

Pertama, mungkin satu-satunya denominator umum dari sejumlah besar mazhab pemikiran dan strategi riset yang mengklaim mengandung sumber sosiologis adalah fokusnya pada masyarakat. Fokus ini bisa mengambil salah satu dari dua bentuk. Beberapa ahli sosiologi mengambil pokok pembahasan struktur dan proses yang dapat dianggap hanya sebagai atribut dari “totalitas.” Sarjana lainnya lebih menitikberatkan pada perbedaan yang dibuat untuk kondisi dan perilaku individu dan perilaku kelompok individu berdasarkan fakta bahwa mereka ini membentuk bagian dari totalitas tersebut, yang dinamakan dengan “masyarakat.” Tetapi masyarakat, yang dipahami sebagai wadah supra-individu, anonymous, dan wadah kekuatan yang menentukan nasib individu dan mendorong atau membatasi tindakan individu yang tidak dapat dilihat secara langsung, merupakan ciptaan modern (yang berbeda dari polis, wadah kehendak yang diartikulasikan, debat terbuka, pengambilan keputusan dan undang- undang yang jelas, serta rumah tangga, yakni ruang bebas bagi pelaksanaan kehendak individu, yang keduanya berakar dalam sejarah pra-modern). Di dalam masyarakat, tindakan cenderung mengambil bentuk mode perilaku yang terkondisikan dan pasti (dan karena itu ada kemungkinan untuk diprediksi), yang terbentuk karena tekanan yang konstan menuju keseragaman. Tetapi karena masyarakat adalah the rule of nobody, tanpa alamat yang pasti, maka mekanisme-mekanisme yang mendasari pengkondisian ini, yakni sumber-sumber tekanan ke arah keseragaman, menjadi sulit untuk dibuktikan. Mekanisme-mekanisme tersebut tidak terwakili di dalam kesadaran aktor yang perilakunya dibentuk oleh mekanisme itu sendiri. Untuk memahaminya maka mekanisme tersebut harus ditemukan terlebih dahulu. Setelah statistika berkembang maka dimungkinkan untuk memisahkan masyarakat sebagai obyek studi otonom, sebagai entitas yang berbeda dari individu, tindakan yang termotivasi, karena statistik dapat memberikan representasi tunggal dari tindakan massa.

Kedua, fenomena modern lainnya yang khas adalah ketegangan konstan antar manusia yang muncul dari latar belakang tradisional dan komu nal, yang berubah menjadi “individu” dan menjadi subyek tindakan otonom, serta “masyarakat”, yang dialami sebagai batasan sehari-hari terhadap tindakan dari keinginan individu. Paradoksnya adalah bahwa individu modern tidak dapat sepenuhnya merasa nyaman dan betah tinggal dengan masyarakat, sedang ia (sebagai seorang individu) juga tidak dapat berada di luar masyarakat. Akibatnya studi tentang masyarakat dan ketegangan antar kapasitasnya, baik itu untuk menghalangi atau memberdayakan, telah didorong oleh dua kepentingan yang meskipun berkaitan namun berbeda satu sama lain, dan pada prinsipnya, bertentangan satu sama lain di dalam aplikasi praktis dan konsekuensinya. Di satu pihak ada kepentingan untuk memanipulasi kondisi sosial sedemikian rupa guna mendapatkan perilaku yang lebih seragam seperti yang diinginkan oleh pihak yang berkuasa. Persoalan utama di sini adalah masalah disiplin, yaitu memaksa orang agar berperilaku dalam cara tertentu meskipun mereka tidak sepakat, atau bahkan menolak, tujuan yang ditetapkan oleh agen-agen yang memegang kendali. Di pihak lain, ada kepentingan untuk memahami mekanisme regulasi sosial sehingga, secara ideal, kapasitas pemberdayaan mereka dapat digunakan, dan dengan itu orang- orang dapat menolak atau menekan upaya penyeragaman tersebut.

Tak perlu dikatakan lagi bahwa dua kepentingan ini saling bertentangan satu sama lain dalam tujuannya. Yang satu bertujuan membatasi kebebasan dasar manusia sedang yang lain dimaksudkan untuk meningkatkan kebebasan manusia. Atau lebih tepatnya, ada benturan antara dua macam kebebasan dan pada akhirnya keduanya saling melemahkan satu sama lain. Usaha untuk mengembangkan keseragaman dilakukan atas nama peningkatan kontrol manusia terhadap alam, yakni atas nama kebebasan kolektif untuk membentuk dunia sesuai dengan visi kebutuhan atau hakikat manusia. Namun tujuan dari pengendalian terhadap alam juga memerlukan kontrol terhadap sifat manusia (manusia individual), yaitu, menetapkan pola-pola tindakan yang tidak perlu selalu diikuti jika persoalan dibiarkan diselesaikan secara alamiah.

Ambivalensi yang melekat di dalam kondisi manusia modem, yang ketika berada di dalam masyarakat kondisi ini bisa membatasi atau memberdayakan secara simultan, direfleksikan di dalam definisi diri sosiologi sebagai studi ilmiah tentang masyarakat dan tentang aspek kehidup an manusia yang diambil dari”kehidupan di dalam masyarakat.” Banyak karya sosiologi terinspirasi oleh keanekaragaman agen-agen pengendali, yang berusaha mencari instrumen yang tepat dan efisien untuk mendapatkan perilaku yang disiplin dan dapat diatur. Negara modern telah menetapkan dan mempertahankan “hukum dan ketertiban” dengan desain rasional jaringan kerja institusional yang membatasi kehidupan individu. Model teoretis dari masyarakat yang dibentuk oleh sosiologi seringkah menghadirkan pandangan dari atas, seolah-olah sosiologi berada di ruang kendali. Masyarakat dianggap sebagai obyek rekayasa sosial sedangkan “problem sosial” digambarkan terutama sebagai masalah administrasi, yang mesti diselesaikan dengan aturan hukum dan penyebaran kembali sumber-sumber daya. Di pihak lain, sosiologi mau tak mau harus merespon kemarahan karena penindasan yang terkandung di dalam rekayasa sosial, karena penindasan ini jelas memperlihatkan karakter institusi sosial yang artifisial, sewenang-wenang, serta dibuat dan direncanakan manusia, yang mengklaim kekuasaan secara rasional. Inilah mengapa di sepanjang sejarahnya sosiologi telah menimbulkan kritik dari kedua belah pihak yang bertentangan dalam politik. Pemegang kekuasaan akan menuduh sosiologi merelatifkan tatanan yang mereka janjikan akan ditingkatkan dan dipertahankan, dan karena itu melemahkan kekuasaan mereka serta memicu kerusuhan dan subversi. Sedang rakyat yang mempertahankan cara hidup mereka atau cita-cita mereka dari apa yang mereka anggap sebagai penindasan kekuasaan mungkin akan menuduh bahwa sosiologi bertindak sebagai penasihat dari lawan mereka. Intensitas dari tuduhan-tuduhan tersebut tidak banyak merefleksikan pernyataan sosiologi sebagai pernyataan konflik sosial di mana, berdasarkan hakikat kerjanya, sosiologi tidak mungkin lepas darinya.

Dapat dipahami jika pertentangan tersebut menjatuhkan legitimasi validitas pengetahuan sosiologis dan menolak otoritas ilmiahnya .Tuduhan tersebut membuat para sosiolog sangat sensitif mengenai status ilmiah mereka. Mereka mencoba memperbaharui usaha mereka, meskipun tidak pernah sempurna, untuk meyakinkan baik itu opini akademik maupun publik bahwa pengetahuan yang diberikan oleh sosiolog, yang berasal dari aplikasi metode sosiologi, lebih unggul ketimbang opini populer yang terbentuk secara bebas dan tanpa bantuan metode, dan bahwa sosiologi bahkan dapat mengklaim nilai kebenaran yang sama dengan kebenaran yang berkaitan dengan temuan-temuan pengetahuan ilmiah (sains).