Advertisement

stress

Luasnya topik stres ini tercermin di dalam keragaman bidang penelitian yang diasosiasikan dengannya dan di dalam sulitnya menemukan definisi yang memadai. Beberapa stres seperti kebisingan, kepanasan atau kesakitan mungkin lebih baik dipandang sebagai properti lingkungan yang merepresentasikan keberangkatan dari optimum dan hanya berbeda dalam intensitas tingkat yang dapat ditoleransi secara normal. Jadi stress dapat dipandang sebagai suatu karakteristik stimulus, dan mungkin dapat didefinisikan sebagai “tingkat tekanan yang kuat dalam kehidupan sehari-hari.” Sebaliknya, stres juga dapat dianggap sebagai poia respon yang berkaitan dengan gerakan yang bersifat otonom. Usaha awal dari pendekatan ini dilakukan oleh Selye (1956), yang mengemukakan bahwa stres adalah respon non-spesifik tubuh terhadap setiap tuntutan yang diarahkan kepadanya. Secara psikologis, diasumsikan bahwa respon stres tidak dipengaruhi oleh sifat dari peristiwa yang menekan, tetapi merupakan bagian dari pola pertahanan universal yang disebut dengan “Sindrom Adaptasi Umum.’ Seyle menunjukkan pola-pola temporal di dalam kasus stres yang berkepanjangan.

Advertisement

Ada tiga tahap yang dapat diidentifikasi: tanda-tanda peringatan, resistensi, dan keletihan Kemampuan organisme untuk bertahan hidup dianggap merupakan fungsi perlindungan; perlawanan terhadap penambahan stres tidak begitu kuat pada tahap peringatan, meningkat pada tahap resistensi selanjutnya dan kemudian menurun pada tahap keletihan.

Tak satupun definisi berbasis stimulus atau respon yang dapat mencakup stres yang bervariasi dan kompleks, seperti saat mengikuti ujian, terjun payung, operasi bedah, dan berbicara di depan publik. Problem “stres seseorang adalah tantangan orang lain” dipecahkan dengan definisi yang mempraanggapkan bahwa stres adalah akibat dari ketidakseimbangan antara tuntutan dan kapasitas, dan, yang lebih penting, dipecahkan dengan persepsi bahwa ada ketidakseimbangan. Faktor-faktor yang menciptakan ambisi dan menerjemahkannya ke daiam kehendak merupakan hal penting dalam menentukan tingkat stres sebagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi kapasitas.

Sejumlah model telah diusulkan, yang menganggap bahwa kondisi bagi stres akan terpenuhi apabila tuntutan membebani atau melebih sumber-sumber penyesuaian (Cox dan Mackay 1978: Lazarus 1966; 1976). Secara khusus. Lazarus mengemukakan bahwa beberapa proses penilaian terlibat di dalam perkiraan ancaman. Intensitas dari ancaman tidak hanya tergantung pada ciri-ciri stimulus tetapi juga pada kemampuan untuk menanggulanginya. Selanjutnya, penanggulangan tersebut mungkin mengambil bentuk tindakan langsung atau penghindaran dan mungkin melibatkan persiapan antisipasi terhadap bahaya, atau penggunaan strategi pertahanan.

Fisher (1984) mengemukakan bahwa aktivitas mental di dalam persepsi dan respon terhadap stres membentuk basis dari kekhawatiran dan kesibukan, dan tampaknya berkaitan dengan perkiraan dan pembentukan kontrol. Persepsi kontrol pribadi bukan hanya dapat menjadi determinan dari respon psikologis namun juga diperlihatkan untuk menentukan pola-pola hormon. Misalnya, studi terapan dan laboratorium telah menyarankan bahwa kontrol atas langkah kerja mempengaruhi pola-pola keseimbangan adrenalin dan non-adrenalin, dan mungkin menentukan derajat kecemasan yang dialami.

Kondisi kerja dan kejadian-kejadian di dalam sejarah merupakan sumber penting dari stres potensial dan mungkin mengandung pengaruh yang meresapi keadaan mental dan kesehatan fisik dalam jangka panjang. Stres saat kerja tidak lagi dianggap sebagai milik prerogatif dari pekerja kerah putih dan profesional. Kerja manual yang berulang kali dikaitkan dengan tingkat adrenalin yang tinggi, para pekerja di perakitan banyak yang sangat gelisah dan operator komputer yang menghabiskan lebih dari 90 persen waktunya untuk bekerja di hadapan komputer mungkin mencari “periode istirahat” setelah bekerja. Depresi mungkin terjadi ketika keleluasaan pribadi berkurang, ketika dukungan sosial berkurang, atau ketika komunikasi sosial terhalang, seperti di dalam lingkungan dengan tingkat kebisingan mesin yang tinggi.

Ciri tambahan yang signifikan dari sejarah kehidupan adalah penyesuaian yang diperlukan oleh perubahan. Dua konsekuensi penting dari pembahan adalah interupsi dari aktivitas yang telah berlangsung sebelumnya dan pengenalan ketidakpastian terhadap kontrol masa depan. Studi tentang ‘kerinduan’ (homesickness) mahasiswa universitas menjelaskan arti penting dari kekhawatiran dan kesibukan sebagai ciri-ciri penyesuaian terhadap perubahan. Kerinduan akan gaya hidup sebelumnya merupakan ciri yang menonjol sebagaimana perhatian tentang gaya hidup yang baru. dan bagi beberapa individu hal ini merupakan prasyarat pembentukan kontrol (Fisher 1984: Fisher et al 1985).

Kompetensi adalah kondisi yang diperlukan dari pelaksanaan kontrol pribadi, namun hal ini mungkin suiit dipertahankan di dalam lingkungan yang penuh tekanan. Studi tentang efek tekanan lingkungan terhadap ingatan dan perhatian telah memperlihatkan ada perubahan dalam fungsi di daiam kondisi stres yang relatif ringan. Meskipun perubahan itu mungkin tidak selalu mengganggu di dslam kondisi stres menengah, namun pada kondisi yang sangat berat dicirikan dengan kekacauan perilaku dan kehilangan kendali. Telah ditemukan bahwa kinerja berkaitan dengan derajat pergerakan dalam bentuk kurva ‘U’ terbalik. Stres tingkat menengah, dengan semakin bertambahnya gerakan, mungkin akan meningkatkan kinerja, sedangkan stres yang berat bisa jadi akan menurunkannya. Namun, asumsi dimensi tunggal dari pergerakan telah disanggah oleh bukti-bukti psikologis yang memperlihatkan bahwa ada pola-pola pergerakan mungkin berupa respon atau stimulus spesifik. Konsep kesesuaian antara kebersamaan dengan tingkat pergerakan yang dihasilkan oleh stres diusulkan oleh Fisher (1984) sebagai bagian dari model gabungan dari hubungan antara stres dan kinerja. Model tersebut juga menjelaskan pengaruh kekhawatiran dan kesibukan mental yang berkaitan dengan stres dan pembentukan kontrol sebagai determinan bersama dari perubahan kinerja.

Di dalam kondisi kerja dan stres kehidupan tersebut pola-pola perilaku dan karena itu keseimbangan hormon pengiring yang menonjol di dalam problem stres khusus mungkin dihasilkan dari pengambilan keputusan tentang kontrol. Keputusan yang penting berhubungan dengan apakah seseorang itu tidak berdaya ataukah mampu menjalankan kontrol tersebut. Proses mental yang terlibat di dalam penilaian kontrol mungkin menyangkut pendeteksian dan penyimpulan hubungan antara aksi dan konsekuensi selama periode tertentu. Perlakuan sebelumnya dengan kejutan mengakibatkan ketidakberdayaan dalam pembelajaran penghindaran (Seligman 1975). yang menghasilkan hipotesis bahwa depresi dan ketidak-berdayaan terkait erat satu sama lain dan bisa ditransmisikan seperti hilangnya pengendalian diri. Pertanyaan, “mengapa kita tak berdaya” adalah tepat karena tingginya kemungkinan bahwa sebagian besar orang mengalami ketidakberdayaan pada waktu tertentu; pertanyaan ini sebagian dijawab oleh riset yang menyatakan bahwa subyek normal menolak ketidakberdayaan dan depresi dengan memberi penilaian yang terlalu tinggi terhadap kontrol ketika imbalan akan segera datang (Alloy dan Abramson 1979). Demikian juga mereka mungkin lebih banyak melakukan tugas atau mencari bukti-bukti lain yang memperlihatkan bahwa kontrol adalah mungkin, dan karena itu menaikkan harga diri (Fisher 1984). Sebaliknya, mereka yang telah mengalami depresi menilai tingkat kontrol dengan akurat, namun cenderung menyalahkan diri mereka sendiri dengan adanya lingkungan yang menandakan tidak ada kontrol di sana. Karena itu kurangnya bias optimistik dan kurangnya obyektivitas dalam memahami penyebab kegagalan merupakan aspek yang membedakan antara orang yang menderita depresi dengan yang tidak.

Penjelasan tersebut memperlihatkan bahwa analisis keputusan tentang kontrol di dalam lingkungan yang penuh tekanan yang berlainan mungkin memberikan kunci bagi pemahaman resiko yang akan menimpa kesehatan jangka panjang dalam seorang individu. Seseorang yang mudah putus asa mungkin tertekan dan mungkin mendatangkan penderitaan sebagai akibat kegagalan kontrol dan karena itu mengalami kesedihan. Seseorang yang berjuang mengatasi kegagalan akan mendapatkan imbalan atas usahanya itu. Seseorang yang mempraktekkan kontrol dengan penghindaran mungkin harus terus-menerus waspada dan harus mengembangkan teknik penghindaran, dan. jika berhasil, tidak akan menerima informasi yang mengindikasikan kontrol itu efektif.

Hasil dari pengambilan keputusan kontrol dapat mengandung implikasi bagi kesehatan fisik karena adanya peran mediasi dari hormon stres. Tingkat pengulangan catechalomine yang tinggi mungkin meningkatkan resiko penyakit kronis, seperti penyakit hati, karena penyimpangan fungsional sistem fisik. Tingkat hormon corticoid yang tinggi dapat mengubah tingkat respon antibodi, dan karena itu mengubah resiko terkena virus dan penyakit tulang yang disebabkan bakteri serta penyakit lainnya seperti kanker (Cox dan Mackay 1982; Totman 1979).

Proses pengambilan keputusan kontrol dapat menjelaskan aktivitas kekhawatiran dan mungkin bisa berkepanjangan atau bersifat melemahkan sebagai sebuah fungsi kontingensi lingkungan. Kecemasan mungkin merupakan cara yang paling efektif untuk mengatasi masalah karena merupakan periode pemikiran yang mendalam. Namun selama proses “kecemasan” ini, berkaitan dengan level hormon yang menciptakan dan mempertahankan penekanan respon kekebalan, kemungkinan terjadi vasoconstriction dan kecenderungan penggumpalan darah. Orang yang cemas menghasilkan sebuah metode yang sempurna untuk menaikkan hormon yang berhubungan dengan resiko penyakit (Fisher dan Reason 1989). Tingkat kecemasan akan sangat tinggi setelah terjadi perubahan besar yang berkaitan dengan perpindahan dan kekalahan .

Advertisement