Advertisement

Aliran filsafat yang berkembang tahun 1960-an di Perancis. Sebagian tokohnya, termasuk Claude Levi-Strauss (1908- ), Jacques Lacan (1901-1981), Louis Althusser (1918- ), dan Michel Foucault (1926- ), sebenarnya tidak suka dengan sebutan strukturalisme. Mereka bukanlah filsuf dalam arti sempit, melainkan pakar di bidang ilmu-ilmu kemanusiaan.

Para penganut aliran ini berusaha menyamakan cara kerja ilmu-ilmu kemanusiaan dengan cara kerja ilmu pengetahuan lain, misalnya antropologi budaya, psikoanalisis, atau pun marxisme. Strukturalisme cenderung berusaha menolak beberapa gagasan fenomenologi dan eksistensialisme. Jika eksistensialisme bertitik tolak dari keunggulan kesadaran manusia sebagai pribadi dan menekankan kebebasan manusia, para strukturalis memungkirinya dan lebih menekankan adanya suatu determinisme (pembatasan).

Advertisement

Strukturalisme sangat dipengaruhi oleh pandangan dasar linguistik modern ciptaan Ferdinand de Saussu- re (1857-1913), terutama dari buku Course de linguis- tique generate (Kursus mengenai Linguistik Umum) yang terbit pada tahun 1916 setelah ia meninggal dunia. Dalam penyelidikannya, Saussure menemukan bahwa susunan bahasa tertentu ditentukan oleh macam-macam hubungan, termasuk suara, kata, atau kalimat yang menyebabkan bahasa itu bisa berdiri sendiri secara lengkap, bahkan secara “tertutup” tanpa adanya pengaruh dari luar gejala bahasa yang harus diandaikan, misalnya dari filsafat, sejarah, atau sosiologi. Singkatnya, bahasa bebas prasangka dari luar gejala bahasanya sendiri. Model linguistik ini dipakai para pakar yang ingin membebaskan ilmu-ilmu kemanusiaan dari kedudukannya yang khusus, terasing, dan terpencil. Memang linguistiklah satu-satunya ilmu yang berhasil membebaskan diri dari segala prasangka subjektif sampai menjadi ilmu pengetahuan yang sungguh-sungguh berswasembada. Manusia perseorangan pun harus tunduk kepadanya.

Levi-Strauss dalam karya-karyanya Tristes tropi- ques (1955, Daerah Tropika Yang Menyedihkan), Anthropologic structurale I – II (1958-1973, Antropologi Struktural), dan La pensee sauvage (1962, Pemikiran Liar) menunjukkan bahwa ciri-ciri khas susunan atau struktur masyarakat primitif sama dengan susunan masyarakat kita (dalam kebudayaan yang kita anggap sudah berkembang). Memang penjelmaannya lain tetapi tidak kurang atau lebih rendah. Menurut Levi-Strauss, manusia bukanlah makhluk yang harus dipelajari dari sudut masyarakat yang sudah maju di bidang teknik atau berdasarkan pengandaian-pengan- daian falsafi (sosiologis, keagamaan) yang terdapat dalam salah satu lingkungan budaya dan kemudian diterapkan pada kebudayaan lain. Sebaliknya, manusia harus dipelajari dari dalam. Artinya si penyelidik harus mengupas susunan dasar yang terdapat secara objektif, misalnya dalam bidang-bidang: membangun desa atau rumah, mengadakan pertukaran satu sama lain, meneruskan adat-istiadat, hubungan kekerabatan, makan, minum, masak, mengolah tanah; muncul dan berkembangnya mite; berlangsungnya kepemimpinan dan kekuasaan, dll. Dengan kata lain, gejala manusia harus dipelajari secara ilmiah tanpa berprasangka. Dalam segala lingkungan, kebudayaan manusia tak mungkin hidup bila tidak takluk pada suatu susunan dasar yang menyatakan diri di mana- mana. Manusia itu ditentukan (determined).

Jacques Lacan, seorang ahli psikoanalisis seperti Sigmund Freud, terutama dalam karyanya Ecrits (1966, Karangan-karangan) memperlihatkan bahwa manusia mau tak mau harus takluk kepada struktur bawah sadar sedemikian sungguh-sungguh sehingga telah diusir dari pusatnya, yakni pusat yang menurut anggapan ilmu-ilmu kemanusiaan justru merupakan inti kesadaran atau kehendak manusia pribadi dan perseorangan; kebebasan tidak ada. “Bukan saya yang bicara, ada yang bicara dalam diri saya (it speaks in me), yakni sesuatu yang tidak saya tentukan dan yang tidak saya kuasai”.

Walaupun Louis Althusser menolak sebutan struk- turalis bagi dirinya, tak dapat disangkal bahwa terdapat persamaan tertentu antara beberapa pemikirannya dan prinsip-prinsip dasar strukturalisme. Dalam buku Pour Marx (1965, Demi Marx) dan Lire le Capital I – II (1965, Membaca Das Kapital), Althusser berpendapat bahwa ajaran Marx yang paling mantap dan matang yang terdapat selama masa hidup dan perkembangannya sudah mengatasi humanismenya dari se mula, yaitu ajarannya dalam Das Kapital. Selang masa itu Marx mengemukakan bahwa manusia sema ta-mata tunduk kepada hukum-hukum perkembangan ekonomi sehingga manusia secara keseluruhan diten tukan dari luar.

Karena terbitnya buku Les mots et les choses. (Jne archeologie des sciences humaines (1966, Kata-kata dan Benda-benda. Sebuah Arkeologi tentang Ilmu-ilmu Manusia) bersamaan dengan masa kejayaan strukturalisme, segera orang mengaitkan Michel Foucault dengan aliran ini. Bahkan ia dipandang sebagai seorang strukturalis paling radikal walaupun ia dengan tegas menolak penggolongan dia ke dalam aliran ini. Michel Foucault mempelajari perkembangan pengetahuan manusia serta segala pengandaian yang terkandung di dalam semua corak pengetahuan yang berturut-turut menampilkan diri selama perkembangan itu. Inti penyelidikannya adalah bahwa ilmu- ilmu tentang manusia (termasuk juga yang empiris) yang berangsur-angsur muncul dalam sejarah pemikiran modern memuat biji penghancur objeknya, yaitu manusia, yang sudah bukan merupakan kategori istimewa lagi melainkan sebagai objek ilmu pengetahuan yang seharusnya disamakan dengan objek-objek yang lain. Akibatnya, setelah pada akhir abad ke-19 “kematian Allah” diproklamasikan (oleh Nietzsche), dewasa ini menyusullah “kematian manusia”.

Di samping itu dicoba penerapan asas-asas strukturalisme pada banyak bidang lain seperti sastra dan dunia seni pada umumnya.

Dari seluruh uraian, mengenai strukturalisme dapat dikatakan bahwa aliran ini mengesampingkan atau menyingkirkan tiga hal yang menonjol dalam perkembangan filsafat Barat modern, yakni subjektivitas, humanisme, dan sejarah.

Advertisement