social structure and structuration (struktur sosial dan strukturisasi)

Gagasan bahwa struktur sosial bisa dikaji seolah-olah memiliki atribut-atribut formal tanpa mengacu pada para agen pelaku telah memberikan pengaruh besar pada pemikiran sosial dan teori sosiologi. Sampai dewasa ini, gagasan ini dianggap sebagai konsep yang esensial bagi sosiologi, meski penyebarannya sangat dipengaruhi oleh fokus strategis si teoretisi. Dengan demikian bagi sebagian praktisi, struktur sosial hanya sebuah asumsi latar belakang yang timbul akibat dijalankannya penyelidikan investigasi teoretis atau empiris, sementara bagi sebagian praktisi yang lain, struktur sosial merupakan titik fokus dari komitmen teoretis mereka.

Dalam contoh yang pertama, para peneliti ilmu sosial berharap menemukan bukti dari pola dan hubungan dalam dunia sosial. Mereka mungkin meyakini, sebagai contoh, bahwa tingkat kejahatan memiliki semacam hubungan dengan pengangguran meski tidak berarti mereka meng-klaim bahwa mata rantai atau korelasi ini menunjukkan adanya sebuah struktur. Tentu saja, korelasi- korelasi merupakan ukuran struktur yang bersifat ambigu, tetapi tanpa berbagai korelasi ini akan sulit untuk menyaksikan bagaimana sebuah analisis yang berazaskan struktural bisa berproses.

Dalam contoh yang kedua, struktur seringkah dianggap memiliki status sebab-akibat yang sangat menentukan, meski rumusan ini kadang-kadang diperlunak dengan cara mengganti struktur menjadi “batasan” (constraint). Sebuah teori struktural yang siap pakai tidak akan menyisakan celah bagi agensi dan intensi. Individual dilokasikan secara struktural, dan ini sangat membatasi jaringan dari perlaku dan pengalamannya. Selain posisi seperti ini memang tidak dimungkinkan secara inheren, mereka juga gagal mempertimbangkan kemungkinan adanya lebih dari satu struktur yang melingkupi individu. Terlebih lagi, struktur-struktur yang berbeda bisa menimbulkan tuntutan-tuntutan yang kontradiktif yang akan sangat menyiksa dan merusak perasaan lokasi seseorang (person’s sense of location). Bahkan, setiap usaha teorisasi dari masyarakat industri harus terfokus pada fragmentasi dan diferensiasi struktur, serta cara di mana mereka mengubah tanggapan terhadap faktor-faktor teknologi, ekonomi, dan ekologi.

Pada tingkat minimal, struktur sosial bisa dianggap sebagai batasan bagi perilaku. Apa yang dipermasalahkan di sini bukan pembatasannya per se, tetapi lebih pada strategi alternatif yang dipergunakan para praktisi dalam usahanya memberikan rasionalitas teoretis. Bagi berbagai sosiologi interpretif dan fenomenologis, permasalahan batasan ini terfokus pada prosedur yang dipergunakan oleh aktor-aktor sosial dalam usaha menghasilkan dunia yang terstruktur. Struktur sosial tidak memiliki eksistensi yang riil kecuali dalam benak para pelaku yang memberinya arti. Dari sudut pandang ini penjelasan struktural hanya akan memiliki validitas sejauh ini dialami secara subyektif. Struktur dengan demikian adalah sesuatu yang dikatakan oleh para pelakunya. Jika struktur mempengaruhi praktek, maka hal ini terjadi karena struktur itu dipandang memiliki semacam realitas, tetapi sebuah realita yang tergantung dalam analisis akhir pada “konstruksi” individual. Tetapi bagaimanapun, terdapat posisi-posisi sosiologis yang memberikan realitas kepada struktur. Durkheim, Marx, Althusser, LeviStrauss, di antaranya, telah terasosiasi dengan pandangan struktur yang kuat, meski versi Durkheim dan Marx berawal dari premis yang berbeda.

Kelanjutan konfrontasi teoretis ini menghasil-kan kebingungan konseptual, yang sering mengakibatkan penerimaan implisit atas sebuah dualisme reduktif di mana salah satu pihak mengklaim prioritas logis dan empiris. Meskipun selalu ada usaha untuk mendamaikannya, posisi-posisi ini tidak digali secara sistematis dalam sosiologi. Giddens (1976; 1984; 1987) berusaha mengatasinya dengan menyediakan kerangka analitis di mana baik struktur maupun tindakan menjadi aspek dari sebuah dunia konseptual yang sama. Dalam apa yang disebutnya sebagai “dualitas struktur”, baik tindakan maupun struktur saling mengikuti satu sama lain. Aktor-aktor sosial, dalam perilaku kehidupan sehari-harinya, secara aktif menghasilkan makna dalam tataran yang telah mereka beri makna; secara bersamaan mereka dipengaruhi oleh cara di mana makna-makna tersebut telah menjadi dirutinkan dan direproduksi dalam dimensi waktu dan ruang. Dalam pengertian lain, struktur sosial dihasilkan dan dihasilkan ulang dalam “praktek-praktek” masyarakat dalam keseharian mereka.

Praktek memegang peran kunci dalam diskusi Giddens. Apa yang dilakukan dan dikatakan masyarakat memiliki konsekuensi bagi struktur sosial. Hal ini tidak perlu berarti bahwa intensi mereka harus dimasukkan dalam analisis, tetapi lebih untuk menekankan fakta bahwa ketika individu-individu berinteraksi mereka menggerakkan sumber daya, keterampilan dan pengetahuan yang telah mereka dapatkan dari interaksi mereka sebelumnya. Praktek-praktek struktur sosial, dengan demikian, sebagian selalu berakar pada pertemuan tatap muka, tetapi perjumpaan seperti ini tidak pernah terjadi dalam ruang hampa yang tidak berstruktur; mereka ditengahi dan dipengaruhi oleh sumber daya yang telah memiliki signifikansi sosial dan budaya. Dalam hal ini struktur adalah proses dialektika di mana apa yang dilakukan para individu adalah juga apa yang mereka bangun. Hal ini adalah esensi dari strukturasi (structuration).

Strukturasi juga melibatkan interfusion dari konsekuensi yang diharapkan maupun yang tidak diharapkan. Apa yang dimaui dan dilakukan orang bisa menghasilkan konsolidasi atas apa yang tidak mereka inginkan. Ini adalah tema yang cukup populer dalam sosiologi aliran utama tetapi dalam kerangka referensi Giddens, gagasan ini memberi cara yang bermanfaat untuk menunjukkan bahwa struktur adalah sumber daya yang bisa memberdayakan sekaligus membatasi masyarakat. Pada masa lalu, kebanyakan pandangan tentang struktur sosial terkonsentrasi pada ciri-ciri yang restriktif dan membatasi. Bagi Giddens hal ini jelas-jelas merupakan kekeliruan dalam memahami bagaimana kekuatan dan struktur beroperasi dalam kehidupan sosial. Memberi penekanan pada aspek negatif struktur sosial sama halnya dengan mengingkari potensi sosial manusia. Ini sama saja dengan mengklaim bahwa manusia tidak dapat memberikan penolakan secara refleksif dan tidak bisa menentang berbagai batasan ini secara aktif.

Barangkali masih bisa diperdebatkan jika dikatakan bahwa apa yang dilakukan Giddens di sini adalah merendahkan signifikansi faktor-faktor global maupun historis dari kehidupan sosial, dan ia terlalu melebih-lebihkan valensi dari praktek. Benar-tidaknya persoalan ini bukan tujuan dari pembahasan di sini, tetapi pertanyaan yang relevan adalah apakah pendapatnya tidak dengan sendirinya kembali memberi penekanan pada prioritas logis dari struktur. Connell (1987) sebagai contoh, berpendapat bahwa Giddens, dan juga Bourdieu, tidak mau membuka sedikit pun celah dalam diri mereka untuk “membiarkan sejarah masuk”. Walaupun pemikiran dualitas struktur dari Giddens membantu kita untuk sedikit mundur dari obsesi model-model kategoris hubungan sosial, Giddens sendiri tidak memberi cukup perhatian pada dampak praktek atas praktek. Pada kasus gender, sebagai contoh, bagaimana tingkat perceraian mempengaruhi praktek konselor perkawinan? Dan bagaimana praktek ini berhubungan dengan kebijakan pemerintah serta teori dan praktek feminis? Dalam pembelaan Giddens dikatakan bahwa strukturasi melibatkan introduksi refleksif itas terhadap batasan sosial yang sangat teratur.

Incoming search terms:

  • strukturisasi
  • pengertian strukturisasi

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • strukturisasi
  • pengertian strukturisasi