Advertisement

Karya sastra Jawa dalam bahasa Jawa Tengahan yang berbentuk tembang (puisi). Karya ini populer di daerah Banyuwangi dan Bali. Di dalamnya sudah tampak adanya pengaruh cerita Panji. Dalam kitab ini masih didapatkan bagian yang disebut penggalang, yang dalam kitab-kitab kakawin berbahasa Jawa Kuno disebut manggala. Penggalang ini masih berbentuk seloka. Karya ini pernah diteliti dan diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Dr. R. Priyono pada tahun 1938. Kitab 5/7 Tanjung merupakan kelanjutan kitab Sudamala.

Ceritanya dimulai dengan kisah pengabdian Raden Sidapaksa, turunan Nakula, kepada Raja Sindureja. Pada suatu hari di desa Prang Alas Sidapaksa bertemu dengan Sri Tanjung. Sidapaksa jatuh cinta dan melarikan gadis itu. Ayah Sri Tanjung, Begawan Tamba- petra, membiarkannya karena mengetahui bahwa ke-duanya sama-sama keturunan Nakula.

Advertisement

Ketika Raja Sindureja mengetahui kecantikan istri pegawainya, Sidapaksa, ia sangat tertarik dan ingin merebutnya, maka dibuatlah siasat. Diutusnya Sidapaksa menagih utang kepada Dewa Indra dengan perantaraan sebuah surat. Pada saat Sidapaksa sedang menjalankan tugas, Raja Sindureja menggoda Sri Tanjung, namun ditolaknya. Sementara itu Sidapaksa berhasil menjalankan tugasnya, meskipun ia sempat dihajar para dewa lantaran fitnah yang ditulis oleh Raja Sindureja di dalam surat yang dibawanya.

Betapa marahnya Sidapaksa ketika diberi tahu raja, bahwa selama bertugas, istrinya berbuat serong. Tanpa diselidiki lebih jauh, istrinya dibunuh. Tetapi karena dahulu Nakula pernah menyelamatkan Dewi Durga, maka Durga menghidupkan kembali Sri Tanjung yang keturunan Nakula. Sri Tanjung akhirnya bertemu kembali dengan suaminya, Sidapaksa, setelah Sri Tanjung memberi amptfn kepada suaminya dan Sidapaksa melaksanakan keinginan istrinya untuk memenggal kepala Sindureja.

Incoming search terms:

  • arti sritanjung
  • geguritan sri tanjung

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • arti sritanjung
  • geguritan sri tanjung