Advertisement

structuralism (strukturalisme)

Sejak 1940-an istilah strukturalisme digunakan secara umum untuk pendekatan tertentu (bukan mazhab atau dogma), khususnya di dalam linguistik, antropologi sosial dan psikologi. Meskipun ada beberapa perbedaan mengenai cara-cara penerapannya di dalam disiplin-disiplin tersebut, dan perbedaan penggunaan di Eropa dan Amerika, namun pada umumnya mengacu pada tipe riset di mana obyek investigasi tersebut dipelajari seba-gai sebuah sistem. Karena sebuah sistem adalah “seperangkat beberapa unsur atau bagian yang saling berhubungan” (Oxford English Dictionary) maka studi ini perlu berkon-sentrasi pada hubungan antara elemen-elemen yang membentuk sistem tersebut; di dalam kali-mat Dummont (1970 [1966]):

Advertisement

Kita berbicara tentang struktur secara eksklusif … ketika interdependensi elemen-elemen sistem adalah sangat besar sehingga elemen-elemen tersebut akan hilang tanpa bekas apabila sebuah inventori dibuat dari hubungan di antara mereka; singkatnya, sistem relasi bukan sistem elemen.

Ferdinand de Saussure (1931 [1916]), yang dianggap sebagai pendiri linguistik struktural, membuat perbedaan dasar antara studi bahasa sebagai parole (pembicaraan, yaitu, bahasa yang dihasilkan dari individu yang berbicara) dan bahasa sebagai langue: sebagai sebuah sistem. Sistem tersebut merupakan hal yang esensial, sedangkan parole adalah “bersifat kontingen dan kurang lebih bersifat kebetulan.”

Kaum strukturalis yang menekankan pada relasi antara elemen-elemen di dalam sistem telah muncul dalam diskusi dari, misalnya, Saussure tentang nilai (valeur) dari kata:

nilai dari kata-kata dalam bahasa yang mengekspresikan ide-ide yang sama membatasi ruang lingkup satu sama lain. Nilai sinonim, seperti “fear,” “to dread’ atau “to be afraid of sepenuhnya ditentukan oleh oposisi mutual. Jika to dread (takut) tidak ada, maka maknanya akan diadopsi oieh yang lainnya.

Bidang yang paling banyak dikembangkan oleh ahli bahasa yang belakangan adalah fonetik struktural, biasanya dinamakan “fonologi” di Eropa dan “fonemik” di Amerika. Maksud dari fonetik, sebagai disiplin parole, adalah memberikan deskripsi yang paling akurat mengenai suara pembicaraan; fonologi, pada tingkat langue, terkait dengan persoalan suara manakah yang berfungsi sebagai fonem, atau dengan kata lain, unit terkecil yang membedakan makna kata. Jadi yang menjadi perhatian ahli fonologi bukan apakah ada perbedaan fonetik antara suara ‘p’ bahasa Inggris di dalam pin, prone, up, dan sebagainya. Yang diperhatikan adalah bahwa oposisi antara, misalnya, -p- dan -b-, -d-, -f-, membuat perbedaan antara kata dengan makna yang berbeda seperti pin dan bin serta din dan pin dan fin, dan sebagainya, yakni, -p- di dalam Inggris adalah sebuah fonem.

Roman Jakobson mengembangkan sebuah cara untuk menentukan apa saja yang membedakan masing-masing fonem, yaitu, apakah “ciri-ciri khusus” dari setiap fonem: “Ciri-ciri khusus yang inheren yang sejauh ini telah ditemukan di dalam bahasa-bahasa di seluruh dunia … berjumlah dua belas oposisi, yang dari oposisi itu setiap bahasa menentukan pilihannya” (Jakobson dan Halle 1971). Oposisi-oposisi dasar ini adalah, misalnya, vokal versus non-vokal, pendek dan panjang, bersuara dan tanpa suara, dan sebagainya. Pendekatan ini biasanya bersifat struktural, karena mendefinisikan fonem sebagai elemen di dalam sistem, dengan mempertimbangkan apa yang membedakan setiap elemen dari elemen lainnya, yaitu, dengan memperhatikan relasi antar elemen. Dalam hal ini hubungan tersebut merupakan tipe yang paling dasar: oposisi biner. Tidak mengherankan bahwa metode linguistik ini membuat ahli antropologi struktural Levi-Strauss terkesan. Aspek lain dari analisis ciri-ciri khusus ini lebih banyak dipengaruhi oleh Levi-Strauss ketimbang antropolog lainnya. Aspek tersebut adalah kemampuan penerapan universalnya: aspek ini mengacu pada, seperti yang telah kita lihat, “bahasa dunia.”

Dua konsep lain yang diambil antropologi dari linguistik struktural adalah hubungan “sintagmatik” dan “paradigmatik.” Elemen-elemen di dalam bahasa, misalnya, kata-kata di dalam kalimat, diatur menurut urutan tertentu, dan membentuk rantai sintagmatik. Rangkaian paradigmatik (atau dalam terminologi Saussure yang telah usang, “asosiatif”) mengandung elemen-elemen, -asal-nya, kata-kata, yang sejajar dalam satu aspek atau lebih. Sebagai contoh, “tidak dapat diampuru impardonable), tak dapat ditoleransi (intolerable). tak kenal lelah (indefatigable)” dan “mengajar (teach), pengajar (teacher), pelajaran (taught),’ adalah dua rangkaian paradigmatik (de Saussure 1931). Konsep ini telah diterapkan, sekali lagi khususnya oleh Levi-Strauss, dalam menganalisis mitologi. Peristiwa yang diceritakan di dalam setiap mitologi membentuk rantai sintagmatik, sedangkan peristiwa dan orang yang muncul di dalam mitologi, atau corpus legenda, dapat dipalajari sebagai anggota rangkaian paradigmatik.

Tampaknya mustahil Saussure tidak mengenal karya-karya Emile Durkheim yang sangat berpengaruh pada masa itu. Durkheim dapat dianggap sebagai salah seorang bapak pendiri sosiologi modem dan antropologi sosial mungkin juga berasal darinya, dan rekan sejawatnya. yang terlibat di dalam jurnal Annee Sociobique. serta murid dan penggantinya. Marcel Mauss. Contoh karya dari mazhab ini adalah publikasi bersama dari Durkheim dan Mauss “De queiques formes primitive de la classification.” Kalimat pembuka dari artikel yang panjang ini tampak merupakan ciri khas aliran mazhab ini.

Psikologi kontemporer telah memperlihatkan betapa rumitnya kegiatan mental yang dipermukaan tampak sederhana, tetapi “kegiatan ini … jarang dilakukan secara logis sebagaimana kegiatan-kegiatan lainnya.” Pengarang (Durkheim dan Mauss) kemudian menunjukkan kegiatan logis di dalam beberapa masyarakat non-barat dengan menggambarkan sistem klasifikasi teritorial

Telah menjadi aturan umum di daiam masyarakat totemik bahwa kelompok konstituen kesukuan, yaitu salah satu dari dua subdivisi utama di dalam beberapa suku (moiettf, klan, sub-klan, mengatur sektor teritorial yang masing-masing di antara mereka mendapat tempat sesuai dengan hubungan sosial di antara mereka dan sesuai dengan kesamaan dan perbedaan antar fungsi-fungsi sosialnya.

Sebagai contoh, ketika semua suku Wotjoballuk di New South Wales disatukan (secara temporer) di dalam satu teritori tertentu, salah satu dari kelompok suku utama (moiety) selalu menempati sisi utara, sedang yang lainnya berada di sisi selatan. Dua klan dengan matahari sebagai totem mereka menempati sebelah timur, dan sebagainya.

Karya dari mazhab Perancis inilah yang menjadi inspirasi dan contoh bagi antropolog (amatir dan profesional) yang masuk di pusat antropologi struktural yang tetap aktif, yakni Mazhab Belanda. Karya-karya awal mereka (kira-kira tahun 1950-an) biasanya berdasarkan data dari Indonesia. Mereka mengamati keteraturan atau sistem sebagaimana sistem tersebut tampak dalam tindakan, kata dan karya dari anggota masyarakat yang diamati ini merupakan hal yang umum untuk semua antropologi sosial. Tetapi para penulis Belanda generasi awal, seperti dicontohkan oleh Anne Socioloque, lebih berkonsentrasi pada “ketertiban” ketimbang pada “aturan”; dan berkonsentrasi pada struktur yang diketahui oleh partisipan sosial dan yang sengaja dibangun. Selain itu para strukturalis abad ke-19 dan awal abad ke-20 di kedua negara tersebut di atas sama-sama berpandangan bahwa struktur sosial merupakan model bagi semua sistem klasifikasi lainnya. Dari studi klasifikasi teritorial, riset struktural dari Belanda menyentuh sampai prinsip struktural,khususnya oposisi biner, di dalam kultur material, teater tradisional, dan mitologi di Jawa. Akan tetapi pada tahun 1930-an sistem kekeluargaan dan perkawinan menjadi fokus perhatian. Sebuah penemuan besar adalah berulangnya peristiwa “connubium asymmetric” (perkawinan asimetris), sebuah sistem di mana perkawinan antar individu diatur sedemikian rupa sehingga mereka menyesuaikan diri dengan hubungan perkawinan reguler antar golongan (klan atau segmen klan): golongan pertama selalu bertindak sebagai “pemberi pengantin” untuk golongan kedua, sedangkan kelompok “penerima pengantin” ini memberikan wanita kepada lelaki di dalam pihak ketiga dalam perkawinan (de Jos- selin de Jong 1977).

Claude Levi-Strauss adalah eksponen terkemuka dari antropologi struktural. Karya besarnya yang pertama (1969 [1949)) mungkin dapat disebut sebagai penemuan kembali dari perkawinan asimetris (yang ia sebut dengan istilah echange generalise), namun ia menempatkannya dalam konteks yang lebih luas dan mendalam: secara etnografis dengan menggunakan bahan-bahan dari Siberia, Cina. India, Asia Selatan dan Australia, dan, terutama sekali, secara teoretis dengan membuat sistem exchange yang menerangkan konsep incest dan exogamy, dan menerangkan pertentangan antara “alam” dan “kultur,” yangkemudian menjadi hal yang fundamental di dalam semua karya berikutnya.

“Di dalam bahasa hanya ada perbedaan” (de Saussure 1931 [1916]); Levi-Strauss menerapkan sudut pandang struktural yang khusus ini di dalam bukunya yang membahas tentang totemisme (1962 [1962]). Totemisme tidak berhubungan dengan setiap klan dengan satu spesies binatang tertentu sebagai leluhur totemiknya, tetapi terdiri dari klasifikasi dunia binatang, berdasarkan “ciri- ciri khusus” dari masing-masing spesies, dan klasifikasi klan berdasarkan basis yang sama. Ketika dua sistem klasifikasi ini diasosiasikan satu sama lain, maka hasilnya adalah totemisme (1962). Studi Levi-Strauss tentang fenomena kultural sebagai sebuah sistem variasi mencapai puncaknya di dalam karyanya sebanyak empat volume, Mythologiques (1970-9 [1964-71]).

Mitologi atau legenda adalah manifestasi paling murni dari La Pensee sauvage (1966 [1962]): pemikiran yang, berlawanan dengan “pemikiran yang telah ditaklukkan,” tidak bermaksud untuk mendapatkan hasil praktis namun berusaha untuk memecahkan persoalan sebagai suatu tujuan di dalam dirinya sendiri. Masalah yang dibahas di dalam 813 mitologi Indian Amerika Utara dan Selatan yang dianalisa di dalam Mythologiques pada prinsipnya adalah: Mengapa manusia menyiapkan makanan sedangkan hewan tidak? Mengapa kita dapat melepas pakaian dan perhiasan kita, dan menukarnya dengan kelompok asing lainnya, sedangkan hewan tidak? Bagaimana ha! ini bisa terjadi? Dengan kata lain, masalah kultur versus alam.

Dalam menganalisa mitologi, aturan dasar untuk para peneliti adalah menghindari “mitemologi,” yaitu interpretasi setiap tokoh mitologi atau peristiwa mitologi secara terpisah (misalnya menafsirkan heroin yang “berarti” kesuburan, perjalanan dengan kapal “berarti” panjang umur, dan lain sebagainya). Jadi. sekali lagi, yang esensial di sini bukan elemen, tetapi hubungan antar elemen (misalnya, kadal, binatang melata, bertentangan dengan buaya air; karena itu mereka juga dalam hubungan yang bertentangan dengan pahlawan manusia; pahlawan dari Dongeng 1 mengejar kadal, pahlawan Dongeng 124 dikejar oleh buaya).

Dengan cara yang sama, sebuah dongeng tidak pernah bisa dipahami secara terpisah, tetapi harus dipelajari di dalam hubungannya dengan dongeng lainnya. Semua dongeng Indian Amerika di dalam buku tersebut dianggap sebagai variasi versi satu dongeng dengan dongeng lainnya, yang terkait bersama melalui “transformasi.” Jadi dapat dikatakan kita tidak membandingkan dongeng ketika, dan karena, dongeng atau mitologi itu sama, tetapi karena perbedaannya: korpus dongeng, seperti bahasa, adalah sistem perbedaan bahkan kadang-kadang sistem oposisi yang sempurna.

Levi-strauss menggunakan metode yang sama di dalam La Voiedes Masques(1975). Sebuah tipe topeng tertentu yang dipakai oleh Indian Salish dari Kolombia merupakan titik awal studi perban-dingan topeng di dalam kawasan yang sama: dapat dibandingkan, bukan berdasarkan kesa-maan, tetapi berdasarkan “transformasi sistematis”. Bagian II dari buku ini membahas Dzonokwa, sebuah tipe topeng yang bertentangan dengan topeng Salish dalam semua aspeknya: dalam bentuk dan warna, fungsi ritualnya dan penampilannya, di dalam kisah tentang asal-usulnya, dan cara topeng itu dibuat dan diwariskan. Dengan memperkenalkan konsep transformasi Levi-Strauss telah menambahkan dimensi baru untuk studi perbandingan secara umum, dan menghidupkan kembali antropologi komparatif. Juga, berlawanan dengan kaum strukturalis Belanda dan Perancis generasi awal, ia tidak membatasi penelitiannya pada struktur yang disadari oleh partisipan kulturalnya. Sebaliknya, seringnya ia merujuk kepada” structure inconsciente de l’esprit hui nairi” menandakan minat khususnya tidak hanya kepada struktur ketidaksadaran tetapi juga pada prinsip struktur dasar yang tidak hanya bersifat kultural semata tetapi (mungkin) juga struktur dari peristiwa universal.

Di luar lingkaran antropologi ini ada kecen-derungan untuk menyamakan antropologi struktural dengan Levi-Strauss; ini miskonsepsi yang populer. Adalah sangat jelas bahwa, sementara Levi-Strauss mempunyai kecenderungan untuk mempelajari produk dari “struktur tidak sadar dari pikiran manusia” sebagai sebuah sistem tertutup, tujuan dari kebanyakan rekan-rekannya dari Perancis adalah menghubungkan struktur konseptual dengan masalah sosial. Georges Balandier menunjukkan bahwa tiga oposisi biner (pria-wanita, tua-muda, superior-inferior) seringkah menjadi basis konflik. Roger Bastide menerapkan pandangan antropologi struktural untuk masalah-masalah di negara-negara berkembang. Louis Diamond (1970 [1966]) menunjukkan perbedaan fundamental antara kesenjangan dan hirarki; hirarki dicontohkan oleh India, karena sistem kasta terutama sekali adalah sistem ide dan nilai, sistem rasional, formal dan dapat dipahami.” Maurice Godelier membahas faktor ekonomi yang sebelumnya diabaikan oleh strukturalisme, dan karenanya ia berhasil membuat sintesis antara strukturalis dan antropologi Marxis. Meskipun Roland Barthes juga dapat disebutkan di dalam konteks ini, karena ia mempelajari “efek mitologi” terhadap masyarakat barat modern, prestasi besarnya adalah perbandingannya antara dongeng sebagai bahasa dan bahasa alam, dan karenanya memperbaiki penggunaan asosiasi antara linguistik struktural dan antropologi. Georges Condominas memimpin riset dari Pusat Studi Asia Tenggara dengan topik l’espace social, yaitu, klasifikasi teritorial.

Dikalangan antropolog Inggris ada beberapa orang yang karyanya bersifat struktural, meskipun mereka mungkin tidak menamakan diri mereka sebagai strukturalis. Dalam pandangan tradisi antropologi sosial Inggris tidaklah mengejutkan bahwa kecenderungan, yang telah dibahas dalam hubungannya dengan keiompok Perancis, juga muncul di dalam publikasi strukturalis Inggris, walaupun dalam bentuk yang berbeda.

Karya-karya Rodney Needham tentang aliansi antar sepupu matrilateral berangkat dari posisi yang dekat dengan Les structures elementaires de la parente karya Levi-Strauss, tetapi sangat berbeda dengan pengantar konsep aliansi “preskriptive” dan “preferential.” Posisi E. R. Leach bergerak dalam arah yang berlawanan: awalnya sangat kritis terhadap Structures (yang ia sebut dengan sebuah “kesalahan yang baik”), namun kemudian bertambah simpati terhadap pandangan Levi-Strauss di dalam publikasinya yang belakangan mengenai dongeng dan sistem kepercayaan. Meskipun salah satu buku terbaik dari Mary Douglas (1966) dapat dianggap bersifat “Levi-Starussian,” namun konteks sosial (dalam bentuk tekanan yang dikenakan kepada seorang individu oleh “kelompok” atau “jaringan” masyarakat) memainkan peran yang dominan di dalam karyanya yang belakangan (Douglas 1970). Karya-karya utama dari Victor Turner berhubungan dengan ritual. Levi-Strauss jarang sekali membahas masalah ini, mungkin karena ritual, berdasarkan sifatnya, juga dipelajari sebagai tingkah laku secara sosial. Turner mencurahkan sebagian besar perhatiannya kepada aspek ini, misalnya, dalam kasus “ritual penderitaan.”

Dari kaum strukturalis yang berada di luar linguistik dan antropologi, tokoh yang paling menonjol adalah psikolog Jean Piaget, ahli sejarah Fernand Braudel, dan anggota kelompok Annates lainnya. Sebagai seorang strukturalis, Piaged terkenal karena perhatiannya pada pengaturan diri sendiri sebagai sebuah karakteristik dari struktur. Braudel sangat dekat dengan Levi-Strauss ketika ia mengakui structures sebagai salah satu dari tiga tipe sejarah, yakni sejarah de langue duree, di mana partisipan di dalam peristiwa tersebut tidak sadar akan hal tersebut.

Incoming search terms:

  • peekawinan aliansi antropologi
  • structualism arti indonesia

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • peekawinan aliansi antropologi
  • structualism arti indonesia