Advertisement

Aliran yang didirikan Zeno dari Kition pada sekitar tahun 315 SM. Ajaran stoisisme beraneka jLam namun semuanya dapat dimasukkan ke dalam jiga cabang, yakni logika, fisika, dan etika. Fisika berfungsi sebagai ladang beserta pohon-pohonnya, logika berfungsi sebagai pagar, dan etika berfungsi sebagai buahnya.

logika berperanan penting dalam ajaran Stoa. Menurut anggapan mereka, logika yang jelas dan tepat sangat dibutuhkan di tengah-tengah kaburnya berbadai anggapan yang saling bertentangan pada jaman vang p uh aliran beraneka corak dan bentuk. Silogisme hipotetik dipelajari secara khusus dalam logika Stoa. Padahal logika ini diutarakan lagi dalam logika abad ke-20 yang mengarah kepada logika yang berdasarkan “proposisi” dan bukan “kelas” sebagai unsur paling sederhana dan asasi dalam rangka penyimpulan logika.

Advertisement

Fisika dalam segala kenyataan yang kita alami memiliki dua asas, yaitu pasif dan aktif. Asas aktif yang disebut logos, rasio, atau akal, dianggap sebagai pengada dan pengatur. Namun logos tidak boleh dianggap seakan-akan melampaui materialitas asas pasif yang diaturnya sebab justru merupakan asas pemersatu dari dan di dalam kenyataan yang sama. Sebetulnya hanya ada satu logos yang meliputi alam semesta, termasuk susunan alam semesta. Logos yang mahapengada dan mahapengatur terdapat dalam segala benda, masing-masing sebagai logo ispermatikoi (yang tersebar bagaikan benih). Logos sebagai asas pemersatu menjelma dalam diri manusia dalam bentuk pneuma, atau dalam kata Latin, spiritus yang bermakna menarik napas. Kehadiran logos secara khusus dalam diri manusia jagai makhluk rohani mempunyai inti yang lebih dalam daripada makhluk lain. Berkat martabatnya yang istimewa, manusia merupakan mikro kosmos (dunia kecil) yang secara sadar juga mencerminkan susunan dan ciri khas seluruh makro kosmos (semesta alam). Muncul dan lenyapnya segala sesuatu dan segala makhluk di dunia berlangsung dalam suatu siklus, yakni lingkaran kejadian yang terus-menerus berulang. Dari kekuatan Ilahi, sebagai nafsu dunia timbullah empat anasir. Api merupakan unsur yang paling utama, sedangkan anasir lainnya adalah udara, air, dai; tanah. Logos berupa pengatur utama yang bijaksana, baik, dan penuh perhatian dalam pe-nyelenggaraannya.

Etika merupakan puncak dalam stoisisme. Tugas utama manusia adalah berusaha homologoumenos zen, artinya selaras dengan logos yang berupa pengatur bahkan penentu nasib dan takdir manusia. Maka manusia seharusnya tunduk dan takluk kepada takdir. Manusia henaaknya jangan diganggu dan dibingungkan oleh beraneka ragam peristiwa yang menimpa-nya, jangan terlalu gembira dan jangan terlalu sedih. Hendaknya manusia hidup dalam apatheia (tanpa nafsu atau perasaan yang mendorongnya secara buta agar keinginan-keinginannya dibiarkan masuk), meniadakan perasaan, dan hidup tak acuh terhadap segala Pengaruh dari luar. Dengan kata lain, hiduplah sesuai dengan logos dan bukan dengan pathos. Itulah tempat Manusia di dalam kosmos, satu-satunya alasan kepuasan dan kegembiraan yang sejati.

Secara teoretis, jelaslah bahwa stoisisme bersifat materialistis, namun secara praktis aliran ini bertujuan melepaskan manusia dari belenggu kebendaan. Kepada manusia dipaparkan cita-cita hidup rohani untuk memperoleh ketenangan batin. Seorang yang menganut prinsip-prinsip stoisisme sama sekali tidak akan mempedulikan kematian dan segala malapetaka karena ia sadar bahwa semuanya itu terjadi menurut keharusan mutlak. Etika stoisisme betul-betul bersifat kejam dan menuntut watak yang sungguh-sungguh kuat.

Advertisement