PENGERTIAN STRATIFIKASI SOSIAL DALAM MASYARAKAT AGRARIS

41 views

PENGERTIAN STRATIFIKASI SOSIAL DALAM MASYARAKAT AGRARIS – Dengan beralihnya masyarakat hortikultura intensif kepada masyarakat agraris, maka batas-batas yang terbentuk sebelumnya pada sistem stratifikasi menjadi hilang. Hilangnya etika redistribusi dan merenggangnya tali kekerabatan di antara anggota kelas-kelas sosial yang berbeda, berhubungan erat dengan munculnya bentuk stratifikasi sosial yang ekstrim dimana mayoritas masyarakat terseret dalam kemiskinan dan degradasi. Salah satu ciri kuat dalam masyarakat agraris adalah jurang yang luas dalam kekuasaan, hak istimewa, dan prestise yang terjadi antara kelas dominan dan subordinatnya. Tentu saja, masyarakat agraris adalah masyarakat yang paling terstratifikasi di antara semua masyarakat pra industri. Pembahasan tentang masyarakat agraris berikut ini didasarkan atas deskripsi (Lenski, 1966)

Sistem stratifikasi agraris umumnya terdiri dari strata sosial berikut (1) elit ekonomi-politik yang terdiri dari penguasa dan keluarganya serta kelas tuan tanah; (2) kelas penyewa; (3) kelas pedagang; (4) kelas rohaniwan; (5) kelas petani; (6) kelas seniman; (7) kelas “sampah masyarakat”. Empat kelas yang disebut pertama dianggap kelompok kelas yang memiliki hak-hak istimewa. Tetapi kelompok-kelompok yang memiliki hak istimewa terpenting tentu saja elit ekonomi politik: kelas penguasa dan pemerintah. Para petani, seniman, dan kelas terakhir merupakan kelas bawah, tetapi karena para petani merupakan kelas terbesar, ia juga merupakan kelas yang paling tereksploitasi. Pemerintah dalam masyarakat agraris —raja, penguasa, kaisar atau apapun namanya, adalah orang yang secara resmi menjadi pemimpin politik. Kelas penguasa terdiri dari mereka yang mempunyai tanah dan menerima keuntungan dari pemilikan tersebut. Kenyataannya, kelas penguasa dan gemerintah biasanya merupakan tuan tanah sekaligus penguasa politik, dan hal ini merupakan hubungan penting antara kedua segmen kehidupan elit tersebut. Jumlah populasi mereka tidak lebih dari satu atau dua persen dari ,populasi keseluruhan tetapi menerima kira-kira 1/2 sampai 2/3 dari seluruh kekayaan masyarakatnya. Hubungan spesifik antara penguasa dan kelas pemerintah bervariasi antara satu masyarakat agraris dengan masyarakat agraris lainnya. Dalam beberapa masyarakat, kekuasaan dan kekayaan penguasa berkurang dan dibatasi oleh kelas pemerintah, dan kelas pemerintah tersebut memegang kekuasaan politik utama. Keadaan ini ditemukan, misalnya, di Eropa abad pertengahan. Dalam masyarakat agraris lain, seperti di Turki zaman Ottoman atau Mughal India , kekuasaan politik terkonsentrasi di tangan penguasa yang jug merupakan tuan tanah. Dalam keadaan seperti ini, hak prerogatif kelas pemerintah (dalam hal kekuasaan, pemilikan dan pengawasan atas tanah serta kekayaan) menjadi terbatas.

Terlepas dari hubungan khusus antara penguasa dan kelas pemerintah, masing-masing kelas menikmati kekuasaan yang besar, hak-hak istimewa dan prestise dibandingkan dengan kelas-kelas lain. Surplus perekonomian hampir bisa dipastikan mengalir ke tangan elit ekonomi politik. Penguasa dalani masyarakat agraris umumnya menguasai kekayaan dalam jumlah besar. Di akhir abad xiv, misalnya, raja-raja Inggris memiliki pendapatan kira-kira 135.000 gulden per tahun, jumlah yang sama dengan 85% pendapatan gabungan antara 2.200 bangsawan dan para pengawal kerajaan. Bahkan beberapa penguasabirokrat kerajaan mendapatbagian yang lebih besar lagi. Xerxes, Raja Persia pada masa sebelum masehi, konon mendapat penghasilan 421 juta dolar; Akbar, Sang Agung dari India dan penggantinya Aurangzeb berturutturut diperkirakan mendapat 120juta dolar dan 270 juta dolar. Untuk kekayaan dari kelas penguasa, Lenski memperkirakan, kemungkinan kelas ini menerima sedikitnya 1/4 dari total pendapatan masyarakat agraris. Pada akhir abad xix, di Cina, misalnya, porsi untuk kelas pemerintah Cina (termasuk segmen Manchu dari kelas ini) diperkirakan menerima 645 juta tael per tahun, atau 24% dari GNP. Dengan rata-rata 450 tael per keluarga, segmen Cina dari kelas penguasa mempunyai pendapatan per tahun 20 kali lebih besar daripada masyarakat Cina lainnya. Di bawah kelas penguasa dan pemerintah dalam masyarakat agraris adalah strata sosial yang disebut dengan kelas pengabdi. Kelas ini terdiri dari para fungsionaris, seperti pegawai pemerintahan, tentara profesional, pelayan rumah tangga dan personel lain yang langsung mengabdi kepada kelas penguasa dan pemerintah. Lenskimemperkirakanbahwa kelas ini terdiri dari 5% dari keseluruhan populasi masyarakat agraris. Peran penting dari kelas ini adalah sebagai penengah hubungan antara elit dan massa. Menurut pengamatan Lenski, kelas ini terdiri dari para pegawai yang pekerjaan sehari-hari mentransfer surplus ekonomi kepada kelas penguasa dan pemerintah. Hak-hak istimewa dan status sosial dari kelas ini sangat bervariasi. Sebagian anggota dari kelas ini menikmati hak istimewa lebih banyakidaripada beberapa kelas pemerintah yang berpangkat rendah. Anggota lain dari kelas tersebut tidak menikmati hak-hak istimewa sama sekali; kedudukan mereka dalam masyarakat ini sedikit lebih baik daripada kelas petani. Rata-rata kelas pengabdi ini menyumbangkan keuntungan yang besar bagi kekayaan yang dikuasai para atasan mereka. Walaupun kelas pengabdi ini adalah kelas pelayan, kedudukan mere ka masih lumayan baik karena dekat dengan kelas yang memiliki hak-hak istimewa dibandingkan dengan kelas yang jauh sama sekali.

Kelas pedagang merupakan kelas yang juga mempunyai hak istimewa. Pedagang, tentu saja, berkecimpung dalam aktivitas perdagangan yang merupakan bagian penting dari perekonomian kota masyarakat agraris. Kelas pedagang sangat diperlukan oleh kelas elit karena menyediakan barangbarang mewah. Walaupun banyak pedagang yang tetap miskin, banyak juga yang menimbun harta mereka, dan bahkan sedikit dari mereka sedikit lebih kaya daripada kelas pemerintah. Namun di luar keuntungan material, para pedagang mempunyai prestise yang rendah. Dalam status tradisional Jepang dan Cina, misalnya, pedagang ditempatkan pada urutan paling bawah, b ahkan di bawah kelas petani dan seniman. Dalam zaman pertengahan Eropa, pedagang mempunyai status lebih baik, tetapi mereka tetap dianggap lebih rendah oleh kelas pemerintah. Para pedagang sadar akan rendahnya status mereka, dan banyak yang berusaha menaikkannya menyamai kelas pemerintah dengan meniru gaya hidup kelas tersebut.

Walaupun kelas rohaniwan dalam masyarakat agraris selalu terstratifikasi secara internal, umumnya kelas tersebut mendapat kedudukan yang istimewa. Tentu saja, rohaniwan sering memiliki kekayaan dalam masyarakat agraris, dan pola hubungan mereka sangat dekat pada kelas penguasa dan pemerintah. Di Mesir pada abad xii sebelum Masehi, dan Perancis pada abad xviii, para rohaniwan mempunyai 15% dari seluruh tanah. Pada masa pre reformasi Swedia, gereja memiliki 21%, sementara di Ceylon, pendeta Budha menguasai 1 / 3 tanah. Hak-hak istimewa yang dimiliki rohaniwan ini disebabkan karena persekutuan mereka dengan kelas elit. Kelas elit umumnya mencari rohaniwan untuk mendukung tindakan-tindakan eksploitatif dan penindasan mereka. Para rohaniwan kemudian mendapat imbalannya. Walaupun an, hak-hak istimewa rohaniwan bukannya tidak rapuh. Para elit p olitik sering melakukan penyitaan terhadap rohaniwan, yang menunjukkan hubungan antara-rohaniwan dan kelas elit kadang-kadang goyah. Tambahan pula, tidak semua rohaniwan kaya dan mempunyai status tinggi. Pada abad pertengahan di Eropa, misalnya, rohaniwan terbagi menj adi pendeta tinggi dan bawah. Jika pendeta kelas atas hidup dalam hak-hak istimewa dengan latar belakang kemuliaannya, maka pendeta kelas bawah — yang jamaahnya adalah para pelayan— mempunyai gaya hidup yang sama dengan orang kebanyakan. Dalam banyak masyarakat agraris, populasi terbesar adalah para petani. Sebagai suatu kelas, para petani mempunyai status ekonomi, politik dan sosial yang lebih rendah. Keadaan perekonomian mereka pada umumnya serba kekurangan, walaupun kadar eksploitasi terhadap mereka bervariasi dari satu masyarakat ke masyarakat agraris lainnya. Beban umum yang menimpa para petani adalah pajak, sebagai alat utama yang memisahkan surplus produksi dari mereka sendiri. Beban dan beratnya pajak sangat bervariasi. Selarna era Toktigawa di Jepang, tinggi pajak hasil panen bervariasi dari 30% – 70%. Di Cina, kira-kira 40 – 50% dari total produksi pertanian diklaim sebagai hak milik tuan tanah. Pada masa sebelum penjajahan Inggris di India, para petani menyerahkan 1/3-1/2 hasil panen kepada penguasa Hindu dan Muslim. Di Babylon semasa Hammurabi, besar pajak 1/3-1/2 hasil panen. Pada masa Ottoman di Turkibesar pajak 10-50°/0. Dalam abad xvi-xvii di Rusia, besar pajak 20-50%. Pada masyarakat agraris umumnya berlaku berbagai macam pajak. Contoh berlakunya berbagai macam pajak ini terjadi di daerah Bulgaria ketika Ottoman berkuasa. Di sini penguasa Turki membebankan hampir 80 macam pajak dan kewajiban kepada para petani. Salah satunya dikenal sebagai “pajak gigi”, yang ditarik setelah iftereka makan dan minum di suatu tempat. Alasan para pemungut pajak adalah “untuk ongkos pemakaian gigi mereka selama makan” (Lenski, 1966:269). Pajak-pajak yang tidak masuk akal ini menunjukkan sampai sebegitu jauh para elit berusaha mengambil keuntungan dari masyarakat.

Banyak beban berat lain yang harus ditanggung petani selain pajak. Salah satunya adalah convee, atau kerja paksa. Sistem ini memaksa para petani untuk bekerja seharian untuk penguasa mereka dan negara. Di Eropa pada zaman pertengahan, misalnya, para petani dipaksa untuk mengerjakan tanah penguasa pada hari-hari tertentu sepanjang tahun. Selama pembangunan “The Great Wall” di Cina, para petani dipaksa bekerja hampir selama usia dewasa mereka. Beban para petani tidak berhenti pada kerja paksa dan pajak. Jika penguasa mengoperasikan penggilingan, tungku pembakaran dan pembuatan arak, para petani diharuskan untuk menggunakannya dan membayarnya dengan layak. Dalam beberapa masyarakat agraris, penguasa dapat bebas mengambil apapun yang ia sukai milik sang petani tanpa membayar. Di Eropa pada abad pertengahan, apabila seseorang mati, maka penguasa dapat menyatakan bahwa itu adalah hasil kejahatan petani. Lebih jauh lagi, apabila anak gadis petani melangsungkan pernikahan tanpa sepengetahuan atau tidak direstui oleh penguasa, maka ayah si gadis terkena denda. Jelas bahwa kehidupan petani jelata sangat menyedihkan. Hidup dalam keadaan serba kekurangan, para petani kekurangan makanan dari segi kualitas, kuantitas danjenisnya. Alat-alat rumah tangga sangat kurang, dan umumnya para petani tidur di tanah berselimutkan jerami. Kadang-kadang situasi begitu sulit untuk tetap tinggalmenetap. Petani terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya mencoba hidup dengan jalan lain.

Akibat dari rendahnya tingkat perekonomian yang diderita, para petani menduduki status yang paling bawah dalam seluruh masyarakat agraris. Perbandingan kualitas hidup petani dan elit bagaikan bumi dan langit. Kelompok elit menganggap petani sebagai kelompok yang sangat rendah, bahkan sering diperlakukan tidak manusiawi. Dalam beberapa masyarakat agraris, petani diklasifikasikan persis seperti mengelompokkan ternak. Mereka sekedar dapat hidup, tidak dapat menikmati pendidikan, mengembangkan diri dan terjebak oleh status mereka. Di bawah kelas petani ini masih terdapat dua kelas lagi dalam tatanan masyarakat agraris. Salah satunya adalah kelas seniman, atau pengrajin, suatu kelas yang diperkirakan oleh Lenski, 3-7% dari seluruh populasi. Para seniman biasanya berasal dari para petani yang kehilangan hak milik. Walaupun pendapatan petani dan seniman tumpang tindih, pendapatan seniman biasanya lebih buruk daripada petani. Ternyata, banyak dari mereka hidup dalam kelaparan. Kelas paling bawah dari setiap masyarakat agraris adalah apa yang disebut sebagai kelas “sampah masyarakat”. Kelas ini diperkirakan sekitar 5- 10%, dijumpai di daerah perkotaan. Mereka terdiri dari pengemis, pencuri, pelanggar hukum, pekerja serabutan dan personal lain yang disebut Lenski sebagai “terpaksa hidup di bawah belas kasihan dan sedekah orang lain” (1966;281). Kelompok inihidup dalam perekonomian yang rendah, kurang gizi dan sakit-sakitan, dan mempunyai angka kematian tinggi. Anak-anak petani miskin yang tidak mewarisi apa-apa sering jatuh ke dalam kelas yang malang ini. Kedudukan seseorang dalam tatanan sosial masyarakat agraris ditentukan secara turun-temurun. Banyak yang meninggal tetap sebagai anggota kelas dimana ia dilahirkan. Ini tidak berarti bahwa mobilitas sosial tidak mungkin atau tidak ada, mobilitas sosial tetap terjadi dalam jumlah kecil. Namun, mobilitas ke atas jarang terjadi, lebih banyak mobilitas ke bawah. Seperti telah dibahas di atas, anak-anak petani yang tidak mewarisi apapun dari kedua orang tua sering menjadi seniman atau gelandangan. Sehingga kesempatan atau kemungkinan perbaikan kualitas hidup /kedudukan dalam masyarakat agraris sangat sulit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *