PENGERTIAN STRATEGI UNTUK MENCEGAH BIAS BUDAYA DALAM PENGUKURAN

10 views

PENGERTIAN STRATEGI UNTUK MENCEGAH BIAS BUDAYA DALAM PENGUKURAN – Para ahli klinis dapat menggunakan berbagai metode untuk meminimalkan efek negatif berbagai bias budaya ketika mengukur para pasien. Sattler (1982) memberikan beberapa saran yang berguna untuk memandu para ahli klinis dalam menyeleksi dan menginterpretasi berbagai tes dan data pengukuran lainnya. Pertama, para ahli klinis harus berupaya mempelajari budaya orang yang diukur. Pengetahuan ini dapat diperoleh melalui membaca, konsultasi dengan para kolega, dan diskusi langsung dengan klien. Kedua, penting bagi para ahli klinis untuk menentukan bahasa yang lebih disukai klien dan mempertimbangkan untuk memberikan pengukuran dengan lebih dari satu bahasa.
Berbagai prosedur pengukuran juga dapat dimodifikasi untuk memastikan bahwa orang tersebut benar-benar mengerti tugas yang harus dikerjakan. Sebagai contoh,
seorang anak penduduk asli Amerika mengerjakan tes pengukuran kecepatan psikomotorik dengan hasil rendah. Penguji menduga si anak tidak mengerti pentingnya bekerja dengan cepat dan alih-alih terlalu menekankan pada akurasi. Tes tersebut dapat diulang setelah penguji memberikan penjelasan yang lebih menyeluruh mengenai pentingnya bekerja cepat tanpa perlu memikirkan kesalahan dalam pengerjaan. Jika kinerja si anak meningkat, penguji telah mendapatkan pemahaman penting tentang si anak dan mencegahnya memberikan diagnosis kurangnya kecepatan psikomotor jika masalah yang sebenarnya terletak pada strategi mengerjakan tes. Terakhir, bila penguji dan klien berasal dari etnis yang berbeda, penguji perlu melakukan upaya ekstra untuk menciptakan suatu kedekatan yang akan menghasilkan kinerja terbaik dari klien. Sebagai contoh, ketika menguji seorang anak prasekolah keturunan Hispanik vang pemalu, salah satu penulis buku ini tidak dapat memperoleh respons verbal terhadap pertanyaan-pertanyaan dalam tes, Wa laupun demikian, penulis—mendengar anak laki-laki tersebut berkata pada ibunya di ruang tunggu dengan jelas dan penuh semangat, yang memicu penilaian bahwa hasil tes tidak menun jukkan pengukuran yang valid terha-dap keterampilan bahasa si anak. Ketika tes tersebut diulang di rumah si anak dengan kehadiran ibunya, terdapat peningkatan kemampuan verbal.
Walaupun demikian, sebagaimana dikatakan Lopez (1994), “jarak antara responsivitas budaya dan stereotip budaya tidak jauh”. Untuk memini malkan masalah seperti itu, para ahli klinis didorong untuk sangat berhati hati dalam menarik kesimpulan terhadap para pasien dari kalangan minoritas. Lebih dari itu, mereka disarankan untuk membuat hipotesis tentang pengaruh budaya terhadap klien tertentu, mempertimbangkan hipotesis-hipotesis alternatif, kemudian menguji berbagai hipotesis tersebut.

Pada salah satu kasus dalam catatan kami, seorang pria muda diduga menderita skizofrenia. Salah satu simtom utama yang dituturkannya adalah mendengar suara suara. Walaupun demikian, dia mengaku mendengar suara-suara hanya ketika ia sedang bermeditasi dan bahwa dalam keyakinan agamanya (Buddha) pengalaman ini adalah hal normatif. Untuk menguji hipotesis ini penguji (dengan seizin klien) menghubungi pemimpin agama keluarganya. Pendeta Buddha menyampaikan bahwa simtom yang dituturkan pria muda tersebut sangat tidak biasa, dan ternyata komunitas agamanya merasa cukup khawatir dengan perilakunya yang semakin aneh. Dengan demikian, hipotesis bahwa simtom yang dialaminya perlu dikaitkan dengan faktor-faktor budaya terbukti salah, dan kami terhindar dari kegagalan mendeteksi terjadinya psikopatologi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *