PENGERTIAN STATUS SOSIOEKONOMI, ETNISITAS, DAN KESEHATAN – Status sosioekonomi (SSE) rendah dikaitkan dengan tingkat masalah kesehata:- dan kematian yang lebih tinggi karena semua sebab. Sejumlah penjelasan telah diajukan mengenai korelasi antara SSE dan kesehatan yang buruk serta kematiar namun banyak di antaranya kurang memiliki bukti empris. Penelitian baru-baru berupaya untuk memetakan jalur hubungan antara kesehatan dan SSE, dengan memasukkan faktor-faktor ekonomi, sosial, hubungan, individu, dan biologis. Contohnya, jalur hubungan dengan kesehatan yang buruk di kalangan individu kelas sosial rendah berkaitan dengan faktor-faktor lingkungan yang menguatkan perilaku kesehatan yang buruk. Di pemukiman miskin sering kali terdapat sangat banyak toko minuman keras, took grosir yang tidak banyak menjual makanan sehat, dan minimnya kesempatan untuk berolahraga di klub-klub kebugaran. Menilik berbagai hamba tan lingkungan tersebut, mungkin tidak mengherankan mengapa masyarakat kelas sosial rendah memiliki kemungkinan lebih besar dibanding masyarakat kelas atas untuk berperilaku yang dapat meningkatkan risiko terhadap penyakit, seperti merokok, makan makanan dengan kadar lemak tinggi, dan lebih banyak mengonsumsi alkohol. Jalur hubungan lain mencakup keterbatasan akses pada layanan kesehatan dan lebih sering mengalami stres. Ingat diskusi sebelumnya mengenai beban allostatik, efek stres yang berulang dan kronis pada tubuh. Dalam suatu studi longitudinal, Singer dan Ryff (1999) menemukan bahwa orang-orang yang paling tidak beruntung secara ekonomi memiliki beban allostatik tertinggi. Para peneliti tersebut juga menemukan bahwa, terlepas dari SSE, para individu yang menuturkan memiliki hubungan buruk dengan orang tua atau hubungan negatif dengan pasangan memiliki beban allostatik lebih tinggi dibanding individu yang memiliki hubungan positif dengan orang tua dan pasangan. Tidak mengherankan, kombinasi efek SSE rendah dan hubungan negatif memberikan efek tertinggi pada beban allostatik. Berbagai temuan di atas mengindikasikan bahwa SSE rendah dapat menjadi sumber stres kronis yang berdampak pada tubuh. Terlebih lagi, temuan-temuan tersebut mengilustrasikan kerumitan hubungan antara individu, sosial, dan faktor-faktor ekonomi serta kesehatan.

Jelas bahwa diskriminasi dan prasangka dapat menjadi sumber stres kronis, dan kondisi sosial yang menyedihkan tersebut terus-menerus dialami oleh orang-orang kulit berwarna serta masyarakat kelas sosial rendah. Karena sangat banyak orang kulit berwarna yang berada pada kelas sosial rendah, etnisitas juga menjadi bahan penelitian dalam kaitan hubungan SSE dengan kesehatan. Kita lihat, contohnya, bahwa angka kematian orang-orang Afrika Amerika hampir dua kali lebih besar dibanding orang-orang kulit putih di Amerika Serikat (Williams, 1999). Mengapa demikian? Penyebabnya kompleks dan tidak sepenuhnya dapat dipahami. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor risiko tertentu terhadap penyakit lebih banyak pada orang-orang kulit berwarna. Contohnya, berbagai faktor risiko penyakit kardiovaskular (seperti merokok, obesitas, hipertensi, dan kurang berolahraga) lebih tinggi pada perempuan dari kalangan etnis minoritas dibanding pada perempuan kulit putih. Temuan tersebut tetap sama walaupun dalam kasus di mana orangorang dari kedua kelompok tersebut memiliki status sosioekonomi yang sama (Winkleby dkk., 1998). Meningkatnya prevalensi beberapa faktor risiko tersebut terlihat dalam berbagai studi terhadap anak-anak berusia 6 hingga 9 tahun. Contohnya, anak-anak perempuan dari etnis Afrika Amerika dan Meksiko Amerika pada rentang usia di atas memiliki indeks massa tubuh yang lebih tinggi dan asupan lemak yang lebih tinggi dibanding anak-anak perempuan kulit putih non-Hispanik (Winkleby dkk., 1999). Berbagai studi lain menemukan bahwa meningkatnya stres yang berhubungan dengan diskriminasi terkait dengan reaktivitas kardiovaskular di kalangan perempuan etnis Afrika Amerika (Guyll, Matthews, & Bromberger, 2001). Mempertimbangkan kelas sosial pada banyak level, termasuk individu, keluarga, dan lingkungan tempat tinggal, juga penting. Contohnya, SSE keluarga dan lingkungan tempat tinggal yang rendah ditemukan memiliki kaitan dengan reaktivitas kardiovaskular yang lebih tinggi pada anak-anak dan remaja Afrika Amerika. namun hanya SSE keluarga yang rendah yang memiliki kaitan dengan reaktivitas kardiovaskular yang lebih besar pada anak-anak dan remaja kulit putih (Gump dkk., 1999). Secara ringkas, kelas sosial dan etnisitas jelas merupakan faktor penting dalam kesehatan. Etnisitas juga merupakan variabel penting dalam cara orang-orang menghadapi kanker. Ras seorang penderita kanker berhubungan dengan deteksi penyakit, kepatuhan terhadap rutinitas perawatan, kesembuhan, dan kualitas hidup.

Sebagaimana diperkirakan, kemampuan untuk mendapatkan perawatan kesehatan yang berkualitas tidak seluruhnya dimiliki oleh anggota berbagai etnis dan tingkat sosioekonomi. Berdasarkan kajian yang dilakukannya, Meyerowitz dkk. tidak sependapat bahwa etnisitas dapat memengaruhi deteksi penyakit, kesembuhan, dan kualitas hidup melalui tingkat status sosioekonomi dan pengetahuan…t.entan-g serta sikap terhadap deteksi dan penanganan kanker. Contohnya, orang-orang Afrika Amerika yang miskin tidak mungkin memiliki asuransi kesehatan sehingga kurang memiliki akses ke perawatan kesehatan dibanding masyarakat kelas menengah: mereka cenderung kurang memiliki informasi mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mendeteksi penyakit (a.l., pengecekan payudara sendiri), kemudian. jika terdeteksi masalah potensial, mereka menunda untuk datang ke dokter karena alasan keuangan (walaupun secara umum perempuan Afrika Amerika lebih mungkin menjalani pap smear dibanding perempuan kulit putih dan memiliki kemungkinan sama untuk menjalani mammogram). Kepercayaan kultural tentang kanker juga relevan. Contohnya, berpendapat bahwa mengurut tulang punggung adalah penanganan yang efektif atau percaya bahwa kanker menyebar melalui udara merupakan prediktor kanker payudara stadium lanjut (Lannin dkk., 1998).
Berkaitan dengan kualitas hidup setelah pengobatan kanker, penelitian jauh lebih sulit karena budaya dan faktor-faktor lain berperan dalam cara orang mengukur kualitas hidupnya. Faktor-faktor tersebut juga memengaruhi apakah kematian yang mungkin terjadi dalam waktu dekat dipandang sebagai suatu bencana atau sebagai suatu hal yang diterima dengan pasrah dan memberikan kesempatan untuk menjalani hidup yang tersisa dengan penuh makna dan bahkan penuh kebahagiaan.2 Pandangan seseorang bahwa hidupnya berkualitas, dan memang pantas diperjuangkan, bervariasi antara berbagai kelompok dan antara berbagai individu. Di antara berbagai kelompok etnis, tampaknya orang-orang kulit berwarna lebih menerima kematian sebagai bagian dari kehidupan, dan pemikiran untuk berjuang melawan kanker kurang sesuai dengan pandangan mereka terhadap dunia, di mana tidak demikian halnya pada orang-orang kulit putih (Matthews dkk., 1994; Meyerowitz dkk., 1998). Bagi orang-orang yang tidak melihat kematian sebagai sesuatu yang harus dihindari dengan segala cara, kualitas hidup mungkin menjadi lebih tinggi jika mereka menderita suatu penyakit mematikan.

Filed under : Bikers Pintar,