PENGERTIAN STRATEGI TEORITIS KONFLIK – Apa yang biasa disebut teori konflik mulai muncul dalam sosiologi Amerika pada tahun 1960-an. Sebenarnya, kemunculan teori konflik merupakan ke-bangkitan kembaliberbagai gagasan yang diungkapkan sebelumnya oleh Karl Marx dan sosiolog Jerman lain, Max Weber, (1864-1920). Walaupun keduanya adalah teoritisi konflik, dan karena itu saling bersepakat dalam beberapa hal penting, namun keduanya mengembangkan versi teori konflik yang agak berbeda. Karena itu pula, teori konflik modern terpecah menjadi dua tipe pokok: teori konflik neo-marxian dan teori konflik neo-weberian. Versi neomarxian lebih dikenal dan berpengaruh ketimbang versi neo-weberian.

Hal yang sama bagi semua teori konflik, dan dengan demikian hal yang disepakati oleh Weber dan Marx, adalah penolakan terhadap gagasan bahwa masyarakat cenderung kepada beberapa konsensus dasar atau harmoni, di mana struktur masyarakat bekerja untuk kebaikan setiap orang. Para teoritisi konflik memandang konflik dan pertentangan — kepentingan dan concern dari berbagai individu dan kelompok yang saling bertentangan — sebagai determinan utama dalam pengorganisasian kehidupan sosial. Dengan kata lain, struktur dasar masyarakat sangat ditentukan oleh upaya-upaya yang dilakukan oleh berbagai individu dan kelompok untuk mendapatkan sumber daya yang terbatas yang akan memenuhi berbagai kebutuhan dan keinginan mereka. Karena sumber-sumber daya ini, dalam kadar tertentu selalu terbatas, maka konflik untuk mendapatkannya selalu terjadi. Marx dan Weber menerapkan gagasan umum ini dalam teori sosiologi mereka dengan cara yang berbeda, yang mereka pandang menguntungkan.

Marx berpendapat bahwa bentuk-bentuk konflik yang terstruktur antara berbagai individu dan kelompok muncul terutama melalui terbentuknya hubungan-hubungan pribadi dalam produksi. Sampai pada titik tertentu dalam evolusi kehidupan sosial manusia, hubungan pribadi dalam produksi mulai menggantikan pemilikan komunal atas kekuatan-kekuatan produksi. Dengan demikian, masyarakat terpecah menjadi kelompok-kelompok yang memiliki dan mereka yang tidak memiliki kekuatan-kekuatan produksi — menjadi kelas-kelas sosial. Dalam masyarakat yang telah terbagi berdasarkan kelas, kelas sosial yang memiliki kekuatan-kekuatan produksi dapat mensubordinasikan kelas sosial yang lain dan memaksa kelompok tersebut untuk bekerja memenuhi kepentingan mereka sendiri. Jadi, kelas dominan menjalin hubungan dengan kelas-kelas yang tersubordinasi dalam sebuah proses eksploitasi ekonomi. Secara alamiah saja, kelas-kelas yang tersubordinasi ini akan marah karena dieksploitasi dan terdorong untuk memberontak terhadap kelas dominan serta menghapuskan hak-hak istimewa mereka. Tetapi kelas dominan, karena mengetahui adanya kemungkinan pemberontakan dari kelas bawah, menciptakan aparat politik yang kuat — negara yang mampu menekari pemberontakan tersebut dengan kekuatan.

Dengan demikian, Marx memandang eksistensihubunganpribadi dalam produksi dan kelas-kelas sosial sebagai elemen kunci dalam banyak masyarakat. Dia percaya bahwa hubungan-hubungan kelas sosial memainkan peranan yang krusial dalam membentuk pola-pola sosial suatu masyarakat, seperti sistem politik dan agama. Dia juga berpendapat bahwa pertentangan antara kelas dominan dan kelas yang tersubordinasi memainkan peranan sentral dalam menciptakan bentuk-bentuk penting perubahan sosial. Sebenarnya, sebagaimana yang ia kumandangkan, sejarah dari semua masyarakat yang ada sampai saat ini adalah sejarah pertentangan kelas.

Strategi konflik marxian modern pada dasarnya merupakan formalisasi dan elaborasi atas gagasan-gagasan yang baru saja kita bicarakan. Beberapa prinsip utama strategi ini adalah sebagai berikut:

(1) Kehidupan sosial pada dasarnya merupakan arena konflik atau pertentangan di antara dan di dalam kelompok-kelompok yang bertentangan. (2) Sumbersumber daya ekonomi dan kekuasaan-kekuasaan politik merupakan hal penting, yang berbagai kelompok berusaha merebutnya. (3) Akibat tipikal dari pertentangan ini adalah pembagian masyarakat menjadi kelompok yang determinan secara ekonomi dan kelompok yang tersubordinasi. (4) Pola-pola sosial dasar suatu masyarakat sangat ditentukan oleh pengaruh sosial dari kelompok yang secara ekonomi merupakan kelompok yang determinan .(5) Konflik dan pertentangan sosial di dalam dan di antara berbagai masyarakat melahirkan kekuatan-kekuatan yang menggerakkan perubahan sosial. (6) Karena konflik dan pertentangan merupakan ciri dasar kehidupan sosial, maka perubahan sosial menjadi hal yang umum dan sering terjadi.

Harus diperjelas bahwa strategi konflik marxian secara essensial lebih merupakan strategi materialis ketimbang idealis. Hal ini tidak mengherankan karena kenyataan menunjukkan bahwa Marx pengusul gagasan teoritis yang bersifat materialistis dan konflik ini. Para teoritisi konflik marxian memandang konflik sosial muncul terutama karena adanya upaya untuk memperoleh ekses kepada kondisi-kondisi material yang menopang kehidupan sosial, dan mereka melihat kedua fenomena ini sebagai determinan krusial bagi pola-pola sosial dasar suatu masyarakat.

Titik persimpangan antara Weber dan Marx adalah menyangkut pandangan materialisme yang belakangan ini. Weber percaya bahwa konflik terjadi d-engan cara yang jauh lebih luas dari sekadar kondisi-kondisi material da. sar (R. Collins, 1985a). Weber mengakui bahwa konflik dalam memperebutkan sumber daya ekonomi merupakan ciri dasar kehidupan sosial, tetapi dia berpendapat bahwa banyak tipe-tipe konflik lain yang juga terjadi. Di antara berbagai tipe tersebut, Weber menekankan dua tipe. Dia menganggap konflik dalam arena politik sebagai sesuatu yang sangat fundamental. Baginya, kehidupan sosial dalam kadar tertentu merupakan pertentangan untuk memperoleh kekuasaan dan dominasi oleh sebagian individu dan kelompok tertentu terhadap yang lain, dan dia tidak menganggap pertentangan untuk memperoleh kekuasaan ini hanya semata-mata didorong oleh keinginan memperoleh keuntungan ekonomi. Sebaliknya, dia melihatnya dalam kadar tertentu sebagai tujuan pertentangan itu sendiri. Weber berpendapat bahwa pertentangan untuk memperoleh kekuasaan tidaklah terbatas hanya pada organisasiorganisasi politik formal, tetapi juga terjadi di dalam setiap tipe kelompok, seperti organisasi keagamaan dan pendidikan. Tipe konflik kedua yang seringkali ditekankan oleh Weber adalah konflik dalam hal gagasan dan cita-cita. Dia berpendapat bahwa orang seringkali tertantang untuk memperoleh dominasi dalam hal pandangan dunia mereka, baik itu berupa doktrin keagamaan, filsafat sosial ataupun konsepsi tentang bentuk gaya hidup kultural yang terbaik. Lebih dari itu, gagasan dan cita-cita tersebut bukan hanya dipertentangkan, tetapi dijadikan senjata atau alat dalam pertentangan lainnya, misalnya pertentangan politik. Jadi, orang dapat berkelahi untuk memperoleh kekuasaan dan, pada saat yang sama, berusaha saling meyakinkan satu sama lain bahwa bukan kekuasaan itu yang mereka tuju, tetapi kemenangan prinsipprinsip yang secara etis dan filosofis benar.

Jelaslah, Weber bukanlah seorang materialis ataupun idealis. Dalam kenyataannya, dia biasanya disebut para sosiolog modern sebagai contoh seorang pemikir yang mengkombinasikan pola penjelasan materialis dan idealis dalam pendekatan sosiologis yang bersifat menyeluruh. Jadi, Weber berpendapat bahwa gagasan bukan semata hasil dari kondisi-kondisi material yang ada, tetapi keduanya seringkali memiliki signifikansi kausalnya sendirisendiri.

Hal lain di mana Weber dan Marx saling bersimpang jalan adalah me-nyangkut kemungkinan untuk memecahkan konflik dasar dalam masyarakat masa depan. Marx berpendapat bahwa karena konflik pada dasarnya muncul dalam upaya memperoleh akses terhadap kekuatan-kekuatan produksi, sekali kekuatan-kekuatan ini dikembalikan kepada kontrol seluruh masyarakat, maka konflik dasar tersebut akan dapat dihapuskan. Jadi, sekali kapitalisme digantikan dengan sosialisme, kelas-kelas akan terhapuskan dan pertentangan kelas akan berhenti. Weber memiliki pandangan yang jauh lebih pesimistik dalam hal ini. Dia percaya bahwa pertentangan merupakan salah satu prinsip kehidupan sosial yang sangat kukuh dan tak dapat dihilangkan. Dalam suatu tipe masyarakat masa depan, baik kapitalis, sosialis atau tipe lainnya, orangorang akan tetap selalu bertarung memperebutkan berbagai sumber daya. Karena itu, Weber menduga bahwa pembagian atau pembelahan sosial adalah ciri permanen dari semua masyarakat yang sudah kompleks, walaupun tentu saja akan mengambil bentuk-bentuk dan juga tingkat kekerasan yang secara substansial sangat bervariasi.

Walaupun pendekatan konflik Marxian dan Weberian telah dianut oleh banyak sosiolog modern, tidak berarti pendekatan ini mendapat dukungan universal. Meskipun demikian, buku ini mengakui begitu banyaknya kegunaan gagasan konflik yang dikemukakan oleh Marx dan Weber, dan karena itu sangat banyak menggunakan gagasan-gagasan mereka berdua, terutama gagasan-gagasan Marx.

Filed under : Bikers Pintar,