PENGERTIAN STRATEGI PENELITIAN DALAM ANTROPOLOGI KONTEMPORER ADALAH

66 views

PENGERTIAN STRATEGI PENELITIAN DALAM ANTROPOLOGI KONTEMPORER ADALAH – Pertanyaan penting lain dalam antropologi kontemporer.b.”1:angkali adalah tentang strategi penelitian mana yang paling banyak diikuti masa kini? Jawabannya belum jelas. Meskipun mungkin ada paradigma yang dominan, yang diikuti banyak antropolog masa kini, tetap sukar bagi kita untuk mengidentifikasinya. Pada masa lampau pernah ada paradigma-paradigma dominan seperti difusionisme, partikularisme sejarah, fungsionalisme, dan struktural-fungsionalisme, tetapi semuanya kini merosot pengaruhnya dan sebagian hanya tinggal sebagai jejak sejarah yang bermakna penting dalam disiplin antropologi.

Di pihak lain paradigma-paradigma seperti materialisme kebudayaan, strukturalisme, materialisme dialektik, dan antropologi kognitif, tak dapat dipungkiri sangat berpengaruh, tapi sukar dikatakan bahwa paradigma-paradigma ini diikuti oleh mayoritas antropolog dalam penelitian antropologi masa kini. Demikian pula paradigma lain, seperti sosiobiologi, dan Marxisme struktural (Sahlins 1976b) adalah paradigma yang kurang keras gaungnya dan tidak begitu populer di kalangan antropolog profesional. Karena itu, sukar bagi kita untuk menunjuk paradigmaparadigma mana saja yang dominan sekaligus banyak pengikutnya. Akan tetapi, tetap terbuka kemungkinan untuk mengidentifikasi paradigmaparadigma yang pada masa kini oetetap bekerja” dalam antropologi kontemporer, yang secara langsung atau tidak langsung disadari kehadirannya secara signifikan dalam proses berpikir ilmiah antropologi. Inilah dasar pertimbangan penulis dalam menyeleksi paradigma-paradigma yang dibahas dalam buku ini

Dalam bukunya, Cultural Materialism (1979), Harris menjawab bahwa mayoritas sejawatnya adalah “eklektik”. Eklektisisme, menurut Harris (1979: 289) adalah “agnostisisme strategis”—suatu strategi penelitian yang menghindari komitmen terhadap perangkat tertentu prinsipprinsip epistemologi atau teoretis. Amat sedikit orang yang eklektik mengakui dirinya eklektik, barangkali karena Harris secara konsisten menggunakan istilah itu secara kritis seraya mengkritik pedas. Dalam bukunya, The Rise of Enthropological Theory, misalnya, ia mengatakan bahwa secara sadar berpikir eklektik dalam teori etnologi kontemporer sebagai “tak lain dari ungkapan kebingungan” (Harris, 1968: 285).

Ada dua aspek esensial dari definisi eklektisisme menurut Harris. Pertama, menjadi eklektik artinya “bahwa semua pilihan strategi (yakni, paradigmatik) mungkin memiliki kemungkinan yang sama” (Harris, 1979: 289). Menjadi antropolog yang eldektik berarti mengembangkan pemahaman yang saling terkait, koheren, dan terintegrasi mengenai kehidupan sosial manusia. Kedua, eklektisisme berarti bahwa “semua sektor sistern sosial budaya memiliki kemungkinan yang sama menentukan”.

Apa yang dikemukakan Harris di atas masuk akal. Ia benar bahwa menghindari komitmen pada suatu paradigma atau beberapa paradigma tertentu adalah komitmen itu sendiri karena tidak ada yang disebut penelitian nonparadigmatik itu. Sebagian besar antropolog benar-benar menggunakan, berkali-kali, prinsip-prinsip teoretis (atau sekurangkurangnya teori-teori) dari berbagai paradigma. (Hanya sedikit antropolog Amerika Serikat yang mengaku sebagai strukturalis, meski banyak antropolog yang sesungguhnya melakukan analisis dan interpretasi struktural.) Barangkali yang paling penting dalam pengamatan Harris adalah kecenderungan antropologi kontemporer terdorong ke arah teoriteori menengah yang tidak langsung hubungannya satu sama lain dengan perangkat prinsip-prinsip paradigma yang eksplisit. Sebagian besar antropolog memang tidak eksplisit, kurang koheren, dan integratif dalam komitmen paradigma mereka.

Tetapi, apakah “eldektisisme” merupakan karakteristik kecenderungan menyeluruh dari paradigma antropologi? Tampaknya tidak selalu demikian. Sangat sedikit antropolog yang dapat diyakinkan bahwa “kita tidak dapat menduga lebih dahulu strategi mana yang paling produktif dalam setiap kasus” (Harris, 1979: x), dan juga tidak ada jaminan bahwa semua paradigma harus memiliki kemungkinan yang sama dalam penggunaannya” (cetak miring asli dari Harris). Harus kita ingat bahwa paradigma mendefinisikan masalah mereka sendiri. Sebelum mengatakan bahwa semua paradigma memiliki kemungkinan yang sama untuk digunakan, kita harus menjawab terlebih dulu suatu pertanyaan mendasar: kemungkinan yang sama bagi memecahkan masalah apa? Katakanlah paradigma-paradigma yang berbeda mendefinisikan masalah-masalah yang berbeda untuk dikaji dan berarti menentukan cara-cara pemecahan yang berbeda pula, maka tidak bermakna bilamana dikatakan bahwa suatu paradigma memiliki “kemungkinan yang lebih besar” daripada yang lain. Suatu paradigma bisa memiliki kemungkinan penerapan yang lebih besar ketimbang yang lain hanya jika kedua paradigma tersebut sependapat mengenai hakikat masalah yang akan dipecahkan.

Selain itu, tidak salah bilamana mengatakan bahwa dua paradigma memiliki “kemungkinan yang sama” untuk memecahkan masalah yang sama namun dengan pusat perhatian yang berbeda: bilam” satu paradigina memusatkan perhatian untuk mengidentifikasi sebab-musabab kesamaan dan perbedaan sosial budaya, dan paradigma yang lain memusatkan perhatian untuk mengidentifikasi logika yang me-landasi tipologi emik tertentu. Seinua antropolog adalah eklektik apabila mereka menerapkan paradigma-paradigma yang berbeda untuk masalah-masalah yang berbeda. Namun, Harris tampaknya berpendapat bahwa eklektik dapat saja berarti mencrapkan paradigma yang berbeda untuk memecahkan masalah yang sama.

Sebagai contoh, sosiobiologi, materialisme dialektik, dan materialisme kebudayaan, dalam ruang lingkup paling luas, dapat dikatakan mengkaji masalah yang sama, yakni, menemukan determinan perilaku budaya dan institusi sosial. Karena memiliki sasaran perhatian yang sama, paradigma-paradigma ini secara relatif—dalam terminologi Kuhn —sepadan, dan oleh sebab itu keefektifan berbagai eksplanasi mereka dapat diperbandingkan secara langsung. Apakah sebagian besar antropolog sependapat bahwa prinsip-prinsip pewarisan genetik, dialektika Hegel, dan determinisme infrastruktural dapat menjadi pedoman yang memiliki peluang yang sama bagi menjelaskan bentuk dan fungsi sistem sosial manusia? Jika tidak, maka sebagian besar antropolog tidak dapat disebut eklektik.

Aspek kedua dari definisi Harris mengenai eklektisisme menimbulkan kesukaran yang sama. Meskipun secara paradigmatik kurang tajam, sebagian besar antropolog masa kini tidak sependapat bahwa “semua sektor dalam suatu sistem sosial budaya memiliki sifat determinatif yang sama”. Mungkin hanya sedikit antropolog yang masih mempersoalkan hakikat kausalitas kebudayaan. Namun, cukup banyak antropolog yang kurang berhasil mencermati secara sistematik persoalan-persoalan kausalitas kebudayaan. Tatkala persoalan sebab-musabab perbedaan dan persamaan sosial budaya dinyatakan secara gamblang justru lebih banyak eksplanasi materialis ketimbang eksplanasi idealis yang digunakan mengenai kausalitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *